Moralitas dan Intelektualitas dalam Spiritualitas

Ada pendakian yang terus-menerus dari inorganik ke yang organik, dari organik ke makhluk yang perasaan, dari makhluk berperasaan kepada kehidupan yang rasional. Yang rasional harus tumbuh berkembang menjadi yang spiritual, yang jauh di atas rasional, sama jauh dengan yang rasional berada di atas makhluk berperasaan.
Sarvepalli Radhakrishnan.

Penyelarasan antara Moral dan Intelek
Tak sedikit orang yang cenderung mempertentangkan antara moral dan intelektual, atau setidak-tidaknya, memposisikannya sebagai sesuatu yang terpisah satu dengan yang lainnya. Ungkapan seperti: "Moral tanpa intelektual adalah impotensi, dan intelektual tanpa moral adalah bencana.", menyiratkan hadirnya paradigma itu.

Namun apakah mereka memang benar-benar terpisah bagi kita? Hingga batas-batas kedalaman tertentu tampaknya memang demikian. Akan tetapi, bila kita lihat lebih dalam lagi, akan tampak lain. Yang pasti adalah, mereka sama-sama eksponen metal-psikologis yang penting bagi manusia. Dalam operasi dan keberadaannyapun mereka saling mempengaruhi. Dalam operasinya inilah berbagai perbuatan, baik melalui pemikiran, ucapan maupun fisikal lainnya, terekspresi di permukaan.

Suatu tindakan fisikal dan ucapan verbal kita bermula dari adanya dorongan di dalam. Apakah ia sepenuhnya merupakan aksi, sepenuhnya sebagai reaksi, maupun rangkaian kombinasi dari keduanya. Dorongan inilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Dorongan ini, tentu tak dapat dilepaskan begitu saja dari derajat kebermoralan dan juga tingkat intelektualitas kita. Inilah mekanismenya yang 'wajar'; dalam arti bilamana seseorang tidak dalam keadaan sepenuhnya mabuk, lupa-diri atau gila. Dalam batas-batas kenormalan dan kewajaran kita, kita akan bertindak sesuai mekanisme tersebut. Jadi, secara situasional, moralitas dan intelektualitas dari seseorang sebetulnya bekerja nyaris serentak, isi mengisi, pengaruh mempengaruhi.

Adakah fenomena internal yang sama juga melahirkan cetusan Hinduistis seperti: "Tidak ada kejahatan atau tindakan dosa; yang ada hanya kebodohan."? Sangat boleh jadi. Namun, kebodohan dalam Hindu bukan terbatas hanya pada rendahnya derajat intelejensia seseorang. Ia diturunkan dari bahasa Sanskrit, avidya yang dalam bahasa Inggris seringkah dipadankan dengan "ignorence". Avidya lebih merujuk pada ketidak-sadaran total akan Hakekat Kesujatian kita, yang tidak memungkinkan seseorang untuk dapat membedakan dengan baik mana Kesujatian dan mana Kesemuan. Secara khusus kemampuan pembeda ini disebut viveka. Dan oleh Bhagawan Wararuci, avidya bahkan dipandang sebagai akar penyebab dari Samsara, kelahiran berulang-ulang di berbagai alam kehidupan.

Jangan hanya bersandar pada Intelek yang kering
Ada sebuah parabel menarik yang relevan dengan pembicaraan kita kali ini, yang merupakan karya dari mendiang Sri Swami Sivananda Sarasvati, Pendiri The Devine Life Society. Ia diberi judul: "Parable Of The Brahmanishtha And His Disciple". Parabel ini merupakan salah-satu parabel di dalam kitab karya beliau yang diberi nama "PARABLES OF SIVANANDA".

"Pada suatu ketika hiduplah seorang yang benar-benar Brahmanishtha Guru. Beliau sepenuhnya melibatkan diri dalam usaha mencerahi semua umat manusia menggunakan pengetahuan dan pengalaman intuitifnya, melalui berbagai cara yang dimungkinkan, melalui wejangan-wejangan, menulis buku-buku, memberi bimbingan-bimbingan spiritual, dll. Beliau mempekerjakan salah seorang sishya atau siswa spiritualnya, untuk mencatat, dan mengkompilasi buku-buku karyanya.

Bersama dengan berjalannya waktu, sishya itu secara virtual menjadi sebuah plat gramofon. Ia selalu mengulang-ulang kata-kata dan ekspresi-ekspresi dari Sang Guru. Dengan berbuat demikian, ia bengkak oleh kesombongan dan kebanggaan. Ia mengatakan kemana-mana, "Apa yang diketahui oleh Sang Guru? Aku mengingat di luar kepala sedemikian banyak hal Aku bisa mengutip langsung semua kitab-kitab suci. Aku adalah seorang Jnani yang matang, yang mengetahui segalanya." Dalam waktu singkat, ia pun jadi murtad.

