Keharmonisan Adalah Tujuan Hidup

Bicara tentang kondisi bangsa kita saat ini, menurut saya baik-baik saja. Kalau  kita mengikuti Berita-berit. Di media memang sepertinya mengerikan. Tetapi kalau dikembalikan pada apa yang sesungguhnya terjadi,  tidak sepenuhnya seperti yang digambarkan oleh media. Karena pengalaman saya pribadi juga berbicara terkait dengan keberbedaan kita. Dilingkungan tempat tinggal kita yang dihuni warga yang berbeda agama, kita tidak pernah mengalami hal-hal buruk. Ketika agama menjadi tunggangan atau tumpangan, mungkin inilah yang membuat terganggunya keberagamaan kita. Kita ambil salah satu contoh, kasus GKI Yasmin. Teman-teman  mengatakan bahwa itu kasus hukum, bukan kasus agama.

Dibandingkan dengan kasus gangguan terhadap agama lain, mungkin dapat dikatakan bahwa Hindu relatif aman. Tetapi solusi yang kami ambil ketika menghadapi  masalah memang agak berbeda. Hal ini sempat saya kemukakan dalam sebuah forum resmi, bahwa kami umat Hindu juga mengalami kesulitan dalam mendirikan pura (rumah ibadah). Dan ini kami alami di hampir semua kota besar.

Kalaupun ada pura di berbagai kota besar,  umumnya berada di lingkungan militer/polri. Di Jakarta saja, dari sekian puluh pura yang ada, sebagian besar berada di lingkungan TNI/Polri. Misalnya, di Asrama Marinir Cilandak;  Asrama Zeni  TNI AD Lenteng Agung;  Komplek AU Halim; Komplek Polri Jelambar; Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Di Pusat Pendidikan Latihan (Pusdiklat) Cibubur sebagai pusat pramuka ada juga pura. Di luar Pulau Jawa juga demikian. Di Padang, Sumatera Barat, satu-satunya pura berada di Lanud Tabing. Itulah solusi yang diambil oleh orang-orang tua kami untuk mengatasi sulitnya membangun pura di luar Bali. Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, di mana terdapat kurang-lebih 8.000 umat Hindu, hanya ada satu pura.

Umat kami tidak melihat kuantitas, jumlah tempat ibadah, tetapi bagaimana merawatnya, bagaimana memeliharanya. Dan di Hindu tidak ada perbedaan sekte. Siapa pun umat Hindu, bisa masuk dan beribadah ke pura. Tentu ini menjadi sangat berbeda bila kita bicara tentang gereja bagi umat kristiani yang memiliki banyak sekte. Di tempat saya berdomisili, Cilincing, Jakarta Utara misalnya, ada gereja HKBP, GPIB, dsb. Orang-orang yang tidak paham akan bingung, “Kok ada banyak gereja?” Ini yang barangkali sedikit menimbulkan efek psikologis.

Di mana-mana saya selalu mengingatkan, “Keanekaragaman, multikularisme ini, kan sudah kehendak Yang Kuasa. Ketika semua orang mengatakan Beliau mahakuasa, artinya kalau Beliau mau, hari ini juga Beliau bisa menyeragamkan semua agama. Mau Kristen semua? Mau Hindu semua? Bisa.Tetapi  kenapa Beliau tidak melakukannya? Jadi, sudahlah, jangan lagi ada target-target!”

Di ajaran Hindu juga ada  ayat yang dapat dimaknai sebagai perintah untuk mengembangkan agama. Misalnya dikatakan bahwa Kitab Veda ini diturunkan untuk semua umat manusia, tanpa  mengenal golongan, asal-usul, dll. Bila ajaran agama lain mengklaim bahwa “hanya inilah jalan yang benar”, Hindu juga demikian. Cuma kan sekarang masalahnya bagaimana kita memaknai teks itu. Jangan kita berhenti hanya pada teks, tetapi juga melihat konteks. Dalam konteks apa ayat  itu ada. Kalau itu terus kita kembangkan, maka yang namanya kedamaian tidak akan pernah terwujud. Padahal semua agama mengatakan, “Kami agama damai!”.

