Membangun Keseimbangan Alam dan Manusia

Keberadaan Pelinggih Meru Tumpang Sebelas dan Tumpang Sembilan di Pura Besakih sangat patut menjadi perhatian kita, terutama umat Hindu di Bali khususnya. Mengajegkan Bali pada hakikatnya mendayagunakan ajaran Hindu sebagai sumber kekuatan spiritual untuk meningkatkan kualitas sumber daya alam dan sumber daya manusia secara seimbang dan senantiasa bersinergi. Seperti apa konsep Meru Tumpang Sebelas dan Tumpang Sembilan di Penataran Pura Besakih?

Berbakti pada Tuhan harus didayagunakan untuk memotivasi diri masing-masing untuk memperlakukan alam dan manusia menurut hukum rta dan dharma. Tuhan telah menciptakan alam dengan hukum rta-nya. Sepanjang manusia tidak merusak dinamika hukum rta itu maka alam akan senantiasa lestari dan selalu menyediakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di bumi ini. Demikian juga sesama manusia wajib hidup untuk saling beryadnya sesuai dengan swadharma masing-masing.

Meru Tumpang Sebelas dan Sembilan di Penataran Agung Besakih itu memang simbol yang membisu atau mona. Tetapi kalau umat bisa mengungkap di balik diamnya simbol Meru itu maka banyak rahasia sakral yang bisa terungkap. Meru itu memang ada dua jenis. Ada Meru untuk Atma Pratistha dan ada Meru untuk Dewa Pratistha. 

Meru Tumpang Sebelas dan Sembilan di Panataran Agung Besakih ini adalah Meru untuk Dewa Pratistha. Artinya Meru sebagai sarana sakral untuk memuja Dewa manifestasi Tuhan Yang Maha Esa. Meru Atma Pratistha adalah meru sebagai sarana untuk memuja roh suci leluhur yang disebut Dewa Pitara atau Pitara yang telah mencapai alam Dewa atau Siddha Dewata. Letak perbedaan antara Meru untuk Dewa Pratistha dan Meru untuk Atma Pratistha adalah pada sarana pedagingan-nya.

Kembali kita bahas makna filosofi dari Meru Tumpang Sebelas dan Sembilan. Dua simbol sakral ini jangan hanya dijadikan media pemujaan semata. Tetapi setelah pemujaan dilakukan hendaknya dilanjutkan dengan mewujudkan makna pemujaan itu dalam kehidupan empiris menata keberatan sumber daya alam dan sumber daya manusia secara seimbang. 

Bhagawad Gita V.25 menyatakan bahwa salah satu penyebab manusia bisa mencapai Brahmanirvana adalah mereka yang dengan senang hati dan tulus ikhlas melakukan upaya pelestarian alam (sarva bhuta hita rat h). Demikian juga Sarasamuscaya 135 menyatakan bahwa dengan istilah Bhuta Hita yang artinya mensejahterakan alam. Keadaan alam dewasa ini sudah demikian merosot karena ulah manusia yang mengeksploitasi sumber daya alami secara berlebihan.

Keadaan ini harus ditangani sesegera mungkin dengan cara mengoreksi gaya hidup umat manusia. Dewasa ini gaya hidup manusia terlalu mengejar kenikmatan indrawi atau disebut gaya hidup yang hedonistis. Hidup yang lebih mengutamakan mengejar kesenangan daripada ketenangan. Untuk dapat hidup bersenang-senang membutuhkan berbagai fasilitas hidup modern. 

Untuk menyiapkan fasilitas hidup bersenang-senang, banyak sekali dibutuhkan bahan alam terutama dari mineral yang tak terbarukan. Seperti bijih besi, minyak bumi, nikel, timah, mangaan dan sejenisnya. Semua bahan-bahan itu untuk membuat barang-barang yang dibutuhkan oleh manusia modern memenuhi kenikmatan hidupnya. Barang-barang tersebut seperti mobil dengan berbagai aksesorinya membutuhkan banyak bijih besi dan bahan-bahan lainnya. 

Demikian juga bahan-bahan bangunan rumah dengan segala kelengkapannya. Semakin mewah rumah tinggal atau kantor itu semakin bayak membutuhkan bahan-bahan mineral yang tak terbarukan. Demikian juga alat-alat hidup lainnya. Di samping bahan-bahan itu dari meneral yang tak terbarukan, juga banyak menggunakan bahan alam yang bisa terbarukan seperti bahan-bahan dari kayu dan bahan-bahan dari hewan peliharaan. Upaya pelestarian melalui program konservasi dan pernapasan sering tidak seimbang. Seperti pernapasan hasil hutan tidak seimbang dengan upaya konservasinya. Hal ini menyebabkan kualitas alam semakin merosot. 

Oleh karena itu, makna pemujaan Tuhan lewat Meru Tumpang Sebelas dan Sembilan di Penataran Agung Besakih untuk mendorong umat secara rohani agar berupaya menyeimbangkan pembangunan kualitas sumber daya alam dan sumber daya manusia. Manusia harus dibangun hati nuraninya agar bisa hidup sederhana tidak berlebihan agar sumber daya alam tidak sampai merosot karena dieksploitasi secara berlebihan.

Untuk mewujudkan makna pemujaan Tuhan di Meru tersebut harus dimulai dari pembinaan hati nurani manusia agar menusia memiliki karakter yang mulia. Membangun karakter melalui pendidikan yang benar. Mahatma Gandi menyatakan pendidikan tanpa karakter akan menimbulkan dosa sosial. Memuja Tuhan, memelihara alam dan mengabdi dengan sesama harus dilakukan dengan seimbang dan simultan. Hal itulah yang disebut Tri Hita Karana. 

Dalam melakukan tiga hal itu, manusialah sebagai titik sentralnya. Membangun keseimbangan alam haruslah dimulai oleh manusia sendiri. Sasarannya adalah membangun manusia yang terpanggil untuk hidup berdasarkan kebutuhan, bukan berdasarkan keinginan. 

Hidup seimbang itu adalah hidup yang berorientasi pada hidup sekala dan niskala. Memandang kehidupan ini dengan konsep Tri Semaya dan Tri Kona. Tri Semaya adalah Atita, Nagata dan Wartamana. Maksudnya apa yang kita lakukan dewasa ini (Wartamana) hendaknya berorientasi pada masa lampau (Atita) dan merumuskan harapan masa depan (Nagata). Dengan cara pandang itu kita tidak mengeksploitasi alam hanya untuk kepuasan hidup kita saat ini saja. Perhitungkan juga kehidupan generasi yang akan datang. Dengan pandangan demikian kita bisa lebih hemat menggunakan sumber daya alam.

Dalam meniti kehidupan ini hendaknya kita juga berpegang pada konsep Tri Kona yaitu menciptakan sesuatu yang sepatutnya kita ciptakan (utpati), memelihara sesuatu yang sepatutnya kita pelihara dan lindungi (Stithi). Demikian juga menghilangkan atau meninggalkan sesuatu yang memang sudah sepatutnya kita hilangkan atau tinggalkan (Pralina). Konsep pengendali dinamika hidup Utpati, Stithi dan Pralina itu dalam semua aspek kehidupan.

Seperti paradigma hidup modern yang boros itu harus diubah bahwa hidup modern itu adalah hidup hemat dan cermat. Tetapi tidak mengurangi asas manfaat untuk membangun kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang itu.

 

Source: Wiana l Bali Post, Rabu Umanis, 24 Januari 2007