Okestra Kasih Sayang Dewi Gangga

Interval kehidupan manusia amat pendek (kadi kedapning kilat). Jika^oleh dibandingkan dengan umur alam semesta, maka umur manusia tidak lebih besar dari waktu yang dibutuhkan elektron untuk mengelilingi inti atom, sebuah satuan waktu yang teramat singkat. Namun dalam jeda itu kehidupan manusia sering hadir dengan warna yang khas untuk mengkonstruksi pelangi peradaban dunia, yang kadang cerah, indah dan mempesona, namun sering juga hadir dengan warna kelabu.


Di zone peradaban manusia yang banyak bertaburan sosok manusia maka kebajikan yang pernah ditujukkan kerap menjadi suri tauladan banyak manusia, adalah puncak kehidupan yang dicita-citakan. Manusia yang mencapai puncak keabadian adalah mereka yang menatap dengan pravriti drishti (pandangan spiritual). Dititik itu, setiap insan berpeluang, menjadi the great leacher, seorang guru yang termasyur. Guru yang termasyur cirinya adalah mengilhami banyak orang yang kebetuhan dekat dengannya. Setiap yang mendengarkan nasehatnya ter-inspirasi sebuah jalan baik untuk hidup. Artinya sosok manusia itu tidak hanya bisa mendongeng semata, namun hadir sebagai pemberi inisiasi energi untuk mengawali sebuah langkah baru untuk menancapkan kebajikan.


Dari ruas-ruas kehidupan pribadi seperti itu, keharuman kebajikannya meruang menghiasi peradaban dari generasi ke generasi. Walaupun badannya telah hancur, namanya tetap harum, seakan-akan dia hidup tanpa badan. Hal itu dimungkinkan karena manusia adalah mahluk penghuni bumi yang dikarumai akal dan kecerdasan Kecerdasan itu dari.waktu-ke- waktu berosilasi untuk mencapai wilayah simetri. Bersuperposisi dengan gerakan alam semesta yang mengembang Sampai pada suatu saat, perasaan manusia memiliki gelombang yang sama dengan perasaan Tuhan, terjadi resonansi penuaan manusia dengan Tuhan, di terminal itu manusia dikatakan menyatu dengan Tuhan (moksa).

Karena Tuhan itu nityam suddham mrabasa, nikara niranjannatn, Nityam sudham cttanadanm, dan pemujaan sebagai 'Guru brahma nama myaham, bentuk kecerdasan akan hakekat kesucian dan kekekalan Tuhan, maka manusia yang mendekatinyapun harus menuju wilayah yang suci, hanya melalui 'ekabhaktir visisyate' (mereka yang memiliki   pengetahuan yang memusatkannya pada yang satu) adalah yang memiliki biduk menuju pantai idaman 'kesadaran Tuhan' maka dia berada dalam posisi sebagai 'pandita samadarshina' Seseorang yang memandang segala sesuatu sama adalah pandita.

Namun, menapaki jalan pengetahuan menuju 'ekhabhaktir' penuh onak dan tanjakan yang sering terjal. Dalam pengembangan itu, manusia bergerak atas tiga elemen yang memiliki besaran terkuantitasi dalam ranah roh, nafsu dan rasio. Besaran itu berpengaruh satu sama lain. Rasio bekerja selama badan ini hidup. Nafsu mengembara lebih luas, tetap eksis (dalam bentuk karma wasana) ketika jazad tiada. Namun dia bisa membawa penyiksaan pada jiwatma, (dwaram nasanam atmanah). Kenikmatan akan kelahiran pun terus berulang, siklus tanpa ada ujung. Lahir hidup dan mati, lahir menjadi apa dan mati seperti apa tergantung deng kebaikan macam apa yang dilakukan.

