Prinsip Bisnis Membangun Kesejahteraan Yang Adil

Mahatma Gadni menyatakan bahwa bisnis tanpa moral dapat menimbulkan dosa sosial. Pebisnis yang tidak memiliki moral akan berbisnis dengan meninggalkan prinsip-prinsip bisnis yang normative. Karena itu dalam Bhagavata Purana VII.XI. sloka 153 dinyatakan bahwa seorang Waisya Varna (pengusaha) wajib berbhakti pada Tuhan dan guru rokhaninya (Deva gurvachyate bhaktis). Waisya Varna wajib juga mendalami ajaran suci Weda (Astikyam udyamo nityam). Dengan ber-bhakti pada Tuhan dan mendalami kitab suci seorang pebisnis akan kuat berpegang pada prinsip-prinsip bisnis yang dibenarkan oleh norma-norma bisnis yang berlaku.

Proses bisnis yang ideal menurut para akhli ada lima tahapan yang tidak boleh dibolak-balik. Lima proses itu adalah Pertama: memberikan kepuasan kepada customer atau pelanggan/konsumen. Kedua memberi pendapatan yang wajar dan adil kepada karyawan atau masyarakat yang bekerja di bisnis tersebut. Ketiga pemupukan modal agar modal yang ditanam dalam proses bisnis itu semakin mampu menghadapi perkembangan dinamika bisnis yang sering berfluktuasi. Keempat membayar pajak pada negara secara jujur sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kelima bisnis itu harus menjaga lingkungan alam dan sosial yang harmonis dan lestari.

Kalau proses bisnis ini dapat berjalan dengan baik maka proses tersebut akan dapat menegakan prinsip bisnis untuk mengembangkan kesejahteraan bersama secara adil. Orang tua-tua di Bali di masa lampau menyatakan dalam bentuk nasehat bahasa Bali sbb: ngalih gae bareng-bareng apang peturu hidup. Ini artinya mencari nafkah dengan bekerja sama agar sama-sama hidup. Nasehat ini sesungguhnya memiliki pengertian yang dalam bahwa bisnis itu suatu kegiatan hidup yang sangat mulia sebagai media kerjasama untuk meningkatkan kesejahtraan yang adil.

Mengapa dikatakan mulia karena harus menghasilkan benda atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kegiatan bisnis itu akan berlimbah dosa kalau menggunakan prinsip mati iba hidup kai. Artinya biarlah kamu mati yang penting aku hidup enak. Memang ada sementara pihak melakukan praktek bisnis seperti itu. Berbagai pihak yang diajak dalam proses bisnis itu tidak dihiraukan dalam keadaan bisnis sudah menguntungkan. Yang penting sang pebisnis itu dapat hidup mewah bersenang-senang menikmati keuntungan yang seharusnya menjadi milik bersama antara pemilik modal dan para karyawan.

Dengan produk bisnis berupa benda atau jasa itu kita dapat membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Cuma benda atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan bisnis itu harus dapat diproleh masyarakat dengan wajar. Di Bali disebut bani meli bani ngadep. Antara kualitas barang atau jasa yang didapatkan oleh customer agar seimbang dengan biaya yang dikeluarkannya. Apa lagi kalau masyarakat mendapatkan barang atau jasa tersebut dengan pelayanan yang menyenangkan dari pelaku bisnis. Hal itu sebagai suatu perbuatan jasa yang bernilai tinggi dihadapan Tuhan. Demikian juga kegiatan bisnis itu seyogianya dapat memberi kesejahtraan yang wajar dan adil kepada masyarakat yang bekerja dalam proses bisnis tersebut.

Seharusnya hubungan kerja dalam kegiatan bisnis itu tidak sebagai hubungan majikan dengan buruh. Hubungan itu seharusnya dikembangkan sebagai sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang setara yang bekerja sama membangun kesejahteraan untuk dapat hidup wajar di dunia ini. Pengusaha mengeluarkan modal uang. Sedangkan karyawan mengeluarkan modal dalam bentuk tenaga, keterampilan dan keahlian untuk memajukan bisnis bersangkutan. Bisnis tentunya tidak akan dapat berjalan secara wajar tanpa tenaga, keterampilan dan keakhlian para karyawan.

Sebagai manusia yang beragama dan berbudaya tentunya harus melihat secara agama dan budaya juga antara nilai modal berupa uang dan nilai modal berupa tenaga, keterampilan, apa lagi keahlian manusia. Pebisnis yang berbudaya tentunya akan memandang tenaga kerja, keterampilan dan keahlian tidak dipandang dari norma-norma bisnis semata. Para karyawan juga dalam melihat kegiatan bisnis dimana ia bekerja tidak sebagai peluang untuk mengejar keuntungan material semata. Setiap pihak harus berpandangan bahwa bisnis itu sebagai lahan untuk mengembang kan kehidupan bersama sebagai ciri kita sebagai manusia ciptaan Tuhan.

Lahan bisnis itu harus dirawat secara bersama-sama dengan sebaik-baiknya agar ia menjadi wadah kehidupan bersama secara turun temurun. Setiap orang seyogyanya membantu pengusaha untuk memupuk permodalan usaha bisnis tersebut agar mampu mengikuti dinamika bisnis yang terus berkembang. Setiap orang yang bekerja di bisnis tersebut seharusnya bersikap mengutamakan kemajuan bisnis tersebut. Kalau bisnis tersebut sudah maju hendaknya setiap orang mendapatkan perolehan yang wajar dan adil.

Adil artinya memberikan kepada orang sesuai dengan haknya. Hak itu timbul dari kewajiban. Tanpa melakukan kewajiban dengan baik jangan lalu menuntut hak yang berlebihan yang tidak sesuai dengan kewajiban yang dilakukan. Lima tahapan bisnis itu tidak akan berjalan dengan baik apa bila setiap orang mementingkan dirinya sendiri. Setiap orang ingin mendapatkan untung sendiri-sendiri. Jangan usaha bisnis itu hanya sebagai wadah untuk sama-sama kerja bukan wadah untuk bekerja sama membangun kesejahtraan bersama yang adil. Idealisme bisnis akan berhasil apa bila contoh diawali oleh pendiri bisnis tersebut.

Dalam kekawin Nitisastra IV.19 ada dinyatakan bahwa kekayaan (dhana) itu salah satu penyebab orang bisa mabuk atau gelap hati. Karena itu seorang pebisnis harus senantiasa hidup secara rasional setiap langkahnya hendaknya berdasarkan kajian yang cerdas rasional. Dengan demikian setiap langkah bisnisnya tidak berdasarkan dorongan emosional belaka. Apa lagi dalam persaingan bisnis seorang pebisnis dapat saja terpancing untuk emosional menjalankan bisnis untuk mengalahkan pesaingnya. Justru hal ini amat berbahaya, karena dapat menjebak seorang pebisnis melangkah tanpa kajian mendalam secara rasional. Meskipun ada pancingan agar bersaing dengan emosional hal itu haruslah cepat-cepat disadari akan dapat menjerumuskan pebisnis untuk melangkah ngawur tanpa perhitungan mendalam. Karena itu seorang pebisnis harus mengikuti sikap seorang ilmuwan dan spiritualistis juga. Tidak keburu nafsu dalam berbisnis.

Source: Ketut Wiana l Bali Post (16 April 2015)