Dalam sistem pendidikan terlibat beberapa unsur. Tujuan, sumber, materi, metode, media, evaluasi, dan pengembangan pendidikan merupakan unsur-unsur utama yang menjalin hubungan antara guru dan murid. Dalam sistem pendidikan konvensional peranan guru tidak dapat dihindarkan. Agama Hindu mengakui bahwa guru memegang peranan penting dalam sistem pendidikan.
Tiga ukuran yang digunakan untuk mengukur kesempurnaan pemahaman disebut dengan Tri Pramana. Bahwa pemahaman akan sempurna bila mendapat sentuhan guru (gurutah), di samping dengan membaca sastra (sastratah), dan pengalaman sendiri (swatah). Peranan guru identik dengan peranan pengembangan pikiran. Bahwa pemahaman akan sempurna bila ditempuh dengan pengembangan pikiran (logika), di samping dengan pembacaan ajaran suci (wedika), dan pengalaman batin (adhyatmika). Rumusan lain juga menyebutkan hal yang sama. Bahwa penyempurnaan pemahaman dapat ditempuh melalui pergulatan pikiran (anumana) di samping melalui pembacaan buku suci (agama), dan pengamatan langsung (pratyaksa).
Tidak mengherankan jika agama Hindu mengajarkan sikap hormat kepada guru di semua lingkungan pendidikan. Secara ideal diajarkan agar hormat kepada empat macam guru. Orang tua sebagai guru di rumah (guru rupaka/guru reka), guru di sekolah (guru pangajian), pemerintah (guru wisesa), dan Sang Hyang Widhi sebagai penentu takdir melalui pengalaman sendiri (guru swadhyaya). Sedangkan secara formal dan non formal diajarkan agar hormat kepada guru dalam bentuk taat kepada pemerintah (prabhu), orang tua (rama), dan orang suci (resi). Ketiga inilah yang dimuliakan sebagai guru formal dan non formal (tri kang sinanggah guru).
Tidak sedikit ceritera Hindu yang memuat ajaran tentang sikap hormat kepada guru (gurubhakti) yang diwujudkan dengan pengabdian kepada guru (guruyaga), dan pemberian kepada guru (gurudaksina). Seperti dalam ceritera Bhagawan Domya dengan tiga orang muridnya (Sang Arunika, Sang Utamanyu, dan Sang Weda); Bhagawan Weda dengan Sang Utangka; Bhagawan Sukra dengan Sang Kaca. Penghormatan kepada guru bukan hanya dilakukan dalam kehidupan melainkan juga pada kematian. Sehingga dalam upacara kematian (ati-wa-tiwa) muncul sesajen yang dinamakan pangguruyagan.
Pada jaman dahulu tidak mudah orang mendapatkan guru untuk memperoleh pengetahuan. Banyak halangan yang menghadang harus ditangani terlebih dahulu. Termasuk status dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti yang dialami oleh Karna sebagai anak muda yang gigih memburu guru untuk mendapatkan pengetahuan.
Karna yang dilahirkan dari rahim seorang gadis bernama Kunti yang hamil di luar nikah menyebabkan ia kehilangan kesempatan untuk hidup di lingkungan istana sebagai seorang pangeran dengan hak-hak istimewa untuk memperoleh segala macam pengetahuan termasuk pengetahuan tentang senjata.
Karna yang memiliki potensi kedewataan sebagai restu dari Dewa Surya terdampar dalam kehidupan seorang kusir kereta bernama Adirata dengan istrinya bernama Radha sehingga ia mendapatkan namanya sebagai Radheya. Karna sebagai anak kusir kereta menghadapai kesulitan besar dalam usahanya untuk mendapatkan pengetahuan. Tergambar dari usahanya yang gigih dalam memburu seorang guru bernama Bhagawan Rama Parasu.
Bhagawan Rama Parasu terikat sumpah bahwa beliau tidak akan menerima murid selain kaum brahmana. Karena beliau pernah kecewa besar ketika mempunyai murid dari kaum ksatriya. Nasihat beliau ditolak oleh muridnya dari kaum ksatriya bernama Bhisma yang berhati keras dalam berpegang teguh pada sumpah. Ketika Bhisma dikejar-kejar oleh Dewi Amba maka Bhagawan Rama Parasu memberi nasihat kepada Bhisma agar berkenan menerima Dewi Amba sebagai istrinya. Tetapi Bhisma menolak dengan alasan berpegang teguh pada sumpah tidak akan beristri selama hidup (sukla bhrahmachari).
Karna menyiasati halangan ini dengan menyembunyikan identitas sebagai anak kusir kereta lalu menampilkan diri sebagai kaum brahmana. Siasat ini berhasil sehingga ia mendapat kesempatan menyerap segala ilmu persenjataan dari Bhagawan Rama Parasu dengan hasil gemilang. Tetapi penampilan semu ini kentara juga pada akhirnya. Sehingga Bhagawan Rama Parasu mengutuk Karna agar tidak mencapai kesempurnaan dalam penerapan segala pengetahuannya. Karna meninggalkan asrama sebagai lulusan yang memiliki prestasi gemilang tetapi tanpa predikat kelulusan istimewa karena identitas semu yang menodai proses pendidikannya.
Pada saat menerapkan pengetahuannya Karna kembali menghadapi kesulitan yang sama. Prestasinya yang gemilang dalam persenjataan tidak diakui oleh masyarakat feodal Hastina hanya karena ia seorang anak kusir kereta. Syukur pangeran Duryodana berkenan menerimanya sebagai seorang teman sejawat dan mengangkatnya menjadi raja di negeri Anggawisaya.
Pada jaman sekarang kesulitan untuk mendapat pengetahuan secara formal kembali menjelma. Bukan lagi karena status sosial melainkan karena status ekonomi. Sesuai dengan irama pada jaman Kali maka sumber kesulitan untuk mendapatkan kesarjanaan adalah pada masalah ketersediaan uang. Maka barang siapa yang dapat meniru Karna dalam memburu guru maka ia akan mendapat harapan untuk menduduki jabatan pada masa depan.
Oleh: I Putu Gede Suata
Source: Wartam Edisi 15, Mei 2016