Mulat Sarira dan Sara Sarira

Karya-karya Sastra yang memuat ajaran Yoga senantiasa mengajak kita untuk mulat sarira, melihat ke dalam diri. Kakawin Dharma Sunya misalnya dengan jelas menguraikannya, sekaligus dengan permainan kata terpilih.

"Adalah gunung besar tempat yang dicari oleh orang-orang yang menyucikan diri, gunung itu berada di sini, tiada jauh di dalam diri (ring sarira); di sana tempatnya Hyang Pancasakti yang utama, sedang di puncaknya bersthana Hyang Siwa". Demikian sebait kakawin Dharma Sunya yang kita petik, mengajak kita untuk melihat ke dalam diri. Selanjutnya diuraikan berbagai warna bunga tunjung yang tumbuh dan mekar disana, kelihatannya begitu indah, bercahaya cemerlang.

Mulat Sarira memang menjadi ajaran penting dalam kitab-kitab Siwaistis. Apa yang disebut Sara-Sarira (sari diri) senantiasaa ditekankan untuk dipahami terlebih dahulu : Tatwanya n sara sarira ri yawa ri dalem ning awak yekatonton, apan tan bheda ring sarwa bhuwana harta ring angga sarwastasiddhi; na hetunya n sarinya ng sarira juga pineh siddha ring moksa marga, (hakekat intisari diri baik diluar maupun didalam badan lihatlah itu, karena tidak beda buana maupun badan memuat delapan kekuatan; itulah sebabnya sarinya badan diperas sehingga tercapi tujuan moksa itu).

Sebelumnya dijelaskan bahwa manusia dibelenggu oleh indria yang menjadi penyebab manusia menemui sengsara (mulanya papa). Oleh karena itu pendalaman pemahaman atas perbuatan yang disebut papa dan punya mutlak dilakukan. Hal itu juga menjadi dasar pemahaman tentang rahasia yoga, sebagai jalan menemui kebahagiaan (tustacitta).

Oleh karena itu para yogi selalu mawas diri, melihat ke dalam diri : panuksma sang siddhayogi, ring ambek juga tan kalem; aminda ring hati lengong; amet putusan ring idep. (konsentrasi pikiran seorang yogi yang sempurna; didalam hati juga tiada lain; menyusup di dalam hati yang indah untuk menemui kesempurnaan pikiran). Sebelumnya dijelaskan bahwa: tan madoh kadang sang iviku; ring ambek juga tan kalem; satya pinaka ibunta; yangken pitanta tang dana; mwang santa pinaka strinta; ksama pinaka putranta. (tidak jauh keluarga sang pendeta; di dalam diri adanya tiada lain; satya adalah sebagai ibu; sebagai ayah adalah dana; adapun sebagai istri adalah santa; ksama adalah putramu).

Itulah sesungguhnya yang disebut keluarga: satya berarti kebenaran dana adalah kedermawanan; santa adalah kedamaian hati; ksama adalah kesabaran dan sifat pemaaf. Bila seseorang telah memiliki sifat-sifat itu maka ia sungguh-sungguh memiliki keluarga, memiliki ibu, ayah, istri dan anak.

Sebagai seorang kawi, pengarang Dharrna Sunya tentu tak melewatkan kesempatan untuk bermain kata. Beliau tidak saja seorang yang kaya kata, tetapi juga kaya makna: hidep ing idep hidepen; heneng hening henengaken; pelengen peleng pelengen; leyep ing leyep leyepaken. (Hakikat pikiran pikirkan : tenang dan jernih pertahankan : jadikan pokus perhatian: lalu satukan dalam kemanunggalan). Sangat sulit menerjemahkan sesuatu kata dalam bait tersebut. Namun demikian makna yang dikandungnya adalah supaya kita senantiasa melihat ke dalam diri, kedalam pikiran, menjaga ketenangan dan kesuciannya, mengarahkannya kepada Sang Pencipta.

Dari uraian singkat diatas dapat diketahui bahwa ajaran kesusilan, menjadi begitu penting dalam praktik Yoga. Ajaran kesusilaan membangun sifat mulia, dan menjadi sikap hidup. Sejauh mana ajaran susila telah menyusup menjalar dan tumbuh dalam diri, maka kita senantiasa perlu mawas diri. Kita baca dengan seksama bait berikut ini: Sunirmala Sadhana wreddhi ri hati; Sudharma punya kreta santa gegwani; Susilametri karuna upaksana; sudirang ambek sada bhakti ring guru; Sara sariranta delon kayatnaken; Sarat samastha pahilang ya dohaken. (kesucian usahakan mekar di hati; kebenaran, kedermawanan, ketenangan dan keharmonisan yakini itu; Kesusilaan, persodaraan, cinta kasih dan kesabaran; keteguhan pikiran, senantiasa bhakti kepada guru. Sari badan jasmani lihat dan perhatikan; keduniawian yang menghilangkan itu semua jauhkanlah). Dengan sangat jelas ditegaskan pentingnya landasan kesusilaan harus dimiliki bila ingin mendapatkan kesucian pikiran. Termasuk apa yang disebut sara sarira, sari dari diri harus terus diperhatikan.

Sampai disini jelas bagi kita bahwa sakala-niskala, wahyu-dhyatmika haruslah merupakan suatu kesatuan. Ada sesuatu dibalik yang nampak, ada sesuatu dibalik diri kita sendiri yang nampak ini, Apa yang ada di bhuwana agung sesungguhnya adapula di bhuwana alit, atau diri manusia. Badan manusia dibangun oleh Panca Mahabhuta dan Panca Tanmatra.

Dibalik itu semua manusia memiliki indria manah, ahangkara dan budhi. Alam pikiran inilah yang membelenggu Sang Hyang Atma, yang sesungguhnya bagaikan permata yang cemerlang dan suci (atau tulya nikang manik aphatika nirmala). Oleh karena itu kita senantiasa diajak menyucikan diri, sehingga kecemerlangan dan kesucian itu semakin nampak dan mengendalikan perbuatan, perkataan dan pikiran kita.

Jadi mulat sarira pada hakekatnya usaha memahami diri, memahami hakikat diri yang suci dan cemerlang dan sebelumnya memahami apa yang menyelimutinya.

Oleh: Ki Dharma Tanaya
Source: Warta Hindu Dharma NO. 517 Januari 2010