(Sebelumnya)
Menurut Wiana (1994:60) bahwa untuk mewujudkan tujuan Niti Sastra, mencapai masyarakat sejahtra (dharma sidyartha), harus didasarkan pada lima dasar pertimbangan yang dapat disebut Panca Tarka. Kelima dasar pertimbangan itu ialah pertama, iksa (tujuan), kedua sakti (kemampuan), ketiga, desa (wilayah), keempat, kala (waktu), tattwa (hakikat kebenaran). Jadi bila pemimpin itu ingin berhasil dalam memimpin sangat tepat pola anutan panca tarka tersebut dapat dijadikan pedoman dalam memimpin.
Terlebih lagi dalam dunia pendidikan, termassuk dalam pola pendidikan agama Hindu. Seorang pengajar/guru dalam sistem pendidikan agama Hindu dimanapun mereka bertugas, maka pertimbangan tujuan pendidikan adalah hal yang prinsip yang perlu diperhatikan. Juga mengenai kemampuan pengajar adalah hal utama bagi guru itu sendiri. Apakah mampu menggunakan media, mengelola kelas, mampu menuntun peserta didik sesuai metode pengajarannya, mampu menilai, mampu memberikan teladan, dan sebagainya.
Selanjutnya dalam hal syarat tempat atau wilayah, bahwa guru hendaknya memperhatikan lingkungan belajar siswanya. Tidak lantas guru acuh tak acuh terhadap lingkungan pendukung belajar siswa. Juga termasuk waktu mengajar, waktu istirahat, waktu praktek, waktu ujian, dan sebagainya. Yang terpenting bahwa guru atau pemimpin dalam pendidikan, agar telaten merperhatikan dan memak-nai hakikat kebenaran belajar siswanya, kebenaran belajar siswanya, kebenaran sumber belajarnya, kebenaran metode mengajar yang diterapkan, kebenaran media pengajaran, serta kebenaran metode mengajar yang diterapkan, kebenaran media pengajaran, serta kebenaran dalam memberikan tes pada siswa sesuai materi yang telah diajarkan. Masih banyak lagi hal penting ajaran Niti Sastra yang relevan diterapkan dalam dunia pendidikan.
Selanjutnya kriteria kepemimpinan menurut pustaka Niti Sastra, antara lain : pertama, abhigamika, pemimpin harus tampil simpatik, berorientasi ke bawah dan mengutamakan kepentingan rakyat banyak dari pada kepentingan pribadi atau golongan, kedua, prajna, pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana dan menguasai ilmu pengetahuan teknologi, agama serta dapat dijadikan panutan bagi rakyatnya, ketiga, utsaha, pemimpin harus proaktif, berinisiatif, kreatif dan inovatif (pelopor pembaharuan) serta rela mengabdi tanpa pamerih untuk kesejahteraan rakyat, keempat, atma sampad, pemimpin, punya kepribadian, berintegrasi tinggi, moral yang luhur serta obyektif dan mempunyai wawasan yang jauh ke masa depan demi kemajuan bangsanya, kelima, sakya samanta, pemimpin sebagai fungsi kontrol mampu mengawasi bawahan (efektif, efisien, dan ekonomis) dan berani menindak secara adil bagi yang bersalah tanpa pilih kasih/tegas, keenam, aksudra pari sakta, pemimpin harus akomodatif, mampu memadukan perbedaan dengan permusyaratan dan pandai berdiplomasi, menyerap aspirasi bawahan dan rakyatnya.
Ajaran Asta dasa paramiteng prabhu antara lain : 1. Wijaya, artinya seorang pemimpin harus mempunyai jiwa yang tenang, sabar dan bijaksana serta tidak lekas panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan, karena hanya dengan jiwa yang tenang masalah akan dapat dipecahkan. 2. Mantriwira, artinya seorang pemimpin harus berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan, tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun. 3. Natangguan, artinya seorang pemimpin harus mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan. 4. Satya Bhakti Prabhu, artinya seorang pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa. 5. Wagmiwak, artinya seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan serta mampu menggugah semangat masyarakatnya.
6. Wicaksaneng naya, artinya seorang pemimpin harus pandai berdiplomat dan pandai mengatur strategi dan siasat. 7. Sarjawa sasama, artinya seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang jadi pemimpin dan tidak sok berkuasa. 8. Dhirotsaha, artinya seorang pemimpin harus rajin dan tekun bekerja, pemimpin harus memusatkan rasa, cipta, karsa, dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentingan umum. 9. Tan satrsna, maksudnya seorang pemimpin tidak boleh memihak/pilih kasih terhadap salah satu golongan atau memihak saudaranya, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh potensi masyarakatnya untuk mensuk-seskan cita-cita bersama.
10. Masihi samasta bhuwana, maksudnya seorang pemimpin mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia dari Tuhan/Hyang Widhi dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan rakyat. 11. Sih samasta bhuwana, maksudnya seorang pemimpin dicintai oleh segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin mencintai rakyatnya. 12 Negara gineng pratijna, maksudnya seorang pemimpin senantiasa mengutamakan kepentingan negara dari pada kepentingan pribadi ataupun golongan, maupun keluarga. 13. Dibyacitta, maksudnya seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif).
