Karma dan Punarbawa Bagaikan Roda Kehidupan

"Tas mad asaktah satatam karyam karma samacaram asakto hy acaram karma param apnoti purusah"

Artinya:

Oleh karena itu, tanpa keterikatan, lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan, karena dengan malakukan kerja tanpa pamrih, membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi. (Bhagavad Gita III, 19).

Agama Hindu yang bersumber pada kitab suci Veda, memberikan tuntunan berbagai aspek kehidupan bagi umat, dalam mengarungi samudra mayapada yang penuh dengan berbagai tantangan dan kesulitan hidup. Veda merupakan himpunan wahtu Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi pedoman bagi umat Hindu, karena meyakini bahwa penjelmaan sebagai manusia merupakan kesempatan emas untuk memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik, lebih mulia dan lebih sempurna. Bila manusia tidak berupaya memperbaiki diri, tidak mampu meningkatkan kwalitas dirinya, maka mereka akan kembali menjelma ke dunia fana ini, tumimbal lahir berulang kali yang disebut dengan Punarbhawa atau inkarnasi.

Manusia hidup ditandai dengan adanya gerak, adanya aktivitas kegiatan yang dilakukan terus menerus secara berkesinambungan. Tanpa kegiatan dan tanpa kerja manusia tidak hidup, dengan demikian manusia hidup harus berbuat, berkarya yang dalam konsep agama Hindu disebut karma. Perbuatan manusia di dunia ini dibedakan menjadi dua bagian yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk. Bila perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang baik disebut subha karma, sedangkan perbuatan yang buruk disebut asubha karma.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering lupa akan jati diri dan misi penjelmaan pada kehidupan sekarang, karena pikiran selalu hanya terarah untuk hal-hal yang bersifat rutin. Sepertinya kita tidak punya waktu untuk merenungkan diri, mengapa kita hidup, dan berada di dunia maya ini. Mengapa ada orang hidup dalam kemewahan, bergelimang dengan harta benda, sementara yang lainnya hidup dalam kemiskinan dan penuh dengan penderitaan, apakah Tuhan yang kita puja itu pilih kasih kepada umatnya?

Konsep agama Hindu menjawab pertanyaan tersebut, bahwa segala sesuatu tergantung dari karma masa lalu, yang disebut karma wasana, dan bagaimana pada kehidupan sekarang kita berupaya untuk dapat meningkatkan kwalitas diri lahir dan bathin. Kewajiban manusia adalah menjadi pemain dan pelaku sandiwara dengan baik, dari sang sutradara agung yakni Tuhan seru sekalian alam.

Bagaimanakah Karma Dibentuk

Manusia memiliki 3 sifat dasar yang disebut Tri Guna yaitu sattwam, rajas, dan tamas. Sattwam adalah sifat bijaksana, mulia, luhur yang dapat mengantarkan manusia untuk berprilaku baik. Rajas adalah sifat energik gerak dinamis, cepat cekatan yang dapat mengantarkan manusia hidup penuh semangat, ingin maju dan mendapatkan segala sesuatu dengan cepat dan lebih besar. Sedangkan tamas adalah kebaikan dari rajas, yaitu sifat pasif, pemalas, dungu dan gerak lamban. Ketiga sifat dasar tersebut di atas akan membentuk karma manusia, tergantung sifat mana yang dominan mempengaruhi pikiran manusia. Bila sattwam yang dominan maka seorang akan menjadi arif bijaksana, santun dan berbudi pekerti luhur. Sebaliknya bila rajas atau tamas yang dominan maka prilaku seseorang menjadi aktif atau pasif dan seterusnya.

Disamping Tri guna manusia memiliki 3 sifat didalam dirinya yaitu iccha, jnana dan kriya. Iccha adalah keinginan yang senantiasa berkembang berkesinambungan tidak ada habisnya dan tidak ada puasnya. Jnana adalah pengetahuan atau tahu tentang segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Sedangkan kriya berarti kehendak atau kemauan. Keinginan, pengetahuan dan kehendak selalu berjalan bersama-sama bagaikan tiga atas utas benang yang dipintal menjadi tali yaitu tali karma. Karma menghasilkan buah berupa kesenangan atau penderitaan, dan wasana menyebabkan seseorang harus lahir berulang kali, untuk dapat memetik buahnya. Demikianlah karma dibentuk yang merupakan satu hukuman alam, sehingga secara umum disebut hukumkarma.

Tiga Dimensi Karma

Karma dapat ditinjau dari tiga dimensi yaitu dimensi sifat, bentuk dan kurun waktu berlangsungnya karma. Diminsi sifat karma terbagi menjadi 2 yaitu yang bersifat baik dan bersifat buruk. Seperti tersurat dalam kitab (Sarasamuccaya 2) sebagai berikut:

"Sebab diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia itulah yang dapat melaksanakan perbuatan baik atau buruk; leburlah kedalam perbuatan baik seluruh perbuatan buruk itu; demikian gunanya menjadi manusia".

Dari sloka tersebut di atas, secara jelas kita dapat menyimak bahwa hanya manusia yang dapat melakukan perbuatan baik maupun perbuatan buruk, walaupun kewajiban kita melebur perbuatan buruk kedalam perbuatan baik, pada kenyataan yang ada sekarang malah sebaliknya, yaitu kecendrungan melakukan perbuatan buruk.