Pada suatu ketika salah seorang umat pengikut dari Sang Guru kehilangan salah seorang dari anggota keluarganya. Sang Guru menunjuk sishya murtad itu dan menyuruhnya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang sedang berduka kehilangan sanak keluarganya itu. Si sishya pergi mengunjungi keluarga yang sedang ditimpa kemalangan itu, betapa mestinya, dan dengan bersungguh-sunnguh ia mulai memberi suatu wejangan Vedantik terkait dengan itu. Namun, semua malah tampak bagaikan orang tuli. Dan mereka pun masih saja kesedihan dan kemuraman tampak di wajah-wajah mereka.

Tiba-tiba, Sang Guru menampakkan diri di hadapan mereka. Kehadiran beliau membuat mereka bersuka-cita dan merasa bergembira lagi, dan melupakan hilangnya anggota keluarga itu. Padahal Sang Guru hanya bicara satu dua patah kata saja; namun mereka semuanya bertransformasi seketika, secara mental.

Ingatlah nasehat Kenopanishad, "Yang tidak dapat dipikirkan oleh seseorang dengan pikirannya; dengan apa pikiran itu sendiri diketahui", dan seterusnya. Para filsuf intelek yang teoritis, hidup dalam kesengsaraan di dunia ini. Mereka tiada gunanya bagi kemanusiaan. Pembicaraannya terdengar sumbang di telinga publik, seperti wejangan Vedantik yang diberikan sishya itu.

Dapatkah bulan mengklaim bahwa ia bersinar atas cahayanya sendiri, yang membantumu dengan sinarnya sendiri, yang sinarnya mengungguli sinar mentari? Ketika matahari terbit, kemegahan dan kesejatian dari sinar bulan diketahui dengan gamblang. Demikian pula halnya dengan pengetahuan dan pengalaman intuitif, pengetahuan terbit dengan sendirinya dalam hari yang berpengalaman; apa gunanya pengetahuan dari otak saja?

Para Rshi, orang-orang suci dan orang-orang yang mencerahi seluruh umat manusra punya hubungan kuat. Kendati mereka diam saja, hanya kehadirannya saja, akan dapat mentransformasikan jiwa umat manusia; namun sebaliknya, hanya 'intelek kering' tak dapat mencerahi kendati hanya seorang saja. Pengetahuan yang anda peroleh itu bukanlah milikmu, akan tetapi kepunyaan Tuhan. Salurkanlah Superioritas-Nya dan berserahlah kepada Kehendak-Nya."

Moralitas Tertinggi
Saya rasa ada baiknya juga bila saya sajikan terjemahan tanya-jawab antara seorang tamu peminat spiritualitas dengan Sri Swami Krishnanda, Sekcretaris Jenderal The Devine Life Society berikut, sebagai pelengkap.

Tamu: Apakah moralitas itu?
SWAMIJI: . Anda mesti menjadi seorang siswa dari seorang Guru. Bahkan orang yang cerdaspun tak akan mengertinya. Kita memang telah punya definisi politis, atau pun definisi sosial untuknya. Apapun yang baik bagi negara Anda adalah moral bukankah demikian? Ini adalah salah-satu definisinya, namun ini belumlah kebenarannya secara menyeluruh.

Apapun yang baik bagi anggota keluarga dan kerabat Anda adalah baik secara moral. Namun, inipun masih bukan kebenaran secara menyeluruh. Apapun yang baik menurut lingkungan kecil keluarga Anda itu, belum tentu juga baik untuk seluruh warga negara di negri Anda. Jadi, moralitas Anda amat terbatas dalam hal ini. Demikian pula yang baik menurut negaramu, belum tentu baik bagi seluruh dunia, nah.... disinipun moralitas Anda itu amat terbatas adanya. Lantas apa yang Anda maksudkan dengan "moralitas"? Anda mesti menilainya secara kontekstualnya seperti obat. Apakah menurut Anda "obat" itu? Anda tak dapat menyebutkan obat tertentu, kecuali Anda mengetahui apa sakit yang diderita yang hendak diobati itu. Bila Anda meminta obat, Anda akan ditanyai untuk mengobati penyakit apa? Dari padanyalah suatu obat tertentu dianjurkan. Jadi, gagasan Anda tentang moralitas tergantung pada keberadaan Anda secara fisik, intelek, sosial, psikologis, dan politis. Jadi, sesungguhnya tak ada jawaban khusus untuk pertanyaan serupa itu. Segala sesuatunya relatif dan terkondisi.