Dari sana, nampaknya kelahiran sebagai manusia biasa bisa menjadi tangga bayangan menuju sorga (Soksat handaning mara ring swarga ika). Meminjam konsep Plato, manusia dibedakan atas seberapa besar masing-masing elemen itu berpengaruh dalam tubuh manusia, sehingga ada tiga jenis manusia muncul dari fenomena ini, yakni manusia mencari pengetahuan, manusia memuja material dan manusia yang membutuhkan reputasi.

Ketiga jenis itu, memiliki sisi-sisi kebaikan dan keburukan tergantung tempat dan waktu. Manusia berpengetahuan berangkat dari sisi yang terpenting didalam dirinya bahwa kecerdasan yang terasah secara teratur dan kontinyu dengan hasil yang dapat terukur dengan amat jitu akan menghasilkan manusia berakal. Itu sebabnya, akal tanpa pengetahuan seperti tanah yang tanpa terolah atau seperti rubuh manusia yang tanpa gizi. Kecerdasan imajinatif itu adalah sebuah strategi pembelajaran, yang mirip dengan mencari keaslian dalam diri sendiri. Keaslian terbentuk karena pengembangan kebiasaan secara sadar menjadi diri sendiri, pada akhirnya akan memunculkan budi halus dari kekuatan tanpa batas.

Dititik itu, pembelajaran seolah-olah dibenarkan bahwa pembelajaran berbanding lurus dengan kesenangan orang belajar seakan mendapatkan pembenarannya dalam kisah-kisah Mahabarata. Belajar tidak sama seperti, mengisi kantong kosong namun, dia bertaburan jejak-jejak pengisisn dengan kesadaran yang tinggi. Dikoridor itu, benar apa yang dikatakan oleh Kalil Gibran, Inilah kehidupan yang terus melangkah dari zaman ke zaman lainnya, yang dipahami sebagai sejarah ke sejarah lainnya.


Di ruang kecerdasan imajinasi Mahabharata, menggoreskan banyak alegori yang indah untuk cermin bagi manusia. Manusia membutuhkan piranti kebijaksanaan dalam rentang kehidupan sehingga dia memerlukan cermin agar dia tampak molek dan gagah, yang memberitakan kepada manusia bahwa disana berumbai-umbai hikayat tentang bagaimana memperoleh kebijaksanaan. Disini suara berdadung (berdentang) menggema menghiasi pusaran hati yang resah gelisah. Belajar imajinasi kreatif. Itu sebabnya Maha bisa menjadi gudangnya inspirasi dalam menapaki kehidupan.

Ruang-ruang kosong, kehidupan Ganggatva (Bisma muda) tanpa seorang ibu di sampingnya, adalah ruang telaah yang amat menarik. Ketiadaan ibu sering melahirkan kondisi pakis yang sangat ruwet dalam proses pendewasaan anak. Sebab menurut teori psikologi modem bahwa anak meniru perilaku orang tua dari jenis kelamin sama untuk memecahkan konflik didalam diri orang itu, terus menemukan kebenarannya di alam nyata. Dalam kasus Bisma, yang tumbuh menjadi pribadi yang amat tangguh, dengan meniru karakter sang ayah serta kolaborasi inspirasi pendidikan jarak jauh dengan Ibu Dewi Gangga sungguh mendrik diulas. Prabu Sentanu juga amat jenius berperan sebagai seorang ibu sekaligus ayah yang bijaksana. Motivasi jenis apa yang dilakukan Raja Sentanu sehingga Bisma menjadi pribadi yang amat tangguh untuk menghadapi kehidupan ini, khususnya keteguhan dalam memegang janji dan sumpah yang diikrarkannya itu?.

Dalam kisah kehidupan di awal pertumbuhan, Bisma diberi tahu bahwa ibunya bisa ditemui ketika dia berkonsentrasi penuh menuju alam semadi, sebab ibunya telah melampaui dimensi ruang dan waktu.

