Tuhan dalam Persepsi Masyarakat Hindu Toraja Barat

(Sebelumnya)

Defenisi Tuhan

Memasuki wilayah konsepsi tentang ajaran ketuhanan berarti telah berorientasi pada sesuatu yang abstrak, umumnya ide-ide tentang ketuhanan menyangkut keyakinan para penganut terhadap adanya kuasa di luar batas emperisme yang diikuti oleh umatnya dalam rangka meningkatkan kemanusiaannya sesuai dengan ajaran yang diajarkan dengan keyakinan.

Pemikiran untuk memberikan defenisi tentang Tuhan sesungguhnya sesuatu yang tak mungkin dalam pandangan teologi (Hindu). Menurut Pudja, Tuhan dalam pandangan agama Hindu, termasuk juga pada agama lain, adalah sesuatu yang tidak mungkin atau mungkin salah, sebab suatu definisi yang baik harus mampu memberi gambaran yang jelas dan lengkap, sedangkan Tuhan mencakup pengertian yang luas dan serba mutlak. Namun demi kepentingan praktis, baik dalam sudut keilmuan maupun dalam fungsinya sebagai media penghayatan keagamaan, defenisi itu patut dihadirkan.

Agama Hindu sebagai agama tertua di dunia yang menyimpan segudang ajaran yang tidak mudah dimengerti, telah tumbuh dan berkembang melalui keterpaduan tradisi berbagai wilayah yang dilaluinya. Hal ini menimbulkan berbagai konsep dan pengertian telah berkembang sebagai akibat perbedaan cara berpikir dan cara penafsiran atas satu pokok keimanan yang sama tentang Tuhan. Misalnya, perbedaan bahasa dapat memberi arti yang berbeda walaupun maksud pikiran adalah seperti apa yang dimaksud sebenarnya. Ketidak mampu-an manusia untuk menghayati Tuhan yang sebenarnya dilukiskan dalam Wrhaspati Tattwa sebagai berikut:

Hana wuta samoha, amalaku winarah wruh ring liman, saka swikaranya wruha, amalaku ta ginamelaken dening wong manon liman, ndan kapwa dudu ginamelnya sowang-sowang, hana anggameli hulu, kadi kumbha liman lingnya, waneh angameli talinga, kadi hirir liman lingnya, waneh anggameli gading kadi kakayu binunut liman lingnya...
(Wrhaspati Tattwa: 4.1)

Artinya:
Ada orang buta berkumpul, mohon diberi tahu oleh orang yang mengetahui gajah, karena keingin tahuannya demikian kuat, (ia) mohon agar dirabakan oleh orang yang melihat gajah, tetapi masing-masing diraba-kan pada bagian yang tidak sama, ada yang dirabakan pada kepala, seperti tempayan gajah itu katanya, yang lain dirabakan pada telinga seperti kipas gajah itu katanya, yang lain dirabakan pada gadingnya, seperti kayu dibubut gajah itu katanya...

Dalam hal ini setiap orang membedakan keberadaan gajah yang sama-sama tidak tahu gajah yang sebenarnya. Demikianlah juga tentang keberadaan Tuhan, yang selalu menjadi perdebatan, padahal tidak tahu tentang Tuhan yang sebenarnya.

Penghayatan Tuhan yang berbeda-beda inilah dalam masyarakat Hindu menimbulkan berbagai macam nama untuk menyebut nama Tuhan dan memunculkan banyak perayaan hari suci untuk memuja beliau yang satu. Keanekaragaman panggilan Tuhan dalam ajaran agama Hindu sesungguhnya dibenarkan. Menurut Titib bahwa kitab suci Weda dan susastra Hindu menyebut Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai nama, Tuhan disebut dengan sahasranama (bhs. Sansekerta) artinya ribuan nama. Keanekaragaman istilah terjadi karena faktor keterbatasan manusia pemuja-Nya di dalam memahaminya. Kitab Reg Weda 1.164. 46 menyebutkan : "Mereka menyebut Indra, Mitra, Waruna, Agni dan Dia Yang Bercahaya, yaitu Garutman yang bersayap elok, Yang Maha Esa itu oleh orang-orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama seperti : Agni, Yama dan Matariswan'.