Bentuk karma dibedakan menjadi tiga yaitu dalam bentuk pikiran, ucapan dan perbuatan. Walaupun baru dalam pikiran, sudah merupakan satu aktifitas karma, karena pikiran merupakan bentuk awal dari sebuah karma. Sebagaimana disebutkan dalam Slokantara "Yadiastun ring angen-angen mapala juga ya". Walaupun hanya dalam angan-angan (pikiran) berpahala juga ia. Kata-kata adalah bentuk karma yang lebih nyata dari pikiran, karena sudah dapat diketahui kebenarannya melalui pendengaran. Kendati hanya berbentuk ucapan, sudah dapat membawa seseorang kedalam kebahagiaan maupun kedalam penderitaan. Bentuk lain adalah perbuatan, lebih konkrit dari ucapan yakni berbentuk pola prilaku. Gerakan seluruh organ tubuh yang ada pada badan jasmani atau angga sarira. Tiga bentuk karma harus diupayakan penyuciannya, agar kita dapat memetik buah (phala) jang baik, melalui Tri Kaya Parisudha.

Dari dimensi waktu dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu Sancita, Prarabdha, dan Kryamana atau Agami. Sancita adalah semua timbunan karma masa lalu, yakni perbuatan yang dilakukan pada kehidupan yang lahu berupa karakter manusia, kecenderungan-kecenderungan yang ada, kemampuan dan keinginan. Prarabda adalah bagian dan karma masa lalu yang harus dipertanggung jawabkan tubuh pada kehidupan sekarang ini. Sedangkan Kryamana adalah karma yang telah dimulai dan sedang berjalan atau dibuat pada kehidupan sekarang untuk masa yang akan datang.

Dalam kepustakaan Wedanta terdapat ilustrasi yang indah, sebagaimana dikutip berikut ini:
"Seorang pemanah baru saja melepaskan sebatang anak panah, dan telah mengistirahatkan tenaganya. Ia tidak dapat menarik kembali anak panah tersebut, kemudian ia akan melepaskan anak panah yang lainnya. Kumpulan anak panah dalam tamblig (wadah) panah dalam punggungnya adalah Sancita, anak yang telah dilepas adalah Prarabdha, dan anak panah yang baru dilepas adalah Kryamana.

Bebas Dari Karma

Karma dengan Ahangkara atau keakuan akan membawa manusia pada kelahiran kembali atau punarbhawa, dan juga akan menimbulkan karma baru sementara yang lama dibuang. Bagaimana kita dapat membebaskan diri dari karma? Bebas dari karma merupakan cita-cita dan tujuan luhur dari kehidup¬an manusia yang mempunyai kesa¬daran. Apabila kita menginginkan pembebasan dari kesengsaraan timimbal akhir, ada satu jalan atau cara yaitu bekerja tanpa pamrih.

"Tasmat Asaktah Setatam Karyam Karma Samacaram, Asakto Hy Acaram Karma Param Apnoti Purusah".

Artinya : "Oleh karena itu, tanpa keterikatan lakukanlah selalu kegiatan kerja yang harus dilakukan, karena dengan melakukan kerja tanpa pamrih membuat manusia mencapai tingkatan tertinggi. (Bhagavadgita III. 19). Bekerja tanpa pamrih tidak akan mengikatmu, bahkan akan memurnikan hati dan pikiran yang benar, berbuatlah yang mulia. Bermeditasilah secara teratur dan capailah kebahagian abadi.

Punarbawa

Ajaran tentang kelahiran kembali atau timimbal akhir disebut Punarbawa. Inkarnasi atau perpindahan jiwa merupakan ajaran dasar dari Hinduisme. Perkataan reinkarnasi secara arkiah artinya penuh perwujudan kembali, datang lagi pada satu perwujudan badan kasar yakni Angga Sarira. Didalam diri manusia mengandung berbagai kemungkinan yang tak terbatas. Dan tidak akan berhenti ada sesudah kematian, karena sebelum kelahiran ini, kita telah melewati kehidupan yang tidak terhitung banyaknya. Didalam Bhagavadgita Sri Krsna bersabda:

"Wahai Arjuna baik engkau maupun aku memiliki banyak kelahiran sebelumnya; hanya aku tahu sedangkan engkau tidak. Kelahiran pasti diikuti oleh kematian dan kematian diikuti oleh kelahiran kembali. Seperti seseorang telah melepaskan baju yang telah usang dan mengenakan baju yang baru, demikianlah penghuni badan, membuang, badan yang usang dan memasuki badan yang baru lainnya".

Ungkapan di atas memberikan gambaran yang jelas bagi kita bahwa ajaran punarbawa merupakan suatu akibat yang pasti dari hukum karma. Perbedaan yang diketemukan antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain ditentukan oleh masing-masing perbuatan masa lalunya. Dengan menyadari penjelmaan ini serta kesadaran Sang Hyang Atman yang terbelenggu oleh badan, maka hendaknya seseorang senantiasa menyucikan hidupnya, berpegang teguh pada nilai-nilai moralitas yang mengacu pada ajaran kitab suci Weda selanjutnya Sarasamuccaya menegaskan sebagai berikut:

"Kesimpulannya, 'pergunakanlah dengan sebaik-baiknya kesempatan menjelma menjadi manusia, Kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga untuk pergi ke sorga, segala sesuatu
yang menyebabkan agar tidak jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan'".

Source: Sutha Yasa l Warta Hindu Dharma NO. 451 Agustus 2004