Nak., kamu memang memiliki ibu, seorang anak laki-laki lahir dari proses perkawinan, engkau lahir karena memang terjadi pertemuan purusa dengan predana, kama petak dan kama bang. Membentuk sebuah kehidupan (janin). Artinya, ayah pernah menikah dengan seorang wanita, engkau sama dengan mereka yang lam. Namun ibumu kini telah meruang melewati ukuran-ukuran fisik alam nyata. Dia hanya bisa didekati dengan kekuatan pikiran" Kata Raja Sentanu panjang lebar kepada anaknya.

Mendengar itu, Bisma kecil amat sumringah hatinya. Dia membayangkan Ibu Dewi Gangga bisa ditemui kapan saja. Kondisi seperti ini melahirkan imajinasi kreatif yang amat luar biasa. Kecerdasan bisa muncul dari prosesi ini. Sambil bersemadi duduk hening tanpa banyak cakap dipinggir sungai Gangga, Bisma muda menyatukan sukma untuk bertemu pada sang ibu. Bisma membayangkan ibunya yang telah lama pergi, hasrat dan antusiasme yang luar biasa itu membuat Bisma tertranformasi dengan sangat menak-jubkan. Nampaknya kasih sayang dan kerinduan  adalah  energi  untuk menjebol tembok kegelapan.

Ibu, hadirlah dihadapanku, walau hanya sekilas dan seberkas bayangan, sudah cukup menghibur diriku, sosokmu selama ini pergi dari kehidupan diriku ini, sehingga hamba sepi dan sunyi dalam kehampaan hidup. Kalau ibu boleh tahu betapa aku menjadi sangat bahagia bila ibu dapat menyentuh mukaku dengan kasihmu. Ibu ... Aku yang pernah berada dalam kehangatan rahimmu, kini menyendiri dingin tanpa perlakuan kasihmu" kata Bisma meratap sedih di pagi hari. Oh Dewata Agung, hamba memuja Dewi Gangga yang menjadi ibuku, dan ibu umat manusia karena kesucian muncul dalam dekapan kasihnya yang abadi, kabulkanlah permohonan ini.

Nak....., ibumu tidak mudah engkau temui, alam kita berbeda lakukanlah setelah engkau memahami' nya, namun engkau dapat mencarinya dengan bahasa hati, dan kini marilah kita pulang dahulu." kata Raja Sentanu menyapa anaknya yang sedang duduk hening di tepian sungai Gangga.

"Tidak ayah, ibu adalah perwujudan kasih dan kasih melingkupi segala ciptaan ini, kasih itu... dapat digapai dengan mudah karena hatiku telah .menyatu, seperti yang ayah katakan bahasa hatiku telah bisa mewujudkan impianku" Kata Bisma muda.

"Engkau sedang melakukan yoga? hati-hatilah Nak !!!, karena banyak orang yang melakukan berbagai latihan yang tidak berarti. Mereka "  menyimpangkan makna yoga itu, Nak? Kata Raja Sentanu.

" Apakah yoga yang sesungguh¬nya, Ayah? Tanya Bisma Lagi

Raja Sentanu berkata" Yogah Chitta vriti nirodha'. Yoga merupakan pengendalian keresahan pikiran, jika engkau hanya melakukan latihan jasmani tanpa mengendalikan pikiranmu, itu saja saja dengan roga (penyakit). Penuhi pikiranmu dengan kasih, Jika pikiranmu suci maka engkau otomatis menjadi suci 'Yad bhaavam tad bhavati (sebagaimana perasaanmu sedemikian pulalah hasilnya). .

Bisma kembali merenung, dia berusaha menyucikan pikirannya kembali, untuk berkonsentrasi pada suara suci 'om', IbunyaDewi Gangga adalah suci. Barang suci tidak mungkin didekati dengan pikiran kotor. Nafas Bisma bersatu dengan sukma semesta, yang disatukan oleh alunan suara pranawa Om. Suara yang memiliki panjang gelombang sama akan bereso-nansi untuk saling menguatkan, akibat-nya apa yang di alam mikrokosmos dapat diketahui juga ada di alam makrokosmos.

