Saniscara Kliwon ngaraning Tumpek. ya wekasing tuduh ikang sarwa jnama, awya lali sira ngastiti Sang Hyang Parama Wisesa, apan sira tan hana doh tan aparek lawan sira, tan parek tan pasah, apan sira amet pinet...."
Kutipan dari teks Sundarigama di atas memberi kita pemahaman filosofis, betapa manusia hendaknya tak pernah lupa dengan Sang Hakekat. Parama Wisesa sebagai hakekat tunggal, asal muasal semua makhluk, keberadaannya selalu dalam keadaan dialektika, Ia Sang Hakekat suksma adanya. Ia berada tidak jauh dan tidak dekat, tidak bersatu dan tidak berpisah. Beliau berhak dalam kekuasaan untuk mengambil dan memberi. Dalam konsepsi filosofis sebagaimana kitab-kitab tattwa, Ia adalah Nir.
Kitab Sundarigama juga memberikan ruang kosmologis terhadap pemerenungan makna semesta. Muatan astrologi Hindu Indonesia dalam rentang siklus hari yang disebut Tumpek berdasarkan perhitungan Kalender Jawa-Bali adalah siklus akhir yang datang setiap 210 hari. Tumpek adalah hari-hari Hindu di Indonesia yang datang berdasarkan matrik pawukon, di mana jumlahnya ada 30 wuku. Tumpek merupakan gabungan dari terakhir Saptawara (Saniscara) dengan Pancawara (hari Kliwon) dan wuku yang mengikutinya juga berakhir pada hari Sabtu.
Hari ini, Sabtu Kliwon, Wuku Landep, lebih kita kenal sebagai Tumpek Landep, merupakan puja kehadapan Bhatara Siwa dalam mani-festasi sebagai Sang Hyang Pasupati. Semua peralatan atau benda yang terbuat dari, besi, logam, emas perak dan senjata-senjata perang semisal keris tombak, tri sula dan lain sebagainya disucikan guna dimohonkan kehadapan Dewa Pasupati supaya dipralina semua unsur kecemarannya. Pasupati adalah penguasa prana, ia juga penguasa semua makhluk (sarwa prani). Jika pada Tumpek Landep kita memuja Pasupati sebagai penguasa prana ini berarti dalam tatanan yang lebih mendalam kita ingin membangkitkan prana dalam diri sebagai sumber gerak pisik maupun alam pikiran.
Simbolisasi dari diupacarainya keris taklah sekedar penggambaran fisikal. Keris yang lekukannya mirip dengan lidah api tak lain adalah lambang dari prana agni. Sampai di sini kita bertemu dengan konsepsi Siwaistis yang menempatkan Agni sebagai Dewa termulia, Agni adalah sumber energi semesta. Dalam tatanan yoga prana dihidupkan lewan Kundalini. Bentuk-bentuk pisik dari simbolisasi itu, semisal dibuatnya sesaji Sesayut Jayeng Perang, Sesayut Kusumayudha dan lain sebagainya menformatkan pada cita-cita utama dari masyarakat Hindu.
Apresiasi lebih ke dalam pada di mana kita melakukan pemernungan pada sublimasi olah batin dan olah pikiran Tumpek Landep memberi kita etos spiritual di mana kita bisa mengasah nurani mempertajam pikiran mengolah rasa menangkap makna semesta dalam kekerdilan makhluk Tuhan. Inilah pendakian puncak untuk menemui kekuatan prana di dalam rongga hati yang paling dalam.
Puncak pendakian nurani dalam keseimbangan rasa dan rasio akan terakumulasi dalam pola tindakan bagaimana manusia menempa dirinya dalam ruang pikirannya. Pikiran manusia adalah sebuah atmosfir, melampaui batas ruang, berdinamika sukar dipegang dan tak terkontrol. Di sini diperlukan kepekaan. Kepekaan untuk menangkap suara nurani dan getaran semesta raya. Pikiran setelah mengalami pengembaraan fana menjadi tak tersublimasi dalam kesadaran. Terbungkusnya wajah dunia maya. Ia menjadi rentan untuk menangkap impuls spiritual.
Landeping hidep memberi makna pada pendalaman di mana lautan pikiran terarungi menuju perjalanan "puncak". Mengantarkannya pada pemahaman-pemahaman yang berdimensional atas ruang dan waktu. Namun yang tetap menjadi sebuah dialektika apakah kita berada di dalam ruang atau di luar ruang, pertanyaannya terasa cukup retoris, akan tetapi sangat sukar dipecahkan. Dalam perenungan filsafat, saya sangat sukar menjawab pertanyaan ini, terkecuali harus menjadi seorang