Pola Hubungan Untung-rugi
Pola hubungan untung-rugi merupakan pola hubungan yang berdasarkan pola pikir dan pertimbangan untung-rugi. Pola hubungan jenis ini merupakan pola hubungan utama di dunia bisnis. Masyarakat bisnis telah amat terbiasa dengan pola hubungan seperti ini. Namun sayangnya, saking sudah sedemikian merambahnya sektor bisnis dan perdagangan-berikut pola pikirnya ke berbagai sisi kehidupan masyarakat, pola pikir untung-rugi pun telah menyusup ke berbagai sisi kehidupan masyarakat, untuk kemudian mewarnai dengan kuat pola-pola hubungan lainnya. Sebagai akibatnya, nyaris tak tersisa lagi bentuk-bentuk hubungan di masyarakat yang tidak mewarnai, bahkan dilandasi, oleh pola pendekatan dan pola. hubungan untung-rugi.
Tak terkecuali, hubungan sosial-budaya, sosial-politik, bahkan hingga hubungan sosial-religius. Pendekatan dan pola hubungan antara manusia dengan alam misalnya, yang sepatutnya bersifat simbiosa mutualistis, saling menguntungkan, sudah sejak lama menjadi hubungan eksploitatif. Demi keuntungan manusia - yang adalah kemakmuran dan kesejahteraannya-kita telah membudayakan pola pendekatan dan pola hubungan eksploitatif; kita telah mengeksploitasi alam lingkungan secara besar-besaran dan semena-mena sedemikian jauhnya, bahkan sampai batas-batas yang membahayakan kelangsungan hidup manusia sendiri.
Demikian pula pola hubungan antar manusia. Kita hanya akan tertarik untuk menjalin hubungan baik dengan orang-orang, kalau daripadanya bisa diharapkan kita bisa meraup keuntungan, atau punya kesempatan untuk mengekploitasi mereka demi kepentingan-kepentingan kita. Bila menurut perhitungan kita sebentuk hubungan terasa tidak memberi keuntungan ataupun peluang untung mengeksploitasi, akan dengan ringan saja kita memutuskannya, atau setidak-tidaknya mengurangi intensitasnya hingga batas-batas minimum. Bukankah begitu?
Di Bali misalnya, dikenal sebentuk ritual yang diistilahkan dengan "mesesangi". Ini, oleh kebanyakan orang, bahkan diposisikan sebagai sebentuk prilaku kultural-religius. Ia sangat mirip dengan "kaul", yang dikenal di kalangan etnis Jawa. Ia merupakan; janji bersyarat dari seseorang atau sekelompok orang, yang kurang-lebih berbunyi: "Bila saya diberikan ini, saya akan menghaturkan itu", dengan makhluk tak kasat-indria yang dianggap bisa memberikan atau mengabulkan apa yang diminta, atau diinginkannya. Sudah barang tentu kalau dihitung secara ekonomis, apa yang dijanjikan akan dihaturkan nilainya jauh di bawah nilai yang dimintakan atau diinginkan. "Pesugihan" yang juga umum dikenal di kalangan masyarakat Jawa dan Bali juga punya banyak kemiripan dengan ini.
Pola Hubungan Kalah-Menang
Kecuali pola hubungan ini, kita juga telah membudayakan pola pendekatan dan pola hubungan kalah-menang. Dua pola pendekatan dan pola hubungan inilah yang mendasari-nyaris semua hubungan manusia dengan siapa atau apapun dalam kehidupannya.
Untuk bisa memperoleh sesuatu yang kita inginkan, kita diharuskan bisa memenangkan 'rangkaian permainan' yang tersedia. Untuk bisa memperoleh rumah senilai lebih dari satu milyar rupiah misalnya, kita diharuskan memenangkan berbagai bentuk kompetisi dan permainan yang disediakan. Untuk bisa mencaplok sebuah negara misalnya, suatu negara harus bisa mengalahkannya di dalam suatu peperangan. Banyak sekali contoh-contoh-untuk bisa disebutkan satu-per-satu dari pola pendekatan yang merupakan jiwa dari segala bentuk perjudian yang kita kenal ini.
