Manusia Setengah Pendeta, baik laki maupun perempuan, umumnya berkonotasi orang yang belum menjadi atau berstatus pendeta. Kata menjadi dan berstatus dengan jelas menunjukkan bahwa pendeta adalah sosok institusional yang secara formal harus menjadi atau dijadikan. Walaupun belum menjadi dan berstatus pendeta, orang ini melalui realisasi dirinya dalam keseharian bisa dirasakan dan diketahui punya kualitas pendeta yang benar. Benar menurut Ruang, benar menurut Waktu. Benar menurut ajaran (teks), benar pula menurut resepsi masyarakat (konteks). Karena begitu relatifnya kriteria benar dalam urusan ini, di Bali disederhanakan menjadi boleh dan tidak boleh.
Yang disebutkan kedua, Pendeta Setengah, sudah pasti menjadi atau berstatus pendeta. Cuma karena sesuatu dan lain hal, citranya jatuh dan kemudian khalayak menyebutnya demikian. Sebutan Pendeta Setengah menunjukkan kualitas yang rendah, penolakan halus masyarakat, sinisme, dan kritik!
Selain dibedakan oleh kualitas diri masing-masing, setengah Pendeta dan Pendeta Setengah juga dibedakan oleh ritual. Setengah Pendeta tidak atau belum diinisiasi. Pendeta Setengah sudah diinisiasi sekali atau lebih. Ritual adalah kulit. Kualitas diri adalah isi. So What?
Sekarang banyak bermunculan Pendeta Setengah. Mereka ditengarai tidak bisa membedakan Buku Tabungan dan Buku Agama. Tongkat suci dikiranya tongkat komando. Menikmati bentuk, kulit, status, dan mendapatkan penghidupan dari semua itu. Secara fisik mereka dibedakan oleh atribut dengan orang kebanyakan. Secara emosional mereka susah dibedakan karena sama-sama marah, benci, cemburu, sedih, frustrasi, dan memendam kerinduan serta daftar keinginan. Mereka juga berhubungan dengan HP, laptop, bank account, parfum, sun glasses, aksesoris di pakaian, kendaraan TV dan sebagainya.
Keluhan masyarakat atas kualitas pendeta pada umumnya sesungguhnya bukan isu baru. Sudah sangat sering terdengar kritik masam, pedas, kecut pada kaum pendeta, baik kritik dari kalangan sendiri maupun dari kalangan luar. Kalangan sendiri maksudnya kelompok orang-orang yang karena ikatan sejarah dan ritual mendukung penjadian dan pemberian status pendeta kepada seseorang. Sedangkan kalangan luar maksudnya orang-orang yang tidak masuk dalam lingkaran kecil kalangan sendiri itu.
Cerita rakyat yang memuat kritik atas pendeta juga tak sedikit. Cerita berjudul I Bungkling, I Belog, Tam Tam, dan seterusnya dalam berbagai versi adalah beberapa di antaranya. Dalam Drama Gong, Bondres, dan seni pertunjukan lainnya, sering kali sosok pendeta ditampilkan vulgar, banyol, dan tidak proporsional. Penonton tidak keberatan. Mereka tidak merasa dilecehkan dengan pengkarakteran pendeta seperti itu, karena mereka seperti sangat sadar bahwa itu benar adanya. Dan menertawakan ''milik'' sendiri tetap dipilih menjadi jalan keluar alternatif dari permasalahan yang sejatinya amat pelik dan sensitif ini.
Dalam cerita Tantri, satu dari Panca Tantra, bahkan dengan sangat jelasn dikisahkan tokoh Setengah Pendeta, bernama Bhagawan Dharmaswami. Beliau suatu hari mendapatkan anugerah yang ''salah'' dari Bhatara Shiwa. Pada umumnya Wiku Suci menerima anugerah berwujud binatang suci sapi, jenis kelamin betina. Sehingga dapat diperas susunya. Kemudian dimindum. ''Orang suci'' minum ''susu suci'' dari ''binatang suci'' anugerah Shiwa, sumber segala ''kesucian''. Begitu kata ajaran. Tapi Bhagawan Dharmaswami menerima anugerah berupa sapi jantan. Sehingga tidak ada susu. Tidak ada air susu. Dharmaswami tidak mendapatkan dan tidak minum susu-amerta, yang dicita-citakan kaum pendeta pemuja Shiwa. Karena itulah sapi jantan disebut anugerah yang ''salah''. Apa maksud Bhatara Shiwa dengan tanda itu? Jawaban-tafsir atas pertanyaan ini kita bicarakan lain kali. Sekarang kita bicarakan, bagaimana penyikapan Dharmaswami terhadap sapi jantan itu?