Katakanlah seseorang menanyakan, "Apakah baik untuk memotong tangan seseorang?" Anda akan menjawabnya itu sangat tidak baik, akan tetapi beda halnya bila Anda seorang akhli bedah yang harus mengamputasi tangan seseorang. Bukankah ini baik? Makanya, apakah memotong tangan baik atau buruk? Lagi-lagi harus dikatakan bahwa itu pertanyaan relatif. Jadi semua pertanyaan mengundang jawaban relatif; tergantung kondisi-kondisi yang ada, keterkaitan-keterkaitan yang ada serta urgensi-urgensinya, sesudah mengetahui semua itu secara menyeluruhlah Anda baru dapat memutuskan apa sebaiknya. Akhirnya, itu hanya bisa dikatakan baik, bilamana dapat membantumu secara langsung atau tidak langsung dalam mencapai Tuhan. Hanya itu yang dapat disebut baik. Ia bisa saja tak bermanfaat langsung, akan tetapi sekurang-kurangnya bermanfaat tak-langsung. Anda harus menilainya sendiri: apakah ini akan membantumu sedemikian rupa, sekurang-kurangnya secara tidak-langsung dalam mencapai Yang Mutlak? Bila demikian, maka ia sungguh-sungguh benar, tiada yang salah dengannya.

Dikatakan bahwa orang yang nyaris mati kelaparan bahkan bisa mencuri makanan, walaupun Anda tidak dapat menyebut mencuri itu baik. Ambil contoh, bila ada orang gila yang mengacung-acungkan sebilah pedang di tangannya, dan Anda dengan diam-diam menyelinap di belakangnya dan mencuri pedang itu dari tangannya. Apakah Anda telah melakukan suatu perbuatan baik atau buruk? Jadi, mencuri tidak selamanya buruk. Anda tak dapat menjawab pertanyaan apapun dengan cara memutlakkannya saja sedemikian rupa. Mereka relatif dan terkondisi. Meminum brandy bisa jadi sangat buruk, akan tetapi misalnya ada seseorang telah jatuh dari atas pohon dan pingsan. Anda dapat menuangkan sesendok brandy ke mulutnya, untuk menyadarkannya. Apakah brandy baik atau buruk? Dalam hal ini juga tergantung. Setiap pertanyaan harus ditempatkan dengan hati-hati, dan jawabanpun mesti diberikan sesuai dengannya.

Tamu: Swamiji, apakah Anda akan mengatakan sesuatu sebagai takbermoral bila ia mempunyai pengaruh merusak terhadap orang lain?
SWAMIJI: Ini tidak ada urusannya dengan orang "lain". Ini menyangkut orang pada umumnya, karena Anda pun "orang lain" bagi orang-orang tertentu. Bagi orang yang bukan diri Anda sendiri, Anda menyebutnya "orang lain". Lalu, apa yang Anda maksudkan dengan "orang lain"? Tak ada "orang lain" di dunia ini. Setiap orang setara dengan yang lainnya. Bagi saya, Anda orang "lain", dan bagi Anda, sayalah orang "lain" itu. Bila Anda mengatakan "orang lain", siapa mereka itu? Bukankah setiap orang malah hanya "orang lain" jadinya, mengikuti apa yang seringkah Anda katakan itu? Anda mesti berhati-hati menggunakan kata itu. Apa yang Anda maksudkan adalah setiap orang. Dengan mengatakan "orang lain" Anda telah memasukkan diri Anda juga di dalamnya. Anda juga "orang lain". Jadi, apapun baik bagi setiap orang adalah baik. Dan jangan katakan "orang lain".

Apapun yang baik bagi setiap orang adalah baik, dan Anda harus menilainya sendiri, apa yang baik bagi semua orang. Berhati-hatilah. Hal terbaik disini adalah tidak buru-buru menilai. Ada ungkapan bijak yang mengatakan, "Jangan menilai, agar Anda tidak dinilai." Anda akan dinilai dengan cara yang sama, bila Anda menilai yang lainnya demikian. Dunia memang bekerja dengan cara serupa itu. Apapun yang Anda pikirkan tentang orang lain, demikianlah orang itu memikirkan tentang Anda, dan apapun yang Anda lakukan terhadap orang lain, akan dilakukan juga terhadap Anda. Makanya, "perlakukanlah orang lain  seperti Anda memperlakukan diri Anda sendiri."

Inilah tipe etika yang tertinggi. Bila Anda ingin mengetahui apa moralitas itu, maka Anda dapat mengatakannya hanya dalam satu kalimat saja: "Perlakukanlah orang lain seperti Anda memperlakukan diri Anda sendiri." Hanya itu. Dalam spiritualitas Hindu, dan saya kira ajaran agama manapun, baik moralitas maupun intelektualitas merupakan penopang-penopang utama. Bahkan, dalam Yoga Sutranya Patanjali, serta Dharmashastra dan Shastragama lainnya, moralitas dipasang sebagai landasan utama yang fundamental dengan sebutan Yama dan Niyama Brata dari laku spiritual, yoga sadhana.

Sekali lagi, agaknya kurang arif bilamana kita memposisikan secara terpisah antara moralitas dengan intelektualitas, hanya menekankan pada yang satu dengan mengabaikan pengembangan yang lainnya. Mereka bekerja secara harmonis di dalam, dan sepantasnya memang demikian. Nah... guna harmonisasi inilah seseorang benar-benar harus terjaga, harus sadar dan waspada, sejauh selalu ada kemungkinan terjadi 'penyimpangan-penyimpangan'.

Source: Anatta Gotama l Warta Hindu Dharma NO. 484 Mei 2007