Masepi nikanang waktra tan amucang wang
Masepi nikanang wisma tan hana putra Masepi nikanang desa tan hana muknya Masepi nikanang trijapupul ing wang anartha
Artinya:
Sepi rasanya mulut tanpa makan sirih, Sepi rasanya rumah tanpa anak Sepi rasanya desa jika tidak ada pemimpin
Ketiga sepi itu berkumpul pada orang yang tanpa artha (kekayaan)
(Kakawin Nitisastra,V.4)
Sepi, sunyi........., demikian digambarkan jika ada yang terasa kurang. Bagaikan kecanduan menguyah sirih, akan terasa ada yang kurang jika belum mendapatkanya. Demikian pula dalam kehidupan berumah tangga, jika tidak memiliki keturunan terasa kurang lengkap. Lebih-lebih hidup bermasyarakat, jika tidak ada yang memimpin maka masyarakat akan kacau tanpa arah, tanpa tujuan. Lebih berat lagi adalah jika tidak memiliki artha (kekayaan) maka terasa ketiga kesunyian di atas berkumpul pada dirinya.
Kekayaan memang beragam, dari kekayaan berupa harta benda, Uang, Emas, Tanah, bangunan dan sebagainya. Salah satu harta kekayaan yang tak ternilai harganya adalah kekayaan berupa Ilmu Pengetahuan. Kekayaan berupa Ilmu Pengetahuan adalah sangat utama, karena dibawa sepanjang hidup. Teringat dengan gending Bali menggunakan pupuh Ginanti sebagai berikut:
Saking tuhu manah Guru
Mituturin ceningjani
Kaweruhe Iwir sanjata
Ne dadi prabotang sai
Kaanggen ngaruruh merta
Saenun ceninge urip
Artinya:
Dengan sungguh-sungguh perasaan guru
Menasehati kamu sekarang
Kepandaian bagaikan senjata
Yang dapat dipergunakan setiap saat
Dipakai mencari penghidupan Selama kamu masih hidup.
Kepandaian prihal ilmu pengetahuan adalah bagaikan senjata utama dalam hidup ini. Orang cerdik pandai akan gampang meniti hidupnya, sedangkan bagi mereka bodoh tanpa ilmu pengetahuan akan menjadi budak bagi yang pandai dengan segala ilmu pengetahuan. Memiliki ilmu pengetahuan dalam lontar Bhuana Kosa disebut dengan memiliki Sang Hyang Jnana, dia adalah ilmu pengetahuan suci yang dapat dipergunakan untuk ketentraman di dunia dan akhirat (Moksartham-jagadhita). Ciri orang yang memiliki Jnana yang sempurna adalah tercemin sifat-sifat Daiwi Sampat atau sifat-sifat kedewataan yang patut ditiru dan dicontoh oleh umat manusia demi ketentraman hidup dengan ciri-ciri: kuat suka mengampuni, teguh iman, suci, tidak membenci, dan bebas dari rasa sombong. Ciri lain orang yang banyak ilmunya diuraikan dalam kitab Manawa Dharmasastra IV.20 sebagai berikut.
Yatha yatha hi purusah
Sastram samadhigacchati
Tatha tatha zvijanati wijananam
Casya rocate
Artinya;
Semakin dalam orang mempelajari
Ilmu itu, lebih dalamlah ia mengerti
Semuanya, dan kepandaiannya
bercahaya terang pada mukanya.
Wajah terang beseri penuh percaya diri adalah sebuah ciri tersimpanya suatu sifat bijaksana yang disebabkan oleh pancaran ilmu pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Tidak ada sifat Asuri sampat (permusuhan)yang demikian semuanya telah dilebur oleh kesucian Sang Hyang Jnana(ilmu pengetahuan) menjadi sifat-sifat baik yang bijaksana (Daiwi Sampat).
Tanpa memiliki kekayaan ilmu pengetahuan kehidupan belumlah lengkap bahkan hidup ini dianggap tidak memiliki nilai apa-apa sekaligus tidak berguna. Hidup ini dianggap berguna jika memang ada yang "menggunakan" baik tenaganya, pikiranya, maupun bicaranya. Akibat tidak mau mengejar kekayaan ilmu berpengetahuan Manawa Dharmasastra, 11.157. menyebutkan:
Yatha kasthamayo nasti
Yatha carmaayo mrgah
Yaccawipronadhiyan
Astrayate nama bhibrati
Artinya.
Bagaikan gajah terbuat dari kayu
Bagaikan kijang terbuat dari kulit
Demikian pulalah seorang brahmana
yang tidak terpelajar
Ketiganya itu hanyalah memiliki nama golongan saja tetapi tidak mempunyai nilai apa-apa.
Gajah terbuat dari kayu adalah gajah-gajahan, kijang terbuat dari kulit adalah kijang-kijangan, demikianlah sebaiknya jangan menjadi "orang-orangan" Agama Hindu mengajarkan untuk selalu mengusahakan harta kekayaan berupa ilmu pengetahuan dan bila sudah didapat hendaknya ia mengembangkan dengan cara menga¬jarkannya kepada orang baik yang patut menerima bukan kepada orang jahat yang dapat menyalahgunakan ilmu pengetahuan.
Source: I Wayan Ritiaksa, M. Ag, l Warta Hindu Dharma NO. 533 Mei 2011