Aham Bhumin Adadam Aryaya Aham Vsrthim Dasure Martyaya,
Aham Apo Anayam Vavasana Mama devaso Anu Ketamayam
(Rgveda IV.26.2)
Artinya:
Aku anugrahkan bumi ini kepada orang mulia Aku turunkan hujan bermanfaat bagi mahluk
Aku alirkan terus gemuruhnya air dan hukum alam untuk kepada perintah Ku
Makna seloka pada kitab suci Rgveda di atas memberikan inspirasi penulis untuk menganalisis kehidupan mahluk, manusia terkait dengan kebahagiaan berawal dari mendapatkan kekayaan yang mulia. Kebahagiaan merupakan suatu tujuan hidup semua mahluk hidup, terutama manusia. Secara etimologi, kebahagiaan asal kata bahagia yang berarti untung, berkah, tuah dari Tuhan Yang Maha Esa. Kebahagiaan adalah keberuntungan, kesenangan dan ketentraman QS Badudu : 1996 : 105 Kebahagiaan itu yang mulia yang dimaksud adalah kebahagiaan yang diperoleh dari berkah Ida Hyang Widh: dengan cara melaksanakan sesuatu apapun berlandaskan dharma (kebenaran).
Kekayaan yang mulia adalah suatu kekayaan yang diperoleh selalu berpikir yang baik, kesucian jiwa dan raga, kecerahan spiritual selalu berpikir yang baik, kesucian jiwa dan raga, kecerahan spiritual, selalu berpikir positif, tidak loba, tamak, iri dan dengki dan sanak keluarga rukun dan damai.
Mengacu pada beberapa konsep di atas, sangat relevan dengan nilai luhur yang tercantum pada berbagai kitab suci agama Hindu seperti pada Bhagawad gita, Rg Weda, Atharvaveda maupun pada Manawa Dharma Sastra maupun pada Upanisad yang merupakan tuntunan hidup umat pada khususnya dan pada umat manusia pada umumnya. Seperti telah dijelaskan diatas kebahagiaan yang mulia berawal dari seseorang yang meraih kekayaan yang mulia dalam proses kehidupannya.
Beberapa pemikiran juga dapat penulis simak dari mulat sarira setiap kali yang ditayangkan oleh RRI Denpasar, setelah disosialisasikan melalui berbagai media, termasuk melalui tulisan ini. Maka dari itu secara singkat akan dianalisis kebahagiaan dan kekayaan yang mulia yang harus digunakan sebagai pola bagi kehidupan manusia.
Kebahagiaan dan Kekayaan yang Mulia
Mengacu pada konsep operasional diatas kebahagiaan maupun kekayaan yang mulia merupakan sesuatu yang harus digunakan sebagai pedoman berperilaku bagi seseorang yang ingin menempuh kehidupan menuju jalan kecerahan spiritual atau jalan kesucian. Dalam proses kehidupan manusia sudah diberikan tatanan nilai oleh para Rsi, Leluhur yang tercantum dalam berbagai ajaran agama, ada dua jalan kehidupan bagi manusia adalah jalan kesucian dan jalan neraka, jalan kesucian seperti ditata nilai-nilai luhur yang lebih mengarah pada kejujuran, kebaikan, selalu menerapkan nilai yang berlaku pada Trikaya Parisuda dalamcarahnya untuk membentuk manusia yang bersifat sattwam dan sebaliknya jalan neraka mengarah pada manusia yang rajah tamas. Kedua jalan hidup ini selalu berdampingan, saling tarik menarik satu sama lain, sering orang mengatakan bahwa konsep Rwa Bineda menata pula kehidupan mahluk manusia didunia ini. Pemikiran diatas tercantum pada beberapa sloka kitab suci agama Hindu seperti pada sloka dibawah ini:
Aham rudrebhir vasubhis carany
Aham adityair uta visvadevaih
Aham mitravarunobha, bibhamy
Aham indragni aham asvinobha
(Regveda X. 125.1)
Artinya:
Aku gerakan kekuatan alam sebagai tenaga dan kekayaan/aku bercahaya dan kekuatan yang cemerlang.
Aku bercahaya dan berkekuatan alam berupa air dan cahaya aku pusatkan energi, cahaya, dan kehidupan yang diberikan oleh matahari, udara, api
serta sesuatu kekuatan alam yang bermanfaat
Sloka yang lain juga tercantum pada Bhagawad gita, salah satu adalah sebagai berikut:
Tejah ksama dhrtihsancam
Adroho na timanita
Vhavanti sampadam daivin
Abhijatasya bharata
(Bhagawad gita 2005; 372).
Artinya :
Cekatan, suka memaafkan, teguh iman, budi luhur, tidak iri hati, tanpa keangkuhan,
semua itu adalah harta dari dia yang dilahirkan dengan sifat-sifat devata, Wahai Arjuna (Puja; 2005 ; 372).
Mengacu pada nilai luhur yang terkandung pada sloka diatas memberikan suatu tuntunan pada umatnya sebagai pedoman berperilaku bagi masyarakat, agar mampu memilih jalan kesucian dan kekayaan yang mulia adalah bukan berupa harta benda, uang, rumah mewah dll, melainkan yang lebih utama adalah sifat-sifat baik, suci, selalu cetakan, selalu memaafkan, budi luhur, tidak iri hati, tanpa keangkuhan sifat mengarah ke medawa sifat kedewataan.
Kekayaan yang mulia seperti diatas merupakan faktor kunci sumber kebahagiaan bagi manusia di dunia ini, seseorang akan bahagia karena mempunyai sifat diatas, dan pula tercermin dalam kehidupannya. Mempunyai istri atau suami yang baik, anak cucu yang baik, kesehatan yang bagus dalam keadaan yang tanpa dusta, menyenangkan orang lain, hidupnya sangat bermanfaat untuk kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh mahluk hidup ciptaan Ida Hyang Widhi Was.
Secara lebih luas dapat jugc dilihat usaha-usaha pemerintah juga mengarahkan kegiatan pada pembentukan manusia yang lebih cenderung untuk penumpukan kekuatan yang mulia, nampak pada PKB ke 30 di Bali yang bertemakan "Citta Wrthi Nirodha" yang artinya pengendalian diri salah satu cara kita untuk memiliki kekayaan yang mulia maupun kebahagiaan yang mulia dengan cara pengendalian diri, mulat sasira, untuk mengurangi sifat rajah tamah dan mengokohkan sifat satwam atau sifat kedewataan. Semuanya bermuara pada kedamaian dan kesejahteraan hidupr yang berladaskan keluhuran budi.
Berdasarkan uraian diatas, kekayaan yang mulia merupakan suatu cikal bakal dari penemuan kebahagiaan yaivr mulia untuk mengarungi hidup ini. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam berbagai kitab suci Hindu yang sangat baik digunakan sebagai sesuluh Hidup kecerahan rohani agar tidak tersesat, perlu distranformasikan pada generasi penerus. Generasi penerus yang diharapkan adalah manusia-manusia Hindu yang berbudi luhur yang sangat berguna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia yang berlandaskan pancasila. Semoga bermanfaat.
Source: S, Suwarsi l Warta Hindu Dharma NO. 502 Oktober 2008