Meningkatkan Cinta Kasih Melalui Dana Punia

Di tengah semakin kompleknya tantangan kehidupan umat yang terjadi, sangat menuntut adanya rasa eling sebagai bentuk rasa kepedulian. Dapat memperkuat nilai rasa kepedulian dengan sesama akan dapat melahirkan rasa saling menjaga, melindungi, dan mengasihi, secara tulus yang bermuara pada keharmonisan hidup. Agar mampu membangun budaya kondusif seperti ini menuntut adanya komunikasi yang intens agar selalu terpelihara rasa memiliki yang kuat diantara sesama umat. Dapat memelihara hubungan yang harmonis agar kehidupan terbangun damai dengan sesama umat menjadi tanggung jawab kita bersama. Mampu meletakan konsep kehidupan "Segilik seguluk selulung sebayantaka" dalam segala dinamika yang terjadi.

Kekuatan kebersamaan umat dalam membangkitkan rasa membangun kemandirian menjadi tantangan nyata saat ini di tengah dinamika cobaan dan godaan yang begitu deras mengancam umat. Bagaimana kita mampu memperkuat rasa persaudaraan sebagai keluarga besar agar terbangun rasa solidaritas yang mumpuni sebagai bentuk kepedulian dalam membangun kehidupan. Fanatisme umat harus mampu ditumbuhkembangkan secara intens dalam menggalang rasa kebersamaa dengan penuh cinta kasih untuk memperkuat jalinan komunikasi. Mampu mendekatkan jarak umat dalam segala dinamika yang ada memerlukan jalinan komunikasi yang kuat sebagai bentuk membangun kualitas kehidupan umat.

Tentu kita sangat terenyuh melihat kisah miris yang sangat menyentuh rasa cinta kasih kemanusiaan, ketika ada anak hidup dalam balutan serba kekurangan di tengah deru gemrincing dolar turis yang datang, atau meriahnya seremoni upacara keagamaan yang sampai menghabiskan dana cukup besar.

Mampu meletakkan hakekat kehidupan yang hakiki dimana kebahagian hidup kita adalah bagian dari kebahagiaan kehidupan orang lain. Begitu pula dimana derita orang lain adalah bagian dari derita kehidupan kita pula (Tat Twam Asi) seharusnya ini menjadi jangkar pengendalian diri umat dalam memperkuat menjalani kehidupan lebih bermakna. Hidup dan kehidupan sesungguhnya berangkat dari ketulusan keluhuran budi menuju keharmonisan yang hakiki.

Tentu kita dapat belajar banyak dari kemuliaan kehidupan Gandhi, di tengah derita panjang yang akut mendera terbersit harapan yang begitu mulia. Kukuh dalam kemandirian memerdekakan rakyat dengan mengedepakan nilai cinta kasih kemanusiaan menjadi sanjata ampuh yang ditakuti lawan. Mereka mampu membangun tonggak nilai cinta kasih balam balutan yang tanpa kekerasan melawan tirani kekuasaan yang ada. Dengan kekuatan daya imajiner membangun sentuhan-sentuhan nilai cinta kasih dalam perlawanan yang mampu menggugah lingkungan sekitarnya. Ketika ajaran nilai cinta kasih tertanam dalam kehidupan sekitarnya dengan kokoh, maka kekuatan apa-pun yang mau mengancam akan luluh dengan sendirinya.

Membangun Kepedulian
Tentu masih segar dalam ingatan kita, dimana ketika "tukang suun" di Pasar Badung dikasi sembako, diajak piknik, dan diajak shoping sebagai bentuk jebakan terselubung agar mau berubah keyakinan menjadi berita miris. Begitu pula ketika ada kelempok tertentu menyasar umat kita yang papa dengan memberikan bantuan yang ujung-ujungnya diajak pindah keyakinan sudah menjadi penomena klasik yang terjadi di tengah lingkungan kita. Dalam segala keterbatasan umat yang papa memerlukan uluran tangan agar terangkat hidupnya dari lembah derita. Kesendirian dalam kungkungan derita ketika ada yang mau membantu seperti berlagak Robihood, maka bila tidak jeli membaca situasi akan terjebak ranjau yang lebih fatal.

Lemahnya sikap dan sifat kepeduliaan sesama umat selama ini sering dijadikan peluang mengeksploitasi umat baik dalam bentuk materi maupun keyakinan. Tentu menjadi berita miris, dimana ketika umat kita kawin dengan umat agama lain begitu mudahnya pindah agama, bukan saja dari kalangan yang rendah tingkat pendidikanya, bahkan yang berpendidikan tinggi pun yang mempunyai jabatan tinggi ikut "paid bangkung". Sedangkan untuk mengajak pindah ke agama Hindu susah setengah mati dengan berbagai alasan yang dipasang, yang katanya nanti akan masuk neraka.