Pendekatan ini dianjurkan oleh Sakuni, paman dari para Kaurava, untuk memungkinkan para keponakannya itu menguasai Hastinapura, sekaligus mengusir para Pandava. Dengan kelicikan Sakuni, Yuddistira yang tidak mengenal judi dan pola kalah-menang di antara keluarga dan kerabat dekat beserta istri dan keempat adiknya, berhasil dipaksa hengkang dari Hastinapura untuk menjalani kehidupan di hutan selama 12 tahun plus 1 tahun hidup dalam penyamaran. Seakan-akan telah ditakdirkan, pola pendekatan yang sempat membuat Duryodhana beserta para Kaurava lainnya bergelimang kemenangan, ternyata juga merupakan pola yang menyeretnya ke jurang kehancuran di medan perang Kuruksetra.
Saking sedemikian merebaknya pola pendekatan dan hubungan ini di masyarakat manusia, abad lalu muncullah apa yang kita kenal dengan "win-win solution", solusi menang-menang, sebagai sejenis "counter-act" terhadapnya, dari sementara kalangan idealis. Akan tetapi senyatanya, di dalam suatu kompetisi misalnya, mungkinkah kedua-belah pihak apalagi semua pihak yang berkompetisi memperoleh kemenangan? Terlebih lagi di dalam suatu peperangan atau pertandingan. Kalau ,'merasa' sama-sama menang misalnya, memang mungkin. Makanya, solusi ini lebih merupakan solusi imajinatif-idealis, tidak realistis.
Pola Hubungan Humanistis
Secara sederhana, pendekatan dan hubungan humanistis disini dimaksudkan sebagai pola pendekatan dan hubungan di antara manusia yang adalah makhluk-makhluk cerdas dengan cara-cara yang cerdas juga. Suatu hubungan yang murni humanistis, terlebih lagi spiritual-religius, tidak memperkenankan adanya polusi samasekali. Ia menuntut ketulusan dan ketanpa-pamerihan yang tinggi kadar kemurniannya. Tidak seperti emas yang walaupun hanya 18 karat masih juga boleh disebut emas, sedikit saja kemurnian dari hubungan humanistis ini ternodai, maka ia bukan lagi hubungan humanistis. "Udang di balik batu" tidak boleh ada disini.
Seorang humanis telah jauh-jauh hari menanggalkan pola-pola pendekatan dan hubungan untung-rugi dan kalah-menang. Kalau mau diutarakan dalam pola yang serupa itu, maka bagi seorang humanis sejati semuanya harus untung dan semuanya harus menang. Kalaupun harus ada yang rugi atau kalah, maka itu adalah dirinya sendiri. Dalam setiap kontak hubungan, ia akan selalu siap menanggung kerugian, mengalah dan menanggung segala konsekwensi buruk daripadanya.
Sungguh ideal bukan? Saking idealnya, muncul sebuah pertanyaan mendasar. Apakah memang ada seorang humanis seperti ini di dunia seperti sekarang ini? Mungkin atas pertimbangan itu pula, kendati faham humanisme telah sejak dahulu kala dikenal manusia, sampai sekarang belum ada apa yang disebut dengan "hadiah nobel kemanusiaan": Di dalam wasiatnya, Alfred Bernhard Nobel hanya mengamanatkan lima kategori hadiah nobel-hadiah nobel di bidang fisika, kima, phisiologi atau pengobatan, perdamaian dan kesusastraan. Hanya belakangan, setelah ia wafat, baru muncul hadiah nobel bidang ekonomi yang digagas oleh Bank Swedia.
Dapat kita lihat bahwa di antaranya, hanya hadiah nobel phisiologi atau pengobatan dan hadiah nobel perdamaian saja yang bersinggungan langsung dengan masalah kemanusiaan. Tapi inipun masih bisa dipertanyakan, bila merujuk pada lontaran Sri Swami Sivananda yang mengatakan bahwa perdamaian yang sesungguhnya tidaklah mungkin dipromosikan oleh seseorang yang tak kenal damai di hatinya. Namun, kita sadari betul kalau urusan kemanusiaan dan rasa kemanusiaan bukanlah urusan hadiah nobel atau hadiah-hadiah dan penghargaan lainnya. Ia merupakan panggilan hati-nurani manusia yang benar-benar sadar akan keberadaannya dan keberadaan manusia lainnya secara hakiki, berikut segala macam implikasi yang terkait dengan keberadaannya itu. Ia bukan sesuatu yang bisa dipelajari dari buku-buku, atau dari kitab-kitab yang paling suci sekalipun.
