Ramayana sejatinya banyak memberikan makna khususnya perilaku Rahwana berkuasa sebagai raja. Melalui kekuasaannya Rahwana menculik Sita untuk dijadikan istri, perbuatan ini tentu sangat bertentangan dengan ajaran Dharma. Persistiwa ini sebagai cikal bakal pecahnya perang di Alengka. Sebelum perang dimulai Rahwana berusaha menyeling Sugriwa melalui utusannya. Sang utusan menyampaikan; bahwa Rahwana akan memberikan jabatan yang bagus dan berbagai jenis kekayaan asal mau bergabung dengan Rahwana. Walaupun dengan bermacam jenis siasat liciknya, Sugriwa tetap bertahan kepada pendirian yaitu berpihak kepada Rama. Sugriwa dalam wujud jasmaniah berupa kera mampu berpikir cerdas spiritual, ia begitu setia kepada sahabat yang sangat memegang teguh ajaran Dharma, sehingga ia tidak mudah untuk disogok, mengorbankan kehormatan untuk mendapatkan berbagai macam kekuasaan maupun harta benda.
Wibhisana dengan beberapa perwiranya meninggalkan Alengka. Kepergian Wibhisana meninggalkan Alengka, karena diusir oleh kakaknya, karena Rahwana tersinggung atas nasehat Wibhisana; agar kembali ke jalan Dharma dengan cara mengembalikan Dewi Sita kepada Rama. Namun Rahwana tidak peduli dengan nasehat itu, dengan kekuasaan Rahwana menolak. Akhirnya Wibhisana pergi ke luar Kerajaan Alengka, menuju perkemahan Rama bersama perwira, setianya, bertujuan untuk bergabung dengan Rama. Wibhisana yang bangsa raksasa ternyata mampu memilah-milah mana perbuatan Dharma dan mana perbuatan Adahrma, dengan kata lain tidak selalu wangsa raksasa itu berpikiran, berkata maupun berperilaku jahat. Dengan kecerdasan spiritual, Wibhisana mampu menggunakan wiweka untuk menentukan sikap walaupun taruhannya cukup berat yaitu terpisah dengan kakak, adik, orang tua dan negaranya. Kepergian Wibhisana tidak sia-sia, karena atas restu ibundanya tercinta.
Sejatinya di kerajaan Alengka banyak perwira, prajurit maupun rakyat bisa kasihan dan berpihak kepada Wibhisana dan bergabung dengan Rama, namun karena rasa takut dibunuh oleh Rahwana dan ada yang takut kehilangan pekerjaan. Di tengah kondisi perselingkuhan seperti itu, tidak sedikit yang tetap bersyukur sesuai dengan Dharma Negara maupun Dharma Agama, walaupun tidak menempati posisi yang strategis, dengan pariasi berbagai alasan yang ada, seperti: 1. Syukuri! Ini bagian dari buah karma, 2. tidak peduli dengan perselingkuhan kekuasaan yang terjadi, serta 3 ada yang mengatakan karma pala tetap pada berjalan, 4. atau membangun dosa-dosa baru untuk dinikmati kemudian hari dan lain-lain. Namun yang sangat menarik dicermati, mengenai kepergian Wibhisana, yaitu ketidak-setujuan Wibhisana terhadap kakaknya yang raja demikian berkuasa, telah beristri cantik masih pula menculik istri orang (Rama) untuk diselingkuhi. Dengan keberaniannya itu Wibhisana harus puas dengan posisinya yaitu terlempar dari lingkaran kekuasaan kerajaan Alengka Pura. Namun tidak kalah hebatnya, ternyata Rahwana tetap berkuasa, kecuali dihentikan oleh maut, yaitu Rama pengetahuan Dharma untuk mengakhiri kekuasaan Adharma.
