Memupuk Nilai-Nilai Kemanusiaan

Dewasa ini manusia merasa bangga karena telah menguasai berbagai cabang ilmu pengetahuan dan mempelajari sejumlah buku. Namun, ia tidak berusaha memahami hakikat pendidikan. Kini pengetahuan hanya dibatasi
pada aspek fisik dan duniawi; aspek moral, etis, dan spiritual telah iiabaikan.

Sekarang ini orang tua berusaha keras menyekolahkan anak-inaknya. Namun, tidak seorang pun berusaha mengetahui makna pendidikan yang sebenarnya. Orang-orang mengira bahwa mereka nig dapat berbicara dengan fasih dan telah mempelajari sejumlah buku adalah orang yang berpendidikan tinggi. Tetapi, sesungguhnya itu hanya memperlihatkan pengetahuan tentang abjad. Sekadar pengetahuan tentang abjad tidak dapat disebut pendidikan.

Kini orang-orang berusaha mengetahui makna berbagai kalimat tanpa mencoba mengetahui arti aksara dan kata yang membentuk kalimat itu. Bahkan para guru di sekolah pun kini hanya memberikan arti duniawi pendidikan namun tidak seorang pun memberikan makna moral, etis, dan spiritual yang terkandung dalam pendidikan. Para guru bertanggungjawab menyebarkan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip moral, etis, dan spiritual. Itulah pendidikan sejati.

Walaupun mempelajari dan memperoleh segala pengetahuan duniawi, akhirnya menusia harus menemui ajalnya. Ini tidak bisa dihindari. Semasa hidupnya, manusia harus mempelajari pengetahuan yang membuatnya abadi. Itulah pengetahuan mengenai lima nilai-nilai kemanusiaan yaitu; kebenaran (salya), perbuatan yang benar secara moral (dharma), kedamaian (shanti), kasih (prema), dan tanpa kekerasan (ahimsa).

Yang pertama adalah kebenaran. Kebenaran itu abadi. Kebenaran itu satu, bukan dua. Perbuatan benar secara moral juga abadi. Kedamaian adalah sumber kebahagiaan jiwa. Berikutnya adalah kasih. Dari anak kecil hingga orang tua renta yang hampir meninggalkan raga, memiliki kasih sebagai sifat bawaannya. Namun, kasih tidak mengenai kematian. Yang terakhir, tetapi tidak kalah pentingnya adalah tanpa kekerasan.

Mengetahui dan mengamalkan kelima prinsip ini merupakan pendidikan yang sejati. Ucapkan kebenaran, ikuti jalan kebajikan, dan hayati kedamaian. Memberikan kasih dengan senang hati kepada semua makhluk dan menempuh hidup dengan menerapkan tanpa kekerasan, inilah intisari pendidikan. Inilah kelima nilai kemanusiaan utama yang harus disebarluaskan dan diterapkan.

Setiap orang diberkati dengan kelima nilai kemanusiaan ini. Bila kita memupuk kelima nilai kemanusiaan ini, kita akan mencapai kesadaran Tuhan. Weda menyatakan, "Tat twam asi" 'engkau adalah itu'. Pernyataan Weda yang sangat mendalam ini mengandung intisari segala pengetahuan. Karena itu, kelima nilai kemanusiaan yang laten dalam diri manusia ini harus dibangkitkan sejak masa kanak-kanak. Ini adalah tanggungjawab guru di sekolah dalam membina anak didiknya.

Bila kita bertumpu pada kebenaran, kita akan dapat mencapai apa saja dalam hidup. Daivam manusha ruupenam, artinya 'Tuhanlah yang mengambil wujud manusia ini'. Tuhan tidak terpisah dari manusia. Semuanya adalah perwujudan Tuhan. Prinsip atma (kesadaran) yang sama ada dalam semuanya, tetapi mengambil banyak nama.

Tingkatkan rasa percaya diri. Hadapi segala kesulitan dengan percaya diri. Siapa pun yang kita lihat, anggaplah orang itu sebagai cerminan kita sendiri. Tuhan melampaui segala sifat dan kegiatan. Pupuklah semangat pengorbanan.

Kita harus bersedia melakukan pengorbanan apa saja. Miliki keyakinan yang teguh bahwa kita adalah perwujudan kesadaran Tuhan dan Tuhan tidah terpisah dari diri kita. Ke mana pun kita memandang, Tuhan ada di situ. Tiada apa pun lainnya kecuali Tuhan. Nama dan wujud mungkin berlainan, tetapi prinsip atma yang sama ada dalam semuanya.

Cukuplah bila kita mengetahui kelima prinsip ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan melaksanakan kelima prinsip ini, maka kita dapat mengetahuinya, bukan hanya sekadar membaca atau menulis tentang hal itu. Pengetahuan apa saja yang tidak diamalkan sama sekali bukan pengetahuan. Praktekkan setidak-tidaknya satu atau dua prinsip dalam hidup. Hanya dengan demikianlah hidup akan diselamatkan dan kita akan memperoleh pahala. Dengan demikian kita telah mengikuti jalan yang benar.

Kelima nilai-nilai kemanusiaan ini berasal dari Tuhan. Ke mana pun kita memandang, di situ akan terdapat prinsip keesaan. Tuhan dan manusia itu satu. Kita tidak akan pernah terpisah dari Tuhan. Sebab, kita adalah kesadaran Tuhan. Kita mesti menganggap sesama manusia sebagai saudara dan meneguhkan ikatan kasih dengan mereka. Sudah saatnya manusia itu bersatu. Jangan pernah mem-beri peluang pada sifat-sifat buruk seperti kemarahan, kebencian, dan kedengkian. Cacat cela semacam itu hanya akan menimbulkan perselisihan.

Kita harus memupuk kelima nilai-nilai kemanusiaan yang akan meningkatkan keselarasan dan persatuan di dunia. Kita harus mengembangkan aneka keutamaan yang membuat hubimgan kita lebih erat dan rukun, bukan sifat-sifat yang akan menjauhkan kita dari satu sama lain.

Oleh: A.A Gede Raka
Source: Majalah Raditya, Edisi 229