Merriam-Webster's Collegiate Dictiory mendefinisikan humanisme sebagai sebuah doktrin, sikap atau prilaku, atau cara hidup yang terpusat pada interes-interes atau nilai-nilai manusiawi. Secara mengkhusus, kamus yang sama juga mendifinisikannya sebagai, sebentuk filsafat yang umumnya menolak supernaturalisme dan menekankan pada rasa percaya-diri, nilai dan kapasitas individu di dalam mencapai realisasi-diri melalui akal-budi.
Seperti juga kian terasa mendesaknya kebutuhan dunia akan manusia-manusia yang berkesadaran dan berwawasan lingkungan hidup, mendesaknya kebutuhan umat manusia akan manusia-masnuia humanis serasa tak tertunda lagi. Akibat kekurangan nutrisi inilah, kini dunia berikut peradaban manusia jadi sakit-sakitan.
Persahabatan bagi Kesejahteraan dan Kedamaian
Hubungan persahabatan antar sesama manusia yang didasari oleh rasa simpati dan rasa kemanusiaan, tentunya bisa diharapkan lebih manusiawi-ketimbang hubungan yang terpola untung-rugi atau kalah-menang didalam merealisasikan perdamaian. Ia bisa menjadi suplemen nutrisi sekaligus obat mujarab bagi dunia dan peradaban yang sedang sakit-sakitan ini.
Dalam nada prihatin, mendiang Sri Swami Sivananda Saraswati sempat berujar, "Belakangan ini banyak orang bekerja untuk perdamaian dunia, akan tetapi mereka sendiri tak menemukan kedamaian dalam hati mereka. Propaganda yang gencar, omongan lantang dan ceramah-ceramah yang diberikan malah membingungkan, terasa adanya konflik, malah terdengar sumbang". Dan ini adalah fakta. Fakta dari tidak hadirnya rasa persahabatan dan rasa kemanusiaan itu sendiri.
Seorang humanis akan bisa bersahabat dengan siapapun, dan sebaliknya tidak akan memposisikan dirinya sebagai musuh dari siapapun. Di dalam hubungan persahabatan inilah mungkin ditemukan sebentuk kedamaian, yang tak mungkin ditemukan di dalam hubungan yang berpola untung-rugi atau kalah-menang. Rasa persahabatan tak terlepaskan dari rasa kemanusiaan. Bahkan rasa persahabatan berlingkup lebih luas dibanding rasa kemanusiaan. Rasa persahabatan bisa tergalang dan berkembang tidak hanya sebatas di antara sesama manusia, namun juga di antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Ia bersifat unversal. Ia jelas jauh melampaui batas-batas suku, ras atau bangsa, agama atau kepercayaan, jender, usia, profesi, status sosial atau yang lainnya.
Bila Anda punya rasa persahabatan. Anda bisa menjalin hubungan baik dengan siapa atau apa saja, apakah ia kasat-indria atau tidak. Dalam ajaran Hindu dan Buddha ia dikenal dalam istilah maetri atau metta. Dikatakan bahwa, ia yang punya maetri disayangi para dewa, para malaikat, orang-orang suci dan segenap makhluk hidup di semestaraya. Saking luhurnya rasa persahabatan ini dari titik pandang Buddhisme, disebutkan bahwa Buddha mendatang adalah Buddha Maetrya, "Buddha Persahabatan". Di dalam mithologinya, disebutkan kalau sekarang-sekarang ini beliau masih merupakan seorang Boddhisatva, seorang calon Buddha-Boddhisatva Maetrya.
Sekarang-sekarang ini, kita boleh saja menganggap semua itu hanya sebentuk ideal luhur yang lebih merupakan angan-angan sebagai reaksi terhadap kondisi kemanusiaan yang ada, serta ekspresi dari kerinduan yang amat sangat akan persahabatan sejati di antara segenap makhluk di seantero jagatraya. Namun, kerinduan itu memang benar-benar nyata. Sangat pantas untuk dirindukan. Sangat pantas kalau manusia punya cukup rasa persahabatan dan rasa kemanusiaan. Kalau ada sesuatu sebagai penyakit yang paling utama yang sedang menjangkiti umat manusia sekarang-sekarang ini, maka itu adalah krisis rasa persahabatan dan rasa kemanusiaan. Dan untuk ini, hanya manusialah yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri.
Semoga Cahaya Agung-Nya senantiasa menerangi setiap gerak dan langkah kita. Semoga kedamaian dan kebahagiaan menghuni kalbu setiap insan.
Source: Anatta Gotama l Warta Hindu Dharma NO. 466 Nopember 2005