Dharmanya Duryodhana
Drestarastra Raja Astina Pura yang buta, tidak berdaya terhadap siasat licik Duryodhana dari memang jauh di dalam hatinya sangat mencintai putranya. Ketunanetraannya, menyebabkan Drestarastra tidak puas dengan posisinya yang hanya mewakili Pandu dalam pengendalian kerajaan Astina Pura. Kondisi inilah yang membawa Drestarastra ke alam mimpi indah, yang merupakan fenomena dalam dilema kenyataan. Wejangan Dharma dari wiku suci telah tidak didengarkannya lagi, bisikan Sak uni yang licik walaupun sulit diterima akal logika sehat, namun dijalankannya, karena indahnya mahkota yang penuh dengan berlian gemerlapan.
Ketakberdayaan Drestarastra akan keberadaan dirinya, memekarkan perselingkuhan Duryodhana dengan pamannya Sakuni, untuk meraih kekuasaan. Duryodhana yang haus kekuasaan, senantiasa menjalankan nasehat Sakuni, walaupun dalam menjalankan siasatnya seringkali mengalami kegagalan, namun tidakurung pula para pandawa terlempar dari jabatannya baik selaku raja, namun jabatan penting lainnya serta keluar masuk hutan melakoni kehidupannya.
Duryodana yang terbiasa dengan kehidupan ambisius, cukup cerdas memanfaatkan situasi. Diselingkuhilah Kama, yang kebetulan sangat bingung dengan jati dirinya. Karna diangkat oleh Duryodana menjadi Raja Anga, yang menurut Ketatanegaraan tentunya menyalahi aturan. Sebab yang seharusnya mengangkat raja bawahan adalah Raja Astina Pura dalam hal ini Dretarasta, bukan oleh Duryodana. Namun sang raja sangat menikmati ketakberdayaan karena kemilauan mahkota raja yang senantiasa diraba dan dielus-elus. Sama gilanya dengan Duryodana, yang hanya anak kandung Drestarasta, telah terlena dengan impian singgasana merasa menjadi putera mahkota dan telah merasa jadi raja Astina Pura Kemungkinan Karna juga berfikir persetan dengan ketatanegaraan, yang penting aku menjadi raja agar aku dapat membahas penghianatan Pandawa Dengari alasan utang budi, Karna akhirnya selalu patuh terhadap Duryodana, walaupun jauh di dalam hatinya terkadang memberontak namun ia tak berdaya dan tak kuasa atas tidak menentunya jati diri sang mumpuni.
Sehingga bagi seorang Duryodana tidak kuasa atas jalan Dharma, sangat memanfaatkan kondisi Karna. Dretarasta yang buta, sangat menyayangi puteranya Duryodana, sehingga membiarkan Duryodana bergulat dengan Adharma, serta membiarkan dalam meraih kekuasaan dengan cara melakukan perselingkuhan termasuk menghamburkan harta Negara. Duryodana telah menistakan Dropadi dan Astina Pura serta pernah menjadi tawanan dan hampir dibunuh oleh para Gandarwa, karena telah melecehkan putri Gandarwa. Duryodana selamat atas bantuan Bima dan Arjuna. Duryodana bukannya insyaf, namun bencinya menjadi-jadi kepada para Pandawa, karena merasa dihina dan dilecehkan Nasehat atas perilakunya oleh Kakek Bisma, namun tidak digubris oleh Duryodana, karena ia merasa berkuasa, sehingga bebas melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya. Pejabat rendahan tentunya tidak berani mengungkit, apalagi memasalahkannya, karena ia adalah anak raja. Sehingga, apapun yang dilakukannya, yang jelas Duryodana tetap penguasa dan diberikan kekuasaan. Apakah Duryodana sadar akan dirinya? Yang jelas tidak mendapatkan jawaban yang Rasti, karena sekarang bukan jaman itiasa. Namun bila dilakukan pencermatan, "itulah darmanya Duryodana dan itu bukan Adharma bagi Duryodana. Drestarasta yang raja buta lebih mendengarkan bisikan adharma ketimbang mendengarkan bisikan dharma dari seorang wiku suci seperti: Drona, Bhisma, Kripa dan lainnya. Namun sang raja buta sangat kasih terhadap putranya, sehingga memilih bisikan adharma.