Live in peace

Kalau kita sedikit berbicara masalah bahasa (istilah), misalnya: syalom, salam, santi, itu kan semua  bermakna damai. Tetapi kenapa kemudian kedamaian itu seolah-olah jauh? Apa karena kedamaian itu hanya ditulis di batu nisan: RIP (rest in peace)? Setelah meninggal baru menemukan kedamaian?Janganlah  hanya pada saat meninggal kita mendapat kedamaian, tetapi ketika hidup pun kita harus mendapat kedamaian. Maka jangan hanya ada istilah “rest in peace”, tetapi justru yang paling penting dan bermanfaat adalah: live in peace. Hidup dalam damai.

Bicara tentang keberagaman, umat Hindu di Jakarta terdiri atas 3 etnis: pribumi, India, dan China. Umat pribumi biasanya beribadah ke pura. Etnis India ke kuil (mandir), dan etnis China ke bio. Sekalipun demikian, adanya perbedaan etnis itu tidak menuntut bahwa mereka harus menggunakan  tempat ibadah sendiri-sendiri sesuai etnis masing-masing.S ekalipun tempat ibadah berbeda, namun mereka tetap Hindu dan menggunakan kitab suci Veda.

Memang ada banyak perbedaan antara satu dengan yang lain tetapi sangat menghargai perbedaan. Sebab dasar hukumnya sudah menghargai perbedaan. Dasar hukumnya sudah menghargai adat-istiadat setempat. Adat-istiadat itu menjadihukum ketiga. Hukum pertama adalah Veda (wahyu Tuhan), diikuti Smerti. Smerti itu semacam hadist dalam agama Islam. Dan hukum ketiga adalah Sila. Sila itu adat-istiadat. Jadi, yang India tetap melakukan dengan cara India-nya, yang China dengan cara China, dan Bali dengan cara Bali, demikian pula yang lainnya.

Inti ajaran Hindu yang bisa menyatukan dan diterima semua umat adalah keselarasan: keselarasan antara manusia dengan Tuhan, keselarasan antara manusia dengan manusia, dan keselarasan antara manusia dengan alam.

Lalu bagaimana caranya mendapatkan keselasaran itu? Dalam ajaran Hindu ada tatwa, tatasusila, kemudian ritual. Nah, ritual ini yang kadang-kadang ada perbedaan antara etnis atau suku tetapi secara susila/etika, sama saja yakni bagaimana saling menghormati, bagaimana saling menghargai sesama manusia. Susila/etika inilah yang lebih dikembangkan.

Dan yang juga patut diketahui, ajaran Hindu itu fleksibel. Misalnya kalau di Hari Raya Nyepi, orang lain silakan saja menyalakan lampu, beraktivitas, dsb. Fleksibilitas itu juga menjadi satu kekuatan juga. Karena kalau kaku bisa patah. Karena dia lentur maka bermanfaat. Apalagi di dalam peri kehidupan kemasyarakatan, terutama menghadapi keragaman dn keberbedaan kita, fleksibilitas itu sangat penting. Kalau tidak demikian, kapan damainya.Timbulnya kekerasan bermotif keagamaan karena kurang lentur.

Kita patut bersyukur bahwa di negeri kita ini, golongan yang kaku itu tidak mayoritas di kelompoknya. Golongan yang lentur (moderat) jauh lebih besar, hanya saja mereka tidak mengambil sikap. Ke depan, kita mengharapkan, agar kelompok yang lentur-lentur ini jugamengambil peran sehingga mereka bisa melenturkan yangkaku itu.

Dalam filosofi kami, ada ajaran tetua-tetua, yang terus diturunkan dari generasi ke generasi. Hal ini pun sering saya sampaikan di forum-forum resmi. Ketika anak kita berkelahi dengan anak tetangga, yang kita marahi itu anak kita sendiri, bukan anak tetangga. Kenapa? Kalau anak tetangga kita marahi, maka dia akan mengadu ke bapaknya. Dan kita akan ribut dengan bapaknya. Padahal, si anak yang ribut pagi, sorenya sudah berbaikan. Tetapi ketika bapak dengan bapak yang ribut, tujuh turunan tidak selesai. Sampai kini ajaran ini masih dipraktekkan .Ini juga yang saya terima dariorang tua saya. Masing-masing orang tua harus menjewer sendiri anak-anak mereka yang bermasalah dengan anak orang lain, jangan menjewer anak orang lain.

