Kembali Ke: Asih, Asah, Asuh

Ekalavya, salah seorang putra nisada maha papa begitu berhasrat menimba ilmu memanah layaknya maha ksatria utama Hastinapura. Ia lalu pergi ke Hastinapura menemui Maha Guru Drona yang termasyur memiliki ilmu didaktik tiada tanding. Namun sayang, Ekalavya ditolak menjadi murid lantaran berasal dari keturunan nisada. Dalam tradisi Hindu, kaum nisada dilarang membaca Kitab Suci Weda dan menimba ilmu karena diyakini akan disalahgunakan.

Meskipun berasal dari golongan masyarakat nisada di luar catur wangsa (Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra), Ekalavya mampu memusatkan pikirannya pada suatu ilmu atau mata pelajaran sesuai arti nama yang disandangnya. Setelah ditolak sebagai murid oleh Maha Rsi Drona, ia lalu pergi ke hutan. Di sana, Maha Rsi Drona dipahatnya penuh hiperekspresif sehingga sangat mirip dengan wujud aslinya.

Di depan patung itu, Ekalavya bersujud, di depan patung itu Ekalavya memusatkan pikirannnya mampelajari ilmu memanah dengan penuh kesungguhan hati. Hasilnya, Ekalavya berhasil menandingi kecendekiawan Arjuna, sang pemanah jenius saudara kandung para Pandawa.

Sampai di sini, pendengar atau pembaca sepenggal kisah Srimad Bhagawatam itu tentu haru biru mengagumi Ekalavya yang berhasil mencapai tujuannya karena keteguhan hatinya memusatkan pikirannya mempelajari ilmu memanah.

Teks susastra Hindu yang menceritakan keberhasilan Ekalavya tersebut mengandung makna terimplisit tentang hakikat pendidikan Hindu yang apologetik membela kebenaran mutlak bahwa semua manusia dapat mencapai keberhasilan memupuk inteligensianya asalkan mampu memfokuskan dirinya mempelajari ilmu atau pelajarannya. Namun demikian, berhasil menguasai ilmu tersebut bukanlah segalanya. Kecerdasan tidak saja diukur hanya dari segi inteligensiannya (IQ= Intelegent Quotinet) saja. Umumnya, ada  juga yang disebut kecerdasan emosi (EQ= Emotional Quotinet) dan kecerdasan spiritual (SQ= Spiritual Quotinet). Selain itu, bahkan secara psikologis dinyatakan adanya kecerdasan sosial.

Sejak Swayambu Manu dan Satarupa (Manusia Pertama menurut agama Hindu) menikah dan mempunyai keturunan, masalah IQ, EQ, dan SQ, itu yang bermuara pada masalah asih, asah, asuh menjadi persoalan utama. Kerena sejak saat itu, apa yang dipikirkan dan apa yang dilaksanakan demi keberlangsungan sanatana menjejaki siklus kalpa dengan segala jiwa zamannya (zeigeist) memerlukan ketaatan imanensi.

Oleh karena itu, dalam agama Hindu keseluruhan rangkaian kecerdasan yang ditanamkan melalui pola asih, asah, asuh itu dilakukan secara berkelanjutan (sustanable) dalam keluarga dan masyarakat. Bila dalam ilmu pendidikan modern pola asah, asih, asuh itu telah dilakukan sejak janin di dalam kandungan, maka dalam tradisi Hindu bahkan dilakukan sejak manusia Hindu itu dalam proses perwujudannya.

Pada saat perwujudan manusia Hindu dilakukan, kedua orang tua sudah melakukan yasa kerthi mendidik diri agar putra yang direncanakan akan lahir benar-benar suputra. Dengan jalan melakukan kontemplasi terus menerus tiada henti. Ditandai dengan melakukan puja matram jaya, yaitu memohon kehadiran Tuhan dalam wujud Sang Hyang Smara-Ratih memberkati kehadiran bayi yang diharapkan. Tidak berhenti di situ saja, orang tua laki-laki membaca dengan sungguh-sungguh kita susastra Hindu terus menerus. Sementara itu, orang tua wanita mempersiapkan sarana ritus (pajati) dengan kesungguhan hati.

Setelah janin telah nyata wujudnya di dalam kandungan, selama itu kedua orang tua menyanyikan syair suci susastra Hindu sampai tiba saatnya kelahiran tiba. Pada saat tali pusat lepas, diselenggarakan upacara khusus, terutama dengan memangku bayi sambil melantunkan kidung suci.

