Sastra merupakan pengetahuan, sastra dihubungkan dengan kata Dharma menjadi Dharma Sastra yang berarti pengetahuan tentang kebenaran agama. Kata Sastra berasal dari bahasa Sansekerta dengan akar kata Sas yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi, dengan akhiran Tra yang berarti alat atau sarana. Maka sastra berarti alat untuk mengajar, Buku Petunjuk, Buku Instruksi untuk pengajaran; misalnya Silpasastra, Buku Arsitektur, Kama Sastra, Buku Petunjuk mengenai seni cinta.
Sastra juga dapat berarti tulisan. Pengertian tersebut dapat dimaknai melalui kata "Sastra Bali". Dalam kehidupan sehari-hari Sastra Bali, sangat erat kaitannya dengan proses kehidupan manusia Bali, khususnya yang beragama Hindu. Sastra juga berarti Aksara, Sastra mendapat bunyi sengau (Anusuara) "Ny" menjadi Nyastra yang berarti mempelajari, melaksanakan dan mengamalkan ajaran Agama Hindu. Sastra mendapat awalan (Pangater) "Ma" menjadi Masastrayang berarti mempelajari Ilmu Pengetahuan. Realitas Hidup dan Kehidupan Nyama Bali yang beragama Hindu, bahwa sastra tidak hanya mengandung Ilmu Agama Hindu, yang memberikan petunjuk kepada Insan Manusia tentang cara hidup bertuhan, bermanusia dan berlingkungan.
Sastra pada hakekatnya adalah pedoman hidup dalam kehidupan di Mayapada ini, sehingga Sastra tidak bisa dikesampingkan oleh setiap insan manusia karena sastra denyut nadi kehidupan.
Usaha mempertahankan hidup Era Global dewasa ini, tentunya insan manusia memiliki wawasan dan kepekaan yang tumbuh dan berkembang secara luas, guna mengimbangi ancaman, gangguan, hambatan serta tantangan yang menggoda jati diri. Usaha ini hendaknya terus ditumbuhkembangkan, kalau manusia tidak mau terhanyut oleh godaan indrawi dunia. Hidup di dunia merupakan ujian bagi manusia agar manusia selalu mulat sarira guna meningkatkan taraf hidupnya, dengan berpedoman pada ajaran agama, sarana apapun yang didapatkan dalam kehidupan, guna mempertahankan hidup, hendaknya sesuai dengan aturan hidup yang berlaku.
Banyak usaha hidup yang dilakukan, merupakan konsekwensi Era Global, sekaligus merupakan tantangan yang menuntut insan manusia, untuk berinovasi-berkreatif dan berkreasi, sehingga Pola Hidup dapat berkelanjutan dengan dinamis. Satu cara/usaha yang dilakukan dalam mempertahankan hidup, tentunya merupakan kestatisan pola pikir, pola kata, maupun pola laku di Era Global ini. Sekaligus mendorong manusia, yang tanpa disadari menyempitkan wawasan, tertutup dan cenderung Apriori terhadap insan manusia sekitarnya, timbul satu masalah yang tak terselesaikan, sehingga tersusunlah antrean masalah tak terkoordinasi dan terakomodasi, tinggal menunggu giliran bahwa Panah Nagapasa akan menyerang kehidupan mengantisipasi semua ini, sastra banyak memberikan tuntunan hidup, sekarang tinggal manusia, mau kemana?
Lautan sastra, di dalamnya terkandung banyak tuntunan hidup. Dengan tata cara yang penuh kedinamisan serta wawasan yang maha luas, yang diciptakan Sang Ulahi, untuk insan manusia dalam mengarungi hidupnya, dengan kesradaan tinggi menatap masa depan yang lebih cerah. Tata Cara kehidupan dan menghasilkan hidup, tergambar jelas dalam Catur Purusa Artha, Dharma merupakan landasan guna memperoleh Artha, demikian pula Karma dan Moksa.
Pada kehidupan, hendaknya Arha disiasati penggunaannya:
1. Guna kegiatan Dharma (Sadhana ri Kasidaning Dharma)
2. Guna Kegiatan Kama (Kreasi Olah Raga, Kesenian, dll). (Sadhana ri Kasidaning Kama)
3. Guna memperoleh Artha kembali (Sadhana ri Kasidaning Artha)
Agar perputaran roda kehidupan berkesinambungan, maka seharusnya Artha yang diperoleh dikelola sedemikian rupa; kegiatan ekonomi misalnya! Guna memperoleh Artha kembali, selanjutnya kegunaannya dibagi tiga kembali, demikian seterusnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari kestatisan Artha, dengan kata lain agar jangan begitu artaha/uang diperoleh langsung habis tanpa bekas, tanpa pengelolaan, ini sangat sia-sia.
Ternyata sastra, hendaknya membuka mata hati kita guna membentengi diri, dalam mengarungi Lautan Globalisasi, "Boleh melawan arus, asal anda pandai berenang", "Boleh mengikuti arus", asal anda bisa menepi. Bila tidak demikian maka anda akan tenggelam atau berbenturan/dibenturkan dengan batu, cadas, maupun karang yang tajam.
Indahnya lagu-lagu sastra, hendaknya dipelajari, didengarkan dan diamalkan guna membukakan mata hati, sekaligus memberikan pencerahan pikiran, tutur kata, yang terpenting wujud nyatanya, taat pada kesetiaan wacana. Ternyata sastra bagaikan "Pohon Cinta".
Source: IB Subali P l Warta Hindu Dharma NO. 467 Desember 2005