Thailand,Champa,Laos,dll
Pali Lo' ,uiri tersebar dari Burma (atau lewat Burma dari India) ke seluruh Asia Tenggara, karya ini tersebar di Thailand, Champa, Laos, Khmer, dan Xieng-mai. Sejumlah edisi Pali Lokaniti dikenal di Thailand. Diketahui bahwa empat bagian dari Pali Lokaniti ini diterjemahkan kedalam bahasa Thai dan selanjutnya dikenal dengan nama Sup'hasit Lokaniti atau Sup'hasit Lokaniti Klam Klong. Versi selanjutnya digunakan oleh dewan pengembangan pendidikan setempat untuk diajarkan kepada para pelajar di tahun 1904. Edisi ini terdiri dari 408 peribahasa dan bukan sebuah terjemahan Lokaniti yang sesungguhnya, ada campuran sejumlah peribahasa dari berbagai sumber.
Stibhasita-samgraha versi Thai terbaik yang dikenal adalah Sup'hasit karya P'hrah Ruang. Menurut tradisi, P'hrah Ruang adalah salah satu dari raja-raja pertama di Sukhetfai, kemungkinan yang bernama Rama K'amheng, yang hidup pada pertengahan kedua abad ketigabelas. Sup'hasit versi P'hrah Ruang ditulis dalam sejumlah edisi. Sup'hasit ini dipengaruhi oleh pemikiran India, tetapi tidak dapat dibuktikan bahwa setiap peribahasa yang terdapat didalamnya berasal dari India.
Pada abad kesembilanbelas, seorang pendeta yang hidup di biara di Bangkok mengkompilasi sebuah subhasita-samgraha bahasa Siam, yang diterjemahkan oleh E. Lorgeu menjadi Subhasit Siamois. Karya ini juga memuat beberapa subhasita yang berasal dari India.
Karya Thai Sup'hasit yang terpenting adalah Pu-son-lan dan Lam-son-pu, pelajaran dari seorang kakek kepada cucunya dan pelajaran dari seorang cucu kepada kakeknya. Karya ini kemungkinan adalah karya yang berasal dari Lao, namun sangat terkenal di Thailand. Pu-son-lan aslinya ditulis dalam bahasa Sanskerta namun sumbernya tidak dapat ditelusuri.
Di Thailand, dua karya lain yang berasal dari India juga tersebar yakni Pip'hek son but dan Pali son non; Kedua karya ini tidak berisi pepatah secara tersirat karena karya ini berpatokan pada cerita Ramayana. Di sisi lain, versi Canakya-niti-sastra dari peribahasa canakya diterjemahkan kedalam bahasa Siam pada awal abad ini dan dikenal di kalangan terpelajar Thai.
Di masa India selanjutnya, para Hindu membentuk dua kerajaan kolonial yang kuat yakni Champa dan Kamboja-desa. Kerajaan yang pertama terdiri dari Viet Nam Selatan yang sekarang tanpa batas selatannya dan bagian utara Viet Nam, kerajaan yang kedua adalah yang sekarang disebut Kamboja dan bagian selatan dari Viet Nam selatan yang menjadi kekuasaan administratif Perancis-Chocin China. Rakyat Champa secara penuh beragama Hindu dan bahasa Sanskerta adalah bahasa resmi kerajaan Champa.
Koloni Hindu lainnya terdapat di Semenanjung Melayu. Koloni ini dibentuk oleh para pedagang. Meskipun kerajaan-kerajaan yang di Hindu-kan ini memiliki hubungan yang erat dengan pengetahuan Ramayana, Hitopadesa, dan sejumlah karya Kavya, Purana, tata bahasa, Smriti dan berbagai cabang rusastraan India lainnya, mereka tidak mengembangkan kedekatan dan ketertarikannya terhadap Nitisastra India. Oleh karenanya, sulit menemukan adanya pengaruh kesusasteraan Niti Sanskerta terkecuali beberapa terjemahan Lokaniti yakni Lokaniti-pakarana (prakarana), Hitopadesa dan Pancatantra.
Di Kamboja (kamboja-desa), Rajaniti (Rajaniti), Texte tire de sastras sur feuilles de latanier dalam bahasa Pali dengan ulasan dalam bahasa Kamboja, diterbitkan pada tahun 1941. Karya ini berisikan peribahasa bertema politik dalam bahasa Pali, hampir serupa dengan Pali Rajaniti, dan karya ini tersebar di Burma; karya ini juga mendapatkan pengaruh India.
Juga di Pnom Penh, sup'hasit ebab sri baky Kaby, Anak Okna Suttant Ten Ind diterbitkan pada tahun 1951. Karya ini memuat 250 aphorisme dalam bahasa Khmer yang menggambarkan kecantikan dan kharisma wanita, bentuk tulisannya menyerupai karya-karya Kavya Sanskerta, tampaknya beberapa, tidak mungkin untuk menelusuri asal pribahasa-pribahasa ini.
Di Laos, selain pengetahuan mendalam tentang Lokaniti, kita juga menemukan Pu son land son Pu yang berisikan beberapa pribahasa yang berasal dari India, namun pribahasa Lao yang lainnya diketahui tidak dapat dibuktikan berasal dari sumber Sanskerta.