Demikian juga bagi masyarakat Hindu Alukta di Kabupaten Mamasa di dalam memahami Tuhan tentu menggunakan tradisi dan budaya mereka sendiri yang kesemuanya bersumber dari Sukaran Aluk. Tuhan diapresiasi sebagai Puang Matua. Disamping Puang Matua, juga dikenal istilah Dewata yang jumlahnya sangat banyak sesuai dengan fungsinya. Puang Matua diyakini ada dengan sendirinya atau dengan kata lain tidak pernah dilahirkan ataupun melahirkan. "Apa dadi ria puang matua lan silopakna tana kalua" atau lebih lengkapnya "apa dadi ria Puang Matua lan ba'tangna langi", kumombongria Deata lan silopakna padang kalua', Puang tang didadian, Deata tang dikombongan. Kalimat Puang Matua tang didadin yang artinya Puang Matua tidak dilahirkan menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat Hindu di Kabupaten Mamasa bahwa Tuhan itu diyakini tidak dilahirkan tetapi ada dengan sendiri-Nya. Selain digelari Puang Matua, Tuhan dalam keyakinan masyarakat Hindu Alukta etnis Toraja Barat juga sering disebut Bhatara Tua dan Puang Takumombong.

Demikian juga Dewata, menurut keyakinan Umat Hindu Alukta, dicip-takan seperti adanya manusia, yang dalam kutipan di atas disebut "Deam (Bahasa Toraja Barat : Dewata) tang dikombongan. Disini tentu ada perbedaan istilah antara Dewata dalam masyarakat Hindu di Bali dengan apa yang diyakini dalam masyarakat Hindu Alukta. Di bali (dalam sumber tertulis) Dewata artikan sebagai dewanya para dewa yang pengertiannya sama dengan Tuhan sedangkan dewa adalah bagian dan atau manifestasi dari Tuhan. Walaupun demikian, sesungguhnya secara gramatikal bahasa Sanskerta, kedua kata ini mempunyai pengertian yang sama. Dalam konsep Sukaran Aluk Dewata adalah mahkluk ciptaan Puang Matua. Menurut Bero, seorang tokoh agama Hindu Alukta di Toraja Timur Puang Matua menciptakan para Dewata untuk memelihara semua ciptaannya di dunia.

Dewata ini diyakini jumlahnya sangat banyak. "Dewata ponno padang" demikian dikenal dalam sastra tutur masyarakat Hindu Alukta yang arti harfianya alam semesta ini dipenuhi dengan Dewata. Adapun Dewata yang banyak itu, antara lain : Dewata To Mepatama Lino (Manifestasi Puang Matua sebagai pencipta), Dewata (To) Merandanan, manifestasi Puang Matua ketika sebagai pemelihara, Dewata Wai yaitu  dewata yang menguasai air, Dewata Pare yaitu Dewata yang menguasai padi, Dewata (To) Masagala yaitu menifestasi Puang Matua sebagai pelebur, Dewata Nawang, yang menguasai angkasa, Dewata Api yaitu Yang menguasai api, Dewata Reu yakni Dewata yang menguasai tumbuh-tumbuhan (istadewata bagi peternak), Dewata Litak (Dewa Prtiwi), Dewata To Mesalangga (Dewata yang mengatur pergerakan bumi termasuk gempa bumi), Dewata Pangngalak (Dewa penguasa hutan, dan lain sebagainya).

