Tapa Brata Menyucikan Atma

 Adbhirgatrani suddhyanti, manah satyena suddhyanti, widya tapobhyam bhutdtma, buddhirjnana suddyati
(Manawa Dharmasastra V. 109)

Sloka Manawa Dharmasastra V. 109 ini terjemahan bebasnya adalah: “tubuh disucikan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, atma disucikan dengan tapa brata, budhi disucikan dengan ilmu”. Soal penyucian diri (tubuh) dan penyucian pikiran sudah pernah dibahas di mimbar ini. Tetapi bagaimana dengan menyucikan atma? Kenapa atma harus disucikan, bukankah atma itu tak bisa kotor?.

Atma adalah bagian dari parama atma, jadi memang selalu dalam keadaan suci. Kalau dianalogikan atma itu adalah sinar surya, sedang surya itu sendiri parama atma, maka sinar itu tak akan pernah kotor, selalu suci. Tetapi sinar itu bisa tidak diterima dengan baik di alam semesta atau samar-samar, tidak terang benderang. Penyebabnya ada awan yang menutupinya, bisa awan ringan dan tipis yang segera terbang, tetapi bisa awan gelap berupa mendung. Sinar itu sendiri tetap saja suci bersih, apalagi mataharinya. Mendung itulah sebagai penyebab kelihatan sinar itu jadi tidak terang dan suci.

Awan itu yang harus disingkirkan supaya sinar surya tetap terang. Awan mendung itu ibarat nafsu-nafsu tidak baik yang selalu mengotori jiwa, yang menyebabkan sang atma tidak menampakkan kesuciannya. Mari singkirkan nafsu buruk itu. Dengan apa? Sloka Manawa Dharmasastra tadi menyebutkan dengan melakukan tapa brata.

Tapa itu arti bebasnya mengekang. Brata artinya berjanji (pada) diri. Tapa brata itu berarti berjanji untuk melakukan suatu pengekangan agar nafsu-nafsu buruk tidak menutupi jiwa atma. Tapa brata adalah pengekangan dengan kesadaran sendiri bukan atas perintah orang lain, bukan atas tekanan. Pada Hari Raya Nyepi, misalnya, kita mengenal empat macam brata, salah satunya adalah amati karya. Tidak melakukan pekerjaan. Ini adalah bagian dari tapa (pengekangan) yang muncul atas kesadaran sendiri. Kita berada di dalam rumah. Kalau kita tetap bekerja sepanjang di dalam rumah, apa ada orang lain yang tahu? Tidak ada. Tetapi janji kepada diri sendiri melakukan pengekangan sudah dilanggar.

Tapa brata ini sudah batal dilakukan meski pun tak ada orang lain, misalnya, pecalang yang menyalahkannya. Jadi tapa brata itu adalah mengekang diri dengan kesadaran penuh yang  tidak perlu pengawasan orang lain. Banyak sekali contohnya, misalnya, puasa (upawasa). Kita tak bisa gembar-gembor mengatakan kepada orang lain sudah berpuasa, dan itu tak diperlukan. Karena bisa saja itu pura-pura puasa, dengan cara masuk ke kamar sembunyi-sembunyi tanpa ada orang yang tahu lalu minum atau makan.

Mengendalikan nafsu memang sangat sulit. Pantangannya pun banyak. Padahal nafsu harus dikendalikan agar tercipta kesucian atma dalam menghadapi pekerjaan yang membutuhkan kesucian atau keheningan. Di masa lalu, para leluhur kita banyak yang melakukan tapa brata sebelum ada karya besar, misalnya, piodalan atau ritual manusa yadnya seperti potong gigi. Sang jayamana (kepala keluarga yang mengadakan ritual) melalukan “pembatasan makan”, hanya makan seadanya serba putih: nasi putih dengan garam, misalnya.

Begitu pula yang akan memimpin ritual seperti pemangku termasuk dalang yang membuat pementasan sakral. Bahkan orang yang potong gigi (metatah) juga melakukan tapa brata. Sekarang ini tapa brata itu hanya dijadikan simbol saja, misalnya, bagi yang potong gigi ada upacara yang disebut “mesekeb”. Hanya berlangsung beberapa menit sebelum ritual dilaksanakan. Dulu berlangsung sehari sebelumnya. Begitu pula setelah metatah dilaksanakan, dilarang keluar rumah dengan istilah “sing dadi megat rurung” (tak boleh keluar sampai menyeberang jalan). Sekarang sudah banyak dilanggar.

Tak jarang pula di masa lalu orang melakukan tapa brata dengan pergi ke hutan dan tidur di sana, atau memang sudah dibuatkan pondokan. Ini dimaksudkan agar lebih mudah menghadapi tantangan jika masih di tengah keramaian. Dalam tradisi di Jawa, tapa brata banyak dilakukan dengan merendam diri di sungai, hanya kelihatan leher ke atas. Itu dilakukan malam-malam dalam kedinginan untuk menentramkan diri dan mencoba membersihkan diri dari nafsu negatif.

Setelah melakukan tapa brata itu maka dengan kesucian diri kita melaksanakan karya-karya besar. Maka atma yang terlindung dari kekotoran akan dengan mudah menyatu dan mencapai alam parama atma. Itulah hakekat dari atma yang suci karena telah “dibersihkan” dengan tapa brata.

Source: Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda l http://www.mpujayaprema.com