Strategi kritis licik Duryodana, terus memasang jerat jebak untuk menjebak Pandawa, baik dengan cara meracuni, rumah kardus, judi maupun menebar pitnah kepada masyarakat. Dasar Duryodana, memang haus kekuasaan ia pun tidak hanya selingkuh dengan sakuni, karena, para raksasa pun diselingkuhinya, untuk mencelakai Pandawa. Urusan kelicikan Duryodana memang juaranya, ketika menjelang perang di Kuruksetra pecah, Duryodanapun berselingkuh dengan Jaya brata yang berkehendak memperkosa Drupadi di tengah hutan, walaupun Duryodana mengetahui perbuatan Jayabrata, karena ia sangat benci para Pandawa, Duryodana pun memberikan posisi pada Jayabrata di medan perang Kuruksetra, untuk bersama-sama menghancurkan Pandawa. Dengan demikian Jayabrata berusaha menyelingkuhi Drupadi terlebih dahulu, baru kemudian mendapatkan jabatan. Mungkinkah lm sebuah karmanya yang belum sempat dinikmati pada masa kehidupanya terdahulu? atau mungkin, ini sebuah rekayasa untuk menjebak raja Astinapura? Kepastian jawaban ini memang sangat sulit diuraikan karena setiap kehidupan manusia memiliki keanekaragaman pikiran, pemikiran, maupun pembenar sendiri-sendiri walaupun ada aturan ketatanegaraan namun yang namanya Duryodana atas bisikan Sakuni tidak mau peduli dengan aturan. Terpenting bagi mereka adalah kekuasan, serta jabatan, jadi cara apapun pasti ditempuh.
Hebatnya, Salya yang sakti mandraguna dan dermawan, kena juga perangkap Duryodana. Duryodana memang cukup cerdas, meminjam baju kesopanan para Pandawa agar bisa menjebak Salya yang hendak bergabung dengan Pandawa. Para dayang, pelayan dan para prajurit menyambut dengan santun prabu Salya, suguhan yang sangat menyenangkan dan membahagiakan. Bagi Salya tentu merasa menyesal karena tidak bertanya terlebih dahulu (dia sesungguhnya disambut oleh siapa?). Mengembalikan suguhan sangatlah tidak mungkin, karena makanan telah didalam perut. Disinilah Salya terperangkap, karena secara hukum moral harus membalas kebaikan yang telah diterimanya dari Duryodana. Akhirnya Duryodana memohon agar Salya mau menjadi salah satu panglima dipihak Korawa. Salya terperangah dan tidak ada pilihan lain, ia pun menerim permohonan Duryodana walupun dengan berat hati.
Memaknai Perselingkuhan Kekuasaan
Terjadinya perselingkuhan kekuasaan tidak terlepas dari peranan Dharma dan Adharma. Manakala Dharma melemah, maka perselingkuhan kekuasaan tidak akan terjadi. Ini tampak sangat sederhana dan gampang diwacanakan dalam arti membedakannya, namun dalam konteknya, dharma Aanadharma menjadi sangat suit untuk dibedakan, spertinya memutar kehiduan, dharma dan adharma tidak memiliki ruang perbedaan dalam berpacu untuk berkembang. Dalam berkembang masing-masing memiliki strategi sendiri-sendiri. Pertimbangan ini tentu ikan faktor penggerak yang bernama manusia, Gerak dharma lebih sederhana sedangkan Adharma lebih agresif dan gemerlap, sebagaimana dicermati dalam Itihasa. Namun karena kuasanya Rahwana maupun Duryodana perumus pada gerak adharma. Namun tetap juga Rahwana maupun Duryodana mengaku mahluk utama dibandingkan dengan lainnya. Dharma dan adharma dalam kehidupan bisa diaktori oleh satu orang, mana yang dominan sangat tergantung kesiapan mental dan karakter.
