Nilai Mitos Raja Purana

Dalam rangka memantapkan dan melengkapi Sradha Umat Hindu menjelang Upacara Agung Panca Bali Krama yang puncak penyelenggaraaannya tanggal 17 Maret 1999 di i pura terbesar di dunia Besakih, perlu kiranya rangsangan-rangsangan untuk membangkitkan emosi keagamaan. Rangsangan-rangsangan tersebut tidak terbatas hanya informasi yang bernilai magis, keajaiban-keajaiban yang pernah terjadi, tetapi perlu juga rangsangan-rangsangan dari kajian-kajian ilmiah dari para ilmuwan yang ahli dalam bidang religi mitologi.

Walaupun orang sering mengkontradiksikan antara ukuran kebenaran yang terdapat pada kepercayaan (agama) dengan ukuran kebenaran pada bidang dunia keilmiahan. Namun, kenyataan tidak sedikit orang mensejajarkan antara ilmu pengetahuan modern (ilmiah) dengan gagasan dalam kepercayaan (dalam hal ini agama Hindu). Mengutip Klausa K.Klostermater, I Gusti Ngurah Bagus mengemukakan: "terus meningkatnya jumlah ahli ilmu pengetahuan yang berlatar belakang Hindu akan secara sadar atau tidak sadar, menggabungkan gagasan ilmiah dan gagasan religius mereka. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pola pikir para umat Hindu dewasa sekarang ini tidak saja diwarnai oleh gugon tuwon, namun sudah dimasuki oleh logika-logika keilmuan.

Seorang tokoh antropologi Yang beraliran fungsional malinowski menafsir mitos sebagai cerita sakral yang berkaitan dengan aturan-aturan upacara-upacara. Pernyataan mali¬nowski ini dapat kita simak dari kalimat naskah Raja Purana di bawah ini:

Wahai seluruh umat manusia di mayapada/ di sekala (alam semesta, jangan sekali-kali engkau durhaka, berani melecehkan aku, begitu halnya tak bersedia memelihara kelestarian keberadaan Pura-Pura di Besakih, serta melaksanakan berbagai tingkatan upacara secara teratur bisa jadi, diantara para umat manusia akan terjadi wabah bencana besar. Antara saudara akan terjadi perang, tak menemui kera¬hayuan selain hidup, kena penyakit bahkan akan binasa tak menemui kebahagiaan, dijauhi dari rejeki.

Kalimat tersebut di atas disabdakan oleh Dewata Nawa Sanga sebagai tokoh-tokoh Dewa (tokoh mitologi) yang sampai sekarang, bahkan sampai kapanpun akan disakralkan dan ditakuti oleh masyarakat/umat Hindu di Bali. Atas dasar sabda inilah yang menentukan dan mewajibkan masyarakat Bali untuk ngaturang puja wali dalam berbagai tingkatan di pura Besakih. Kewajiban ini sangat dipatuhi oleh penguasa dan rakyat dari jaman dahulu sampai sekarang. Bahkan hampir semua pemimpin di Bali menyelesaikan ketegangan-ketegangan yang terjadi di masyarakat diselesaikan melalui pola pikir keyakinan (agama). Pola pikir yang didasari keyakinan itu oleh para pemimpin dan masyarakat Bali sebagai pola pikir yang logik.

Ahli lain seperti Poreto menafsirkan mitos sebagai ide-ide yang menjamin keputusan para pimpinan masyarakat. Seorang strukturalis seperti Levi-Strauss menitik beratkan pola logis dalam mitos, yang mencoba menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi dalam pengalaman harian, seperti antara kehidupan dan kematian, antara nafsu jasmani dan cita-cita rohani, Geertz menafsirkan mitos sebagai pengungkapan ketegangan-ketegangan psikologis, seperti antara dorongan dasariah manusia dan keterbatasan kultural setempat. Edmund Leach melihat mitos sebagai bahasa simbol yang bekerja pada pelbagai tingkatan sekaligus. Oleh karena itu, sebuah mitos mengisi banyak informasi dan kebijakan budaya dalam bentuk sangat padat, dalam bahasa yang mudah dihafal untuk diwariskan dari generasi ke generasi seperti apa yang kita dapatkan pada naskah Raja Purana.

Mitos-mitos tradisional seperti yang tertuang dalam naskah Raja Purana bertemakan tiga hubungan hakiki: (1) antara manusia dengan roh maupun Tuhan; (2) manusia dengan alam; dan (3) manusia dengan manusia. Ketiga hubungan yang ideal ini dalam masyarakat Bali disebut konsep "Tri Hita Karana". Di dalam Raja Purana ketiga hubungan ini sangat mudah ditemui. Walaupun konsep ini lahir dan populer belakangan, dari pembuatan naskah Raja Purana.

Orang-orang jaman dahulu tidak pintar berlogika, namun kenyataan apa yang dia pikirkan secara keyakinan itu dapat dilogikakan dewasa sekarang. Dengan melaksanakan upacara Panca Bali Krama pada hakekatnya bertujuan meningkatkan harkat dan martabat umat Hindu sehingga memperoleh kesejahteraan lahir dan bathin. Mengutip pendapat Edmund Leach tersebut di atas, kesejahteraan yang dimaknai oleh simbol upacara Panca Bali Krama tidak antar umat manusia, juga para butha didoakan supaya menjadi dewa, bahkan para binatang. Menaikkan status ini semua melalui simbol-simbol sakral. Simbol-simbol sakral lalu menghubungkan sebuah antologi dan sebuah kosmologi dengan sebuah estika dan sebuah moralitas. Semua simbol yang diciptakan itu menurut Geertz selalu mengandung fakta dan nilai pada taraf yang paling fundamental, faktual murni.

Dengan demikian, harapan dari Upacara Agung Panca Bali Krama ini adalah sebagai umat Hindu hanya mampu mengoperasionalkan konsep "Tri Hita Karana" ke dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya diantara tiga hubungan tersebut, yang paling sukar mengoperasionalkan dalam kehidupan sehari-hari adalah menciptakan hubungan yang harmonis maupun selaras antar manusia. Lebih-lebih dewasa sekarang sebagai mana orang mengatakan di jaman Kaliyuga ini setiap manusia mengandung unsur keserakahan, ketamakan 75%, sedangkan tattwa hanya 25%. Balikan di masyarakat pemerintahan sering muncul kata-kata "siapa yang kita makan hari ini, bukan apa yang kita makan hari ini.

Oleh: I Made Purna
Source : Warta Hindu Dharma NO. 516 Desember 2009