Jawa, Sumatra, Bali
Sekitar awal abad kedua masehi, bangsa Hindu mulai mengembangkan sayap kekuatan politik di wilayah yang sekarang disebut Indonesia, khususnya Jawa, Sumatera dan Bali. Di Jawa ada sejumlah kerajaan Hindu dan dua diantaranya yang disebut Cho-po dan Ho-Lo-tan oleh China, telah mengirimkan utusannya secara teratur ke Cina pada abad kelima belas Masehi.
Kerajaan Hindu pertama didirikan oleh dinasti Sailendra pada abad delapan masehi. Wilayahnya juga termasuk Semenanjung Melayu. Raja-raja dinasti Sailendra adalah pengikut Buddha Mahayana dan dipengaruhi lebih banyak oleh kebudayaaan yang pada waktu itu terdapat di Benggala. Mereka diserang oleh dinasti Chola. Mulai akhir abad ketigabelas Masehi, sebuah dinasti Cheia. Mulai akhir abad ketigabelas masehi, sebuah dinas baru oleh raja Wijaya yang berpusat di Majapahit.
Pada abad kelima belas masehi, seorang pelarian kepala suku Hindu Jawa mendirikan Kerajaan Malaka. Kemudian pada abad keenam belas Kerajaan Hindu Majapahit jatuh dan beralih ke agama Islam, namun demikian keluarga kerajaan dan sejumlah penduduk berkebangasaan India mengungsi ke Bali yang telah menjadi kerajaan Hindu selama hampir seribu tahun lamanya.
Kesusastraan Sansekerta secara luas bekembang di Jawa. Selain banyak karya Sansekerta yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno, misalnya, Mahabrata, Ramayana, beberapa Purana, Pancatantra; orang-orang Jawa kuno menunjukkan hubungan yang khusus dengan peribahasa dalam sastra India dan teristimewa peribahasa Niti Sansekerta.
Yang terpenting dari sejumlah karya ini adalah Sarasamuccaya. Subhasita-samgraha ini dalam bahasa Jawa Kuno, yang terdiri dari 517 peribahasa, lebih banyak berpedoman pada peribahasa yang ditemukan didalam Mahabharata. Hampir semua subhasita yang terdapat didalam Sarasamuccaya dapat ditelusuri sumber Saraccamuscaya. Subhasita-samgraha ini dalam bahasa Jawa Kuno, yang terdiri dari 517 peribahasa, lebih banyak berpedoman pada pribahasa, Jebih banyak yang ditemukan didalam Mahabharata. Hampir semua subhsita yang terdapat didalam Sarasamuscaya dapat ditelusuri sumber Sanskertanya di mana bagian yang paling banyak berasal dari Mahabharata.
Beberapa bait dari karya ini juga dikenal didalam terjemahan Mahabharata versi bahasa Jawa dan kira-kira ada 36 bait (subhasitha) yang terdapat Viduraniti dalam Udyogaparva. Bahasa peribahasa niti ini juga hampir serupa dengan asalnya yaitu bahasa Sanskerta.
Meskipun demikian, tidak dapat disebutkan tentang koleksi yang sama tentang Nitisastra dalam bahasa Jawa kuno, yakni Slokantara. Karya yang lebih baru juga merupakan subhasitha-samgraha dalam bahasa Jawa Kuno; yang terdiri dari 83 pribahasa niti yang sebagian besar dapat ditelusuri sumber Sanskertanya.
Subhasita-samgraha yang ketiga dalam bahasa Jawa Kuno adalah Nitisastra yang kemungkinan ditulis pada tahun-tahun terakhir zaman Majapahit. Karya ini terdiri dari 120 syair dalam 15 bab. Bagian karya ini yang terdapat didalam nitisastra juga ditemukan di dalam Tantri Kamandaka dan Slokantara. Itulah sebabnya kemungkinan kitab tersebut ditulis oleh seorang Jawa dari sumber-sumber yang dikenal di Jawa pada masa itu.
Tantri Kamandaka yang berbahasa Jawa Kuno adalah sebuah versi Jawa Kuno dari Pancatantra, tetapi tidak seperti Pancatantra versi lainnya yang dikenal dalam bingkai wilayah "India Yang Lebih Besar", karya ini tidak hanya berisikan cerita binatang saja melainkan juga dikombinasikan paling banyak dengan peribahasa niti, namun tidak secara eksludif, yang bersumber dari peribahasa niti yang ditemukan dalam Pancatantra Sanskerta dan karya sastra Sanskerta lainnya.
Karya lain dalam bahasa jawa Kuno yang bersumber dari sastra Sanskerta adalah Nitisastra, baik kerangkanya maupun antologi bahasa Sanskertanya; Nitisastra dengan gaya vang bebas bersumber dari Kaman-dakiya Nitisastra. Beberapa contoh Nitisastra dalam tradisi Hindu dan berbagaJL wilayah di dunia vang dipengaruhi yang disampaikan ini hanyalah sebuah ilustrasi mengenai sastra Barat, Utara, Selatan dan Timur India.
Banyaknya kitab-kitab yang memang terdapat di Asia Tenggara yang berisikan syair-syair niti yang bersumber dari sastra Sansekrta, namun sayang sekali tidak banyak yang telah dilakukan agar karya-karya ersebut menjadi bermanfaat (DD 19.06.10).
Oleh: Ludwik Sternbach
Source: Warta Hindu Dharma NO. 525 September 2010