Segara Gunung Pertemuan Lingga dan Yoni

Simbolis dari konsep "Nyegara Gunung" oleh para pinisepuh, para leluhur, para wikan dan para orang-orang arif bijaksana sering diistilahkan dengan pertemuan lingga dan yoni. Di tempat-tempat seperti inilah mereka (Para orang-orang suci) melakukan yoga semadi. Karena mereka meyakini bahwa vibrasi dari tempat tersebut akan memancarkan "aura" keagungNya. Dan biasanya para leluhur akan membangun tempat suci di sekitar areal tempat tersebut.

Lihatlah! keagungan Pura-Pura Sad Kahyangan yang ada di Bali. Hampir semuanya "Nyegara Gunung". Pura Tanah Lot di atas batu karang di tengah laut. Pura Luhur Uluwatu dipinggir pantai yang curam di atas ketinggian bukit jimbaran. Pura Pulaki Singaraja di atas ketinggian bukit, dibawahnya terhampar laut yang luas. Dan masih banyak lagi Pura-Pura suci lainnya yang mengambil konsep "Nyegara Gunung".

Gunung, sumber penghidupan dari mahluk tumbuh-tumbuhan binatang dan manusia menjulang tinggi ke angkasa. Sedangkan lautan mengelilingi daratan memenuhi hampir seluruh permukaan Bumi. Di dalam filosofi pendakian menuju puncak pencerahan rohani, dimana usaha manusia untuk menjadi semakin dekat dengan-Nya sering diistilahkan dengan memutar Gunung sampai kepuncak-nya. Setelah sampai di puncak turun lagi untuk menyelami kedalaman lautan samudera sampai ke dasarnya. Bagi seorang "Bakta/Margi" (peminat kehidupan rohani), mereka tidak puas hanya mengecap atau mengejar ilmu pengetahuan rohani saja. Setidaknya mereka ingin merasakan kehadiran-Nya. Bahkan terkadang mereka sering jatuh bangun dibuatnya. Di dalam usaha pendakian itu ada berhenti di tengah jalan, atau berputar-putar di tempat dan bahkan jatuh lagi ke bawah.

Pencerahan rohani bukanlah akhir daripada tujuan pendakian para peminat spiritual. Menyelam ke dasar lautan untuk merasakan keasinan-Nya, keberagaman Zat garam-nya, itulah yang didamba-dambakan oleh para "Brahmacarya" para peminat kehidupan rohani, peminat spiritual dan meditasi. Ada istilah yang mengatakan, "Mengetahui Tuhan akan menjadi manunggal dengan Tuhan itu sendiri". Di dalam filsafat Kejawen, ada disebutkan "Ing sebener-benere manungsa iku kanyatahaningPangeran, lan pangeran iku mungsawiji". Artinya: "Bahwa dengan sebenar-benarnya manusia itu adalah manifestasi Tuhan, dan Tuhan itu hanyalah satu".

Itulah sebabnya manusia dikatakan mahluk yang paling sempurna. Sebab mereka (umat manusia) mempunyai potensi untuk menjadi "Tuhan" (manunggal dengan-Nya) mencapai moksah. Kebahagiaan yang abadi "Suka tan pa wali duka". Di dalam Lontar Kamoksan pun dijelaskan bahwa tubuh manusia adalah tempat bersemayamnya para Dewa.

Gunung sebagai perwujudan "Lingga" adalah tempat bersemayamnya "Dewa Siwa". Sedangkan Lautan sebagai perwujudan "Yoni" adalah tempat bersemayam saktinya Siwa. Lingga Yoni adalah simbolis Purusa Pradana (Laki-laki dan perempuan). Secara sekala (kasat mata) perkawinan atau pertemuan Purusa Pradana akan melahirkan suatu mahluk jelmaan yang disebut dengan Manusia. Sedangkan sedang Niskala pertemuan tersebut akan melahirkan kekuatan Super Power (Su-pra Natural) yang disebut dengan "Wahyu/Kesidian".

Itulah sebabnya para Leluhur memilih tempat-tempat strategis semacam itu, untuk melakukan Yoga Semadi. Serta membangun tempat -tempat suci di areal yang berpatokan "Nyegara Gunung" tersebut. Persembahyangan dan "Tirthayatra" sangat dianjurkan ke tempat-tempat suci lebih unggul dibandingkan dengan yadnya. Upacara Panca Yadnyapun juga mengambil konsep "Nyegara Gunung". Misalnya Upacara Memukur, setelah melasti ke Laut biasanya dilanjutkan dengan meajar-ajar ke Pura Besakih di Gunung Agung.

 

Source: Niken Tambang Raras l Warta Hindu Dharma NO. 430 Desember 2002