Masih lemahnya rasa militansi umat memegang teguh nilai-nilai (tatwa) agama Hindu menjadi hambatan selama ini sehingga mudah berpindah agama. Beragama selama ini sering diidentikkan dengan sibuk membuat banten saja dikalangan tertentu, dengan kurang memperdalam tattwa yang ada. Fenomena seperti ini menjadikan agama dipahami sangat rumit, dan memakan biaya, waktu, serta tenaga yang besar dalam penyelenggaraan. Apalagi terkungkung oleh adat yang kaku di desa pekraman, maka komplit sudah keadaan yang terjadi selama ini. Keadaan dilematis ini sering dijadikan pembenar alasan mau pindah agama, karena keterbatasan tingkat pemahaman yang ada.

Untuk mengantisipasi kelemahan ini, maka sangat perlu ditingkatkan rasa kepedulian sesama umat dengan membangun solidaritas dana punia. Tentu sangat ironis dimana ketika disatu sisi dalam penyelenggaraan upacara dimana umat sampai menghabiskan jumlah dana yang cukup besar, sementara di sisi lain masih ada umat yang hidupnya papa. Pemandangan miris seperti ini akan menjadi anomali dalam kita beragama yang sesungguhnya. Keesaan Tuhan dalam segala manifestasinya begitu mulia, agung, dan tidak terbatas, dalam ruang dan waktu, seharusnya mampu kita yakini secara penuh. Mampu memahami beragama sebagai jembatan rohani menuju kebahagian (moksa) dalam kontek kehidupan yang harmonis di dunia ini secara lahir dan batin. Kontek menuju Tuhan bukan bersifat vertikal belaka, dengan mengabaikan yang bersifat horizontal. Ini sangat menuntut adanya keselarasan yang memadai.

Memperkuat solidaritas umat dengan menggalang dana punia sebagai bentuk kepedulian, tidak mudah kena pengaruh umat lain yang berkeinginan tidak baik. Budaya bexdana punia harus dapat dibangkitkan agar umat tercerahkan secara lahir batin. Untuk itu menjadi tanggung jawab kita bersama memberdayakan umat agar lebih mempunyai daya tawar yang kuat dengan memberi perhatian yang maksimal. Tentu tidak ada yang kehidupanya sampai miskin ketika akan melakukan dana punia, bila sudah didasarkan atas kesadaran dengan perhitungan yang memadai. Ini ibaratnya menanam benih kebaikan akan tersemai menjadi tunas-tunas mulia yang menyebarkan kebajikan. Solidaritas dana punia adalah manifestasi terwujudnya umat yang lebih mempunyai daya tawar di tengah tantangan yang terjadi.

Kontek dana punia ini berangkat dari rasa ketulusan dan kepeduliaan dalam membangun umat lebih tercerahkan, baik dalam artian materi (arthadand) maupun yang non materi (dharmadana, widyadana). Kontek miskin disini mengandung arti materi dan non materi yang perlu pencerahan. Menanamkan sikap dan sifat bexdana punia dengan tidak henti-hentinya yang dilakukan secara tulus akan memberi kepuasan tersendiri dalam menjalani hidup ini. Ini adalah vitamin kehidupan sebagai bentuk membangun kekuatan spiritualitas agar dapat memberi semangat hidup diantara sesama umat.

Pemsembahan suci dana punia seharusnya bukan didasari oleh rasa pamerih yang menghantui dalam menarik perhatian sesaat. Keberadaan dana punia adalah bagian dari menjaga kesimbangan hidup agar dapat melatih ketulusan budi dengan sesama. Membangkitkan solidaritas komunitas yang ada sebagai makhluk sosial yang tidak lepas dari interaksi dengan sesama. Memangkitkan rasa kebersamaan dalam suka dan duka adalah domain dalam membangun cinta kasih yang saling melengkapi.

Di tengah pasang surut kehidupan umat yang terjadi, maka keberadaan dana punia sangat diharapkan terwujud secara eksis. Karena ini adalah media penghubung yang mampu mendekatkan umat dari segala tantangan yang terjadi. Untuk itu pola pengembangan dana punia umat harus dapat ditumbuhkembangkan dalam suatu wadah yang mampu mengayomi secara utuh. Dana punia sebagai media menggalang solidaritas umat untuk menepis segala bentuk kegelapan harus mampu terbangun dalam wadah yang jelas, tegas, dan bertanggung jawab di tengah masyarakat.

Sekecil apapun sumbangsih kepada umat menjadi bentuk kepedulian yang sangat diharapkan. Ini memerlukan pemikiran yang holistik baik dari segi wadah, penggalangan dana, penyaluran, serta pembukuan yang memadai. Dana punia sebagai wadah mempersatu umat, dengan memberikan jumlah tertentu dari penghasilan secara tulus iklas dalam membangun kepedulian umat mewujudkan cinta kasih yang mulia.

Oleh: I Nyoman Sugiartha
Source: Majalah Raditya, Edisi 231 Oktober
Penulis Peminat masalah sosial kemasyarakatan, Staf Pengajar Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri Bali