Dari sekian banyak manifetasi Puang Matua yang disebut Dewata, nampaknya disederhanakan lagi menjadi tiga azas yang sebenarnya tunggal. Ketiga pengelompokan dimaksud disebut Dewata Titanan Tallu, Puang Matua Tirindu Lalikan; artinya tiga azas yang tak terpisahkan. Ketiga azas ini kurang populer bagi masyarakat Hindu Alukta etnis Toraja Barat khususnya bagi yang awam tetapi besar kemungkinan terdiri dari unsur; Puang Matua, Ampo Padang dan Simbolong Padang yang identik dengan Tri Murti.

Konsepsi Dewata yang banyak melahirkan sebagai macam upacara yadnya yang merupakan upaya konkri-tisasi dalam kehidupan nyata. Ketika manusia ingin memuliakan dan me-mohon anugrah Tuhan dalam bidang pertanian maka mereka melaksanakan upacara pa'taunan yang ditujukan kepada Dewata Pare. Di bidang peternakan, antara lain, dilaksanakan upacara Ummalli Reu yang ditujukan kepada Dewata Reu, dan upacara-upacara lainnya. Jadi kegiatan keagamaan yarig menonjol dalam masyarakat Hindu etnis Toraja Barat akan lebih banyak dalam bentuk upacara keagamaan.

Tuhan dalam Gambaran Keyakinan Manusia

Penghayatan Ketuhanan pada masyarakat Hindu pada umumnya Tuhan diyakini dalam bentuk Impersonal God (Tuhan yang tidak berpribadi) dan Personal God (Tuhan Yang berpribadi). Tuhan yang dalam bentuk impersonal God berada pada alam trancendent, di luar kemampuan pikir manusia sedangkan Personal God berada pada alam imanen yakni dapat dikenali lewat sifat-sifatnya yang tentunya secara limitatif, relatif atau secara riil. Umumnya Tuhan dipuja sebagai wujud yang berpribadi (personal God). Dalam aktivitas tertentu Tuhan menjadi Istadewata bagi parameter pemujanya. Beliau dipuja sesuai dengan kepentingan serta keinginan pemujanya.

Masyarakat Hindu Alukta mempunyai gambaran yang tidak berbeda jauh dengan apa diyakini pemeluk agama lain tentang Tuhan. Menurut penuturan salah seorang tokoh Hindu Alukta, Bero menyebutkan :

Iamo Puang Matua lan ba'tangna langi', Deata sumpu mamase, Puang sa'palabuda, tumampa tau rumende tolino, kumombong tosanda sangka'na untampa lalanna sukaran aluk, kombong pemali sanda saratu, tumampa sangka kumombongesungan palelan, tumampa sanda salunna kumombong sanda tonganna pa'kana untampa Sang Deatanna kumombongangpa'duananna (Allo Padang, 1989).

Artinya:
Puang Matua itu maha pengasih dan maha Penyayang serta Maha Pemurah. Beliau Maha Pencipta|Bk karena Beliaulah menciptakan4' manusia, angkasa, alam semesta beserta isinya, menciptakan sukaran aluk (kitab suci), dan menentukkan pantangan-pantangan agama (pemali), merupakan kebenaran agama yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Beliau menciptakan para Dewata untuk memelihara semua ciptaannya di dunia. Beliaulah yang berkuasa atas segala yang ada, tidak ada duanya.

Tuhan senantiasa digambarkan oleh umat dengan predikat serba "Maha". Tuhan adalah Maha Pencipta. Segala yang ada di luar diri-Nya merupakan ciptaanBeliau. "ToTumampa"demikian gelar Beliau sebagai Maha Pencipta menurut keyakinan Hindu Alukta Dalam Kitab Suci Atharvaveda X.2.25 disebutkan:

Brahmana bhumir vihita
Brahma dyaur uttara hita
Brahma-idam urdhvam tiryak ca
Antariksam vyaco hitam

Artinya:
Brahman menciptakan bumi ini. Brahman menempatkan lagit di atasnya. Brahman menempatkan wilayah tengah yang luas ini di atas dan di jarak lintas. Demikian, Tuhan yang bergelar Brahman diyakini pencipta alam semesta beserta segala isinya, termasuk manusia. Bahkan Dewa-Dewa pun adalah ciptaan Beliau.