Pada tahap berikutnya, ajaran-ajaran budhi pekerthi telah ditanamkan sejak awal. Anggapan bayi masih berwujud dewa seajtinya merupakan refleksi bahwa pendidikan Hindu mengedepankan pola asuh yang manusiawi, yaitu melakukan pola asuh dengan cara menekankan kehalusan budi. Mengedepankan kasih-sayang sebagai sarana pola asuh.

Setelah suputra beranjak dewasa, tibalah saatnya proses pendidikan IQ, EQ, SQ, plus kecerdasan sosial diasah. Dalam hal ini tegangan dalam pendidikan terjadi. Betapapun, setiap orang tua akan merasa enggan melepaskan anaknya untuk belajar di luar rumah. Akan tetapi momentum itu harus dilakukan. Prabhu Dasarata, harus rela melepaskan Sang Ramadewa beserta saudara-saudaranya pergi asrama untuk mengasah inteligensianya. Meninggalkan segala kemewahan dan kasih sayang melimpah yang dinikmatiya di istana kerajaan Ayodyapura. Paham ini berkaitan dengan doktrin bahwa ketika sebagai Brahmacari (masa belajar) haruslah tinggal di rumah gurunya, selanjutnya akan mendapatkan diksa brata sangaskara (ri sedeng nira n brahmacari guru kulawesi kineran sira diksa brata sangaskara), pembelajaran ilmu pengetahuan berdasarkan logika.

Sistem pendidikan agama Hindu, sesungguhnya bertumpu pada guru. Oleh karena itu, ada yang disebut catur guru, yaitu guru swadyaya (Tuhan), guru wisesa (Pemerintah), guru pengajian (guru), dan guru rupaka (orang tua). Para guru itulah yang berperan dalam kehidupan setiap insan manusia Hindu.

Bangun pola pendidikan menurut agama Hindu terletak pada paradigma asah, asih, dan asuh. Inteligensia harus diasah bak mengasah batu permata agar cemerlang atau mengasah pisau agar tajam bak silet (IQ). Namun tidak cukup hanya mengasah inteligensia saja, tetapi dilakukan dengan pola asuh yang humanis penuh kasih sayang agar tumbuh kecerdasan emosional yang baik (EQ).

Selajutnya pengayoman dilakukan terus menerus agar tercapai tujuan pencerahan spiritual (SQ). Tidak cukup disitu saja, pada akhirnya kecerdasan sosial juga harus dibangun dalam lingkungan sosial yang sutrepti. Kecerdasan sosial merupakan kemampuan efektif menavigasi dan bernegosiasi dalam interaksi dalam lingkungan sosial.

Kecerdasan sosial merupakan gabungan dari kecerdasan diri sendiri (IQ) dan kecerdasan sosial, evolusi keyakinan sosial dan sikap, serta kapasitas dan kemampuan mengelola perubahan sosial untuk kompleks. Kecerdasan sosial bukanlah kecerdasan kuantitatif yang dapat diukur melalui parameter instrumen kuisioner, tetapi merupakan kecerdasan kualitatif yang berhubungan dengan nilai (value).

Sirkumstansi pola asah, asih, dan asuh menurut agama Hindu seperti diuraikan di atas, sudah saatnya kembali digalakkan dan dikembangkan sesuai perkembangan zaman masa kini. Agar jangan seperti Ekalavya, yang hanya mengandalkan kecerdasan inteligensia, yang walaupun berhasil menguasai ilmu yang ingin dikuasainya tetapi tidak memiliki kemampuan menavigasi dan bernegosiasi dalam interaksi dalam lingkungan sosial sehingga terjerumus menjadi antagonistik. Ekalavya mangkat sebagai bala tentara Jarasanda yang antagonistik dalam peperangan melawan Sri Kresna dan Balarama.

Terakhir, hakikat pendidikan agama Hindu yang digerakkan oleh pola asih, asah, asuh itu pada dasarnya bertujuan untuk memuliakan dharma. Karena hanya dengan setia menjejakkan kaki di jalan dharma, pemeluk agama Hindu berhasil menapaki kehidupan maya ini.

Oleh: Jelantik Sutanegara Pidada
Source: Majalah Wartam, Edisi 26, April 2017