Tergodalah pendeta itu membisniskan sapi jantan dengan mengandalkan kekuatan tenaga kasarnya. Bisnis kayu bakar yang dipilih dan dijalankannya ternyata berjalan lancar, sukses, dan sangat menjanjikan. Relasi dan pelanggan semakin banyak. Manajemen produksi dan pemasaran diperbaiki. Investasi satu sapi-anugerah akhirnya berkembang menjadi puluhan bahkan ratusan sapi. Ia menjadi kaya raya. Dan ingin lebih kaya lagi.
Konflik pendeta dengan kekayaan duniawi tidak selalu diselesaikan dengan manajemen Dharma. Tokoh Dharmaswani ditampilkan sebagai wakil pendeta yang gagal dalam manajemen konflik itu. Bersama kekayaannya ia semakin jauh dari kependetaannya. Ia semakin masuk ke dalam dunia perdagangan. Lingkungan pergaulannya adalah pengusaha dan dalam bahasa sekarang selebritis!
Pada akhir cerita Dharmaswami kehilangan anugerah itu. Sapi jantan anugerah itu meninggalkannya. Nasib Dharmaswami: ia ditolak oleh Shiwa, ditolak oleh masyarakat banyak, bahkan ditolak oleh pengarang cerita itu sendiri. Pengarang tidak mau lagi bercerita tentangnya, tentang kependetaannya, tentang bisnisnya, apalagi tentang kekayaannya. Ia sama sekali tidak ditoleh. Tidak dianggap. Adakah yang lebih menyedihkan daripada penolakan seperti itu bagi seorang pendeta.
Makanya, beliau itulah contoh yang tepat dari topik Pendeta Setengah. Walaupun tepat, tidak lantas berarti barisan Pendeta Setengah yang ada sekarang ''berguru'' langsung pada Bhagawan Dharmaswami. Karena sepertinya mereka berguru langsung pada keserakahan yang ternyata tidak mati ketika upacara matiraga saat diksa. Barangkali berguru pada sejawat. Siapa tahu berguru langsung pada Nebenya. Atau berguru pada pencarian yang tidak panjang. Tak penting membicarakan ke mana mereka berguru. Penting memikirkan berapa kira-kira ia akan mengangkat murid untuk menerima ''ilmu-ilmu''-nya. Apa jadinya bila oknum seperti ini juga ternyata serakah cari murid.
Semua ''teks'' itu menunjukkan betapa derasnya arus kritik kepada kalangan pendeta. Orang-orang, bahkan remaja, semakin kritis. Seluruh kritik itu, pada satu sisi, adalah produk dari kependetaan ini sendiri: rendahnya kualitas calon pendeta karena tuntutan kuantitas, standar perguruan kaum pendeta yang beragam, lemahnya pengawasan pada pendeta yang aktif, dan sebagainya. Pada sisi lain, kritik itu menggambarkan perubahan pandangan dan perilaku masyarakat: upacara semakin banyak, kebutuhan akan pendeta meningkat, agama menjadi lebih formal, dan sebagainya.
Itu baru yang nampak di luarnya, sebagai sebuah fenomena. Tak mudah menjelaskan apa sejatinya yang ada di balik gejala ini. Kompleks dan semakin kompleks. Kepentingan politik dan ekonomi sudah pasti. Walaupun demikian, tetap harus ada yang bertanggung jawab.
Tidak gampang menunjuk siapa yang mesti bertanggung jawab pada saat semua jalan sendiri-sendiri, dengan pembenar sendiri-sendiri, bahkan dengan ''pasukan'' sendiri-sendiri, babad sendiri-sendiri. Lembaga kependetaan dalam segala bentuk dan modifikasinya, mestilah menjadi yang pertama terpanggil untuk menyikapinya.
Pendeta Setengah cepat atau lambat akan berhadapan dengan Setengah Pendeta. Sekarang banyak bermunculan manusia-manusia setengah pendeta. Kemunculan mereka tidak begitu jelas dapat ditandai. Karena mereka tampil tanpa bentuk. Tanpa kelembagaan. Sepertinya mereka melahirkan diri dari proses panjang pencarian sendiri ke dalam maupun ke luar diri. Mereka lahir sebagai perlawanan terhadap Pendeta Setengah. Maaf, belum banyak yang dapat dibicarakan tentang fenomena manusia setengah pendeta ini.
Source: IBM Dharma Palguna l Balipost Minggu Kliwon, 10 September 2006