Karena segala sesuatu adalah ciptaan Beliau, manusia pun mengharapkan segala sesuatu dari-Nya. Manusia meyakini bahwa Beliau Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ketiganya, oleh Umat Hindu Alukta, digelari-Nya dalam satu kata, "Dewata Sumpu Mamase". Kata Sumpu Artinya Maha; sedangkan Mamase bisa berarti: pemurah, Pengasih, atau Penyayang, dalam Kitab Yajur Veda X. 24 disebutkan : "Tuhan adalah Maha Suci bagaikan angsa,.... Dia bagaikan orang yang menghaturkan sesajen yang duduk di altar. Dia bagaikan tamu yang beristirahat di sebuah Rumah". Mantra ini mengandung makna bahwa Tuhan adalah Maha Pemurah.

Selain sebagai Maha Pencipta, Tuhan pun senantiasa memperhatikan bagaimana ciptaan-Nya di alam semesta. Umat Hindu Alukta menggelari Beliau sebagai Puang Tomerandanan. Apa pun yang dilakukan, dipikirkan dan dikatakan selalu dilihat tanpa bisa disembunyikan. Kitab Suci Atharvaveda IV. 163 menyebutkan:" Semua itu. Tuhan, Sang Raja, melihat apa yang ada dalam langit dan apa yang diluar itu, Ia menghitung kedipan mata manusia, Seperti pemain dadu menghitung dadu, Demikianlah Ia menetapkan hukum-Nya".

"Puang Tomekambi' Allo Bongi", demikian predikat Puang Matua/Tuhan yang lain. Artinya, Tuhan senantiasa melindungi/membimbing (segala ciptaan-Nya) baik di siang (allo) maupun malam (bongi) hari. Dengan kata lain, Beliau Maha Pelindung. Keyakinan ini, menurut Gde Pudja telah termuat di dalam Kitab Suci Reg Weda X. 4.1.

Demikian antara lain gambaran umat Hindu Alukta tentang Tuhan yang dipuja dalam kehidupan sehari-hari; tentu masih ada predikat-predikat lain yang melekat pada-Nya. Hal ini cukup meyakinan kita bahwa apa yang diyakini mereka sesungguhnya sama dengan apa yang terdapat dalam Kitab Suci Veda dan susastra Hindu.

Penutup

Dari paparan singkat di atas, penulis dapat menarik suatu kesimpulan sebagai penutup tulisan ini sebagai berikut:
1. Filosofi Ketuhanan dalam masyarakat Hindu berlandaskan pada konsep bahwa Tuhan itu satu, tetapi banyak, tergantung pada kemampuan manusia didalam memahami dan juga oleh perbedaan budaya dan tradisi yang dilaluinya.
2. Sumber ajaran Ketuhanan dalam masyarakat Hindu Etnis Toraja Barat adalah Sukaran Aluk yang isinya mendekati Weda itu itu sendiri.
3. Puang Matua dan Dewata adalah hasil apresiasi masyarakat Hindu akan Tuhan menurut budaya dan tradisi Etnis Toraja Barat.
4. Demikian juga penggambaran Tuhan, di samping Impersonal God juga Personal God. Dalam realitasnya, dominan memperlihatkan penggambaran Personal God sesuai dengan kepentingan dan keinginan pemujanya.

Karena itu, perlu upaya penggalian konsep local genius berupa penelitian yang mendalam sebagai langkah konkrit penginventarisasian ajaran-ajaran agama Hindu di masing-masing daerah. Sehingga, benang merah di-antara sekian local genius dapat ditemukan, dan pada akhirnya bisa melahirkan kesepahaman di antara sesama umat Hindu di berbagai daerah.