"Ibu.....bayangmu secara samar aku telah tangkap, namun kenapa masih buram ibu? Tanya Bisma kembali. Dewi Gangga tersenyum, "Nak pikiranmu masih goyah, dan belum mantap benar, hanya keyakinan yang teguh kepada Tuhan dapat memberikan kemantapan pikiran. Pikiran yang tidak mantap penuh keraguan! Nak bila keraguan meningkat melampaui batas, orang bersangkutan menjadi orang yang kotor nak murnikan hatimu, hati yang murni tidak memiliki keraguan secuil pun terhadap segala sesuatu yang dijumpainya. Hati menjadi tidak murni karena sampah keraguan yang terus menumpuk.

"Ibu....., Aku hanya ingin menggapai kasih sayangmu, kemudian aku ingin menebarkannya dalam kehidupan ini ibu. Kata Bisma menatap ibunya dengan takzim.

"Nak ... dirimu telah menuai kecerdasan yang luar biasa, mengatasi kebodohan yang melingkupi umat manusia pada umumnya. Namun, hati-hatilah nak bahwa engkau harus bebas dari usaha mementingkan dirimu, berkorbanlah demi kesejahteraan umat manusia, itulah rahasia hidup di dunia iti, Engkau akan selalu dikenang dan oKarnman menyertai namamu. Ketahuilah nak... Orang yang tanpa pamrih akan selalu jaya dalam segala kegiatan.

Ibu ingatkan sekali lagi, "Ikutilah hukum-hukum yang terdapat dalam kitab suci dan sastra, karena orang yang mengikuti hukum yang diajarkan oleh pustaka suci-pustaka suci yang mengikuti adat istiadat yang keramat, mendapatkan kemasyuran di dunia ini dan setelah meninggal menerima kebahagiaan tak terbatas (canultamam sukham).

"Ibu ..... aku akan mengikuti seluruh nasehatmu, betapa agungnya dirimu, semoga aku bisa melaksanakan dengan patuh dan sepenuh hati" Kata Bisma sambil membuka mata, bayangan Ibu Gangga telah lenyap, gemercik air sungai Gangga mengalir tanpa hirau, Bisma menatap air kemudian memba-suhkannya ke mukanya untuk mendapatkan sentuhan kasih ibu.yang damai. Gemercik air itu bak okestra kasih ibu Gangga yang tak pernah surut menghibur hati yang gundah.

Sepasang kupu-kupu berwarna putih keemasan menatap terkesima diskusi Dewi Gangga dengan Bisma muda itu. Kupu-kupu jantan berbisik penuh syahdu kepada yang betina, "Betapaberuntungnya manusia, karena mereka memiliki b'anyak sudut kecerdasan, dengan kemampuan Bisma menemui ibunya terungkap bahwa kecerdasan amat gamblang bisa dKntuk dan diarahkan. Ada kecerdasan sosial, numerik sampai kecerdasan imajinatif yang belum dimaksimalkan oleh manusia".

Yah.. aku juga tangkap demikian, kata yang betina berseru, "Ketika setiap kecerdasan diketahui, tidak ada manusia yang bodoh, yang ada adalah manusia yang kemampuannya tidak sesuai dengan waktu dan tempat yang tepat. Ketika sungan kecerdasan mengalir seperti sungai Gangga, manusia akan dihadapkan kepada pemaknaan pada dirinya sendiri, yakni semuanya adalah wujud, keindahan ciptaan, yang diciptakan oleh 'tangan dan ide yang amat terampil, tidak ada kata yang bisa digunakan untuk mengutarakannya" OM Sriim Mahalak-smiyae mmaha ".

 

Source: I Nyoman Tika l Warta Hindu Dharma NO. 448 Juni 2004