Dengan terminologi ini kita berharap agar bila ada masalah antara kelompok, maka setiap kelompok mencoba menyelesaikan di dalam kelompok masing-masing. Jangan malah ramai-ramai mendatangi dan menghakimi kelompok lain. Sebab cara seperti ini malah bisa meningkatkan eskalasi konfliknya. Ini yang sering saya tawarkan dalam berbagai forum.

Seperti kasus terbaru yangsedikit menggores hubungan antarumat beragama di Lampung, pada akhir Januari 2012 lalu. Saat itu terjadi insiden antarwarga yang berbuntut pada dirusaknya tempat-tempat ibadah masyarakat Hindu-Bali. Atas kasus ini, kami di pusat sampai di daerah rata-rata menyalahkan anak-anak Bali. Jadi, sikap seperti itulah yang mestinya kita lakukan sebagai orang tua. Jangan anak sendiri dibela, anak tetangga digampar. Ini salah satu tawaran terhadap apa yang terjadi. Saya yakin, kalau ini yang kitalakukan makayang kaku-kaku itu mungkin akan semakin lentur.

Agama misi

Kristen dan Islam dikenal sebagai agama-agama misi. Agama Hindu pun demikian. Sebab kalau tidak, mana mungkin penyebar agama ini menyeberang dari India ke Nusantara? Hanya saja, ketika peradaban menuntut supaya misinya di-stop dulu, ya stop. Jadi, tidak memaksakan orang lain untuk memeluk agama Hindu. Apalagi di era modern sekarang ini hak-hak asasi manusia sangat dihormati, dijunjung tinggi. Apalagi,  konon katanya, hak beragama adalah hak yang yang paling asasi, dan mesti dihormati.

Agama Hindu hadir di negeri kita sejak 2.000 tahun silam, berkat kegigihanpara resi (penyebar agama Hindu). Bila sekarang misionaris Kristen naik pesawat, para resi ribuan tahun lalu naik kulit semangka mengarungi samudera hingga mendarat di Pulau Jawa. Bagi umat Hindu, ini bukan dongeng, namun benar-benar nyata. Kapal laut waktu itu belum ada. Kerajaan Tarumanagara yang berpusat di Purwakarta (Jawa Barat), adalah kerajaan Hindu tertua di Nusantara. Itu abad keempat, dan mungkin saja ada kerajaan yang lebih awal lagi.

Hadirnya agama Hindu pada abad 1 Masehi, sementara agama-agama lain belum muncul di Indonesia, menandakan bahwa Hindu adalah agama misi. Dulu, rsi Hindu datang dan memperkenalkan Tuhan kepada masyarakat yang belum mengerti Tuhan. Sekarang, orang sudah mengenal  Tuhan kok masih diajari tentang Tuhan? Di KTP sudah jelas ada agamanya, kok masih diajak-ajak, dirayu-rayu, bahkan dipaksa-paksa untuk mengikuti agama lain. Sekarangkan peradabannya sudah berubah. Di pertemuan-pertemuan resmi saya selalu menghimbau agar praktek-praktek semacam ini dihentikan. Ada sesuatu yang tepat pada sebuah peradaban, tapi ada yang tidak tepat lagi. Di sini bisa saja ada umat minoritas yang berteriak-teriak karena diperlakukan tidak adil, dan dianiaya dalam beribadah. Namun sungguh tidak dapat dijelaskan bagaimana perlakuan umat tersebut terhadap umat Hindu di daerah-daerah tertentu,  misalnya.

Hindu itu fleksibel. Tempat ibadah bukan hal yang mutlak, sebab tempat ibadah sejati itu ada di hati. Itu keyakinan Hindu. Bila ada kelompok yang merasa jadi korban intoleransi, cobalah introspeksi. Itu juga mungkin akibat dari kita sendiri.

Keharmonisan, adalah ujung dari tujuan hidup, bukan kebenaran. Seberapa pun kebenaran, kalau itu tidak membawa keharmonisan,apa manfaatnya bagi kemanusiaan? Sebab kebenaran itu kan Knisbi/relatif. Benar menurut sayakan belum tentu benar menurut orang lain. Maka jangan ngotot-ngototlah. Tujuan kita kan harmonis, damai. Agama hanyalah jalan menuju suasana yang harmonis.

 

Source: I Ketut Parwata l http://hans-republikmemble.blogspot.com