Dharma dalam pengertiannya bisa kewajiban, hukum, agama dan lain-lain. Pengertian disini masih dalam tataran teks. Hubungannya dengan tujuan, tentunya dharma merupakan moral maupun nilai untuk memperoleh Artha. Menyatunya Dharma dan Artha baru Kama (keinginan) ini digerakkan guna pemenuhan hidup sesuai kebutuhan. Kontekstualnya apa yang dilakukan Rahwana maupun Duryodana berangkat dari kama (keinginan) untuk meraih Artha. Sehingga dharma tidak terpikirkan apalagi sebagai pemenuhan hidup, yang dijanjikan dasar meraih artha berpijak dari kama (keinginan) untuk mencapai Pondasinya Kama kekuasaan. Pondasinya Kama (keinginan), sehingga tatacara untuk memperoleh artha, sangat tidak mempertimbangkan aspek aturan yang mengatur yaitu ketatanegaraan. Karena Rahwana maupun Duryodana menginginkan dharma, sehingga proporsional maupun fropesionalisme tidak menjadi ukuran, yang penting kekuasan tetap ditangan Rahwana, demikian juga Duryodana untuk meraih kekuasaan ia tidak peduli yang namanya tata aturan apapun dilakukannya untuk mencapai tujuan yaitu kekuasaan. Dengan demikian Rahwan maupun Duryodana bergolak dalam hubungannya dengan jagadhita, pondasinya adalah keinginan atau kama, maka prilaku ini tergolong Adharma. Namun, bagi Rahwana maupun Duryodana, Adharma itulah Dharmanya sehingga dalam kekuasaan, Duryodana tidak mempertimbangkan senioritas, namun ketika peperangan akan terjadi, maka Duryodana sangat mempertimbangkan senioritas, dengan harapan kemenangan akan segera diraih yang ujung-ujungnya kekuasan bagi dirinya.
Konteks kehidupan mayapada, Duryodana tampak gemerlapan dan serba mewah. Dalam memperoleh kekuasaan Duryodana sangat sibuk tidak mengenal siang, malam, pagi menghadap pada ayahandanya untuk mendapat kekuasaan. Sebelumnya ia juga sibuk mohon nasehat pada Sakuni. Karna, Dron, Rsi Bhisma untuk sebuah kekuasaan. Memang kalau dibandingkan dengan kehidupan Pandawa, sangat jauh berbeda yang selalu menjadi korban kelicikan Duryodana, ujung-ujungya sebagai akibat ketakberdayaan raja buta yang senantiasa meraba-raba dan menimang-nimang mahkotanya.
Akhir perjalanan hidup Pandawa dan Duryodana, sangat menarik untuk dimaknai. Darmanya Duryodana, yang menurut kacamata dharma adalah adharma, telah banyak berbuat adharma, dengan kematian tragis, Duryodana pun berhak mendapatkan sorga, karena sejahat-jahatnya Duryodana telah pernah melakukan kebaikan yaitu; perwira dimedan Kuruksetra, dan Duryodana lebih dahulu mendapatkan sorga dibandingkan Pandawa. Pandawa kemudian mendapatkan sorga namun lebih lama karena pelaksanaan dharma lebih banyak dibandingkan dengan Duryodana. Demikian halnya ketika masih di alam maya pada, Duryodana lebih dahulu menikati kebahagiaan sedangkan pandawa menikmati kebahagiaan kemudian dan indahnya mahkota dengan penuh kedamaian.
Ada salah satu makna penting yang harus dimaknai dari 18 makna yang teruntai dalam Mahabrara; ''bermainlah, karena hidup ini adalah permainan". Ketika manusia memasuki dunia idola (cita-cita luhur atau ideal) perbedaan yang ada menjadi tidak berarti dan indahnya kesepakatan-kesepakatan pun muncul sebgaimana pemerintahan Astina Pura dibawah kendali Dharmawangsa. Hanya terdapat satu idola untuk manusia, yaitu dengan menjadikan dirinya manusia yang manusiawi dan sempurna. "Jadilah'' (radakrisnan, 2003;47). Bagiamana ini bisa terjadi? jawabanya, tergantung manusia memaknai, memainkan diatas permainan yang terjadi dan menjalankannya.
Source: Drs. Ida Bagus Subali P., M.Si l Warta Hindu Dharma NO. 530 Pebruari 2011