14. Sumantri, maksudnya seorang pemimpin harus tegas, jujur, bersih sehingga berwibawa. 15. Nayuken Musuh, maksudnya seorang pemimpin dapat menguasai musuh-musuh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri (nafsunya/sadripu). 16. Ambek parama artha, maksudnya seorang pemimpin harus pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum. 17. Waspada purwa wisesa, maksudnya pemimpin selalu waspada dan mau melakukan mawas diri (introspeksi) untuk melakukan perbaikan. 18. Prasaja, maksudnya seorang pemimpin supaya berpola hidup sederhana (aparigraha), tidak berpoya-poya atau serba gemerlap.
Kemudian juga cutur kotamaning nrpati adalah empat sifat utama bagi seorang pemimpin/negarawan yaitu: 1. Jnana wisesa suddha, yaitu seorang pemimpin hendaknya memiliki/menguasai ilmu pengetahuan baik ilmu pengetahuan dan teknologi, agama/ spiritual secara teori maupun praktek. 2. Kaprahitaning praja, yaitu mempunyai perasaan belas kasihan kepada bawahan/rakyat dan berusaha mengadakan perbaikan kondisi masyarakat (catur paramita : maitri, karuna, mudita, dan upeksa). 3. Kawiryan, yaitu mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dengan prinsip berani karena benar dan takut karena salah. 4. Wibhawa, yaitu memiliki kewibawaan terhadap bawahan /rakyat, sehingga setiap perintahnya dapat dilaksanakan dan program yang direncanakan dapat terealisasi.
Selain itu juga ada catur naya sandhi yaitu empat sifat dan tindakan yang bijaksana yang hendaknya dilakukan oleh seorang pemimpin/ negarawan yaitu : 1. Sama, yaitu selalu waspada dan siap-siaga untuk menghadapi segala ancaman musuh baik yang datang dari dalam maupun dari luar yang merongrong kewibawaan pemimpin yang sah. 2. Bheda, yaitu memberikan perlakuan yang sama dan adil tanpa perkecualian dalam melaksanakan hukum/peraturan bagi bawahan/rakyat sehingga tercipta kedisiplinan dan tata tertib dalam masyarakat (penegakan supremasi hukum). 3. Dhana, yaitu mengutamakan sandang pangan, pendidikan dan papan guna menunjang kesejahteraan/ kemakmuran bawahan/rakyat serta memberikan penghargaan bagi warga yang berprestasi. 4. Danda, yaitu menghukum dengan adil kepada semua yang berbuat salah/melanggar hukum sesuai dengan tingkat kesalahan yang diperbuatnya.
Sedangkan ajaran nawa natya adalah sembilan cara seorang pemimpin memilih dan menentukan para pembantunya sebagai berikut: 1. Prajna nidagda, artinya pembantu pemimpin harus bijaksana dan mahir dalam berbagai ilmu pengetahuan sehingga dia akan menjadi bijak dan teguh dalam pendirian. 2. Wira sarwa yuddha, artinya pembantu pemimpin harus pemberani, pantang menyerah dalam segala peperangan atau menghadapi perma-salahan dan tak cepat putus asa. 3. Paramartha, artinya para pembantu pemimpin harus memiliki sikap mulia, luhur dan setia dalam mengabdi dan menjaga rahasia negara. 4. Dhirotsaha, artinya pembantu pemimpin harus tekun dan ulet serta gigih dalam menyukseskan setiap program yang dicanangkan oleh pemimpinnya. 5. Pragiwakya, artinya pembantu pemimpin harus pandai berbicara, berdiplomasi baik ke dalam atau keluar masyarakatnya dan pandai melobiing.
6. Sama upaya, artinya pembantu pemimpin harus satya wacana atau jujur dan setia akan janji yang diucapkan, termasuk janji saat sumpah jabatan. 7. Laghawangartha, artinya pembantu pemimpin bekerjanya tidak hanya mengejar pamerih, dan tidak lobha terhadap harta benda lebih-lebih aset negara (korupsi & kolusi) dan lebih mengutamakan pengabdian. 8. Weruh ring sarwa bhastra, artinya seorang pembantu pemimpin harus pintar dan bijaksana dalam menghadapi gejolak atau kerusuhan yang terjadi dalam negerinya dan mampu meredamnya dengan strategi dialogis. 9. Wiweka, artinya setiap pembantu pemimpin harus dapat berpikir secara logis dan dapat membedakan antara kebenaran dengan yang salah.
Pada ajaran yang lainnya ada dikenal sad upaya guna, seperti : siddhi (mampu menjalin persahabatan), wigraha (mampu memilah persoalan dengan baik), wibhawa (memiliki kewibawaan), winarya (cakap dan bijaksana), gasraya (mampu menghadapi musuh dengan strategi diplomasi), dan sthana (mampu menjaga perdamaian). Kemudian ajaran panca upaya sandhi, yaitu : maya (mampu bertindak jelas lewat intelijen), upeksa (mampu menganalisa masalah secara menarik), indrajala (mampu memecahkan masalah secara maksimal), wikrama (mampu mewujudkan kesejahteraan lahir batin), dan lokika (mampu bertindak sehat, logis, ilmiah dan tidak emosi). Sedangkan ajaran tri upaya sandhi mengajarkan tentang : rupa (mampu mengenali wajah rakyatnya), wamsa (mampu mengenali struktur rakyatnya), dan guna (mampu mengenali keintelektualan masyarakatnya). Jadi demikian beberapa ajaran kepemimpinan Hindu dalam ajaran niti sastra. (Lanjutan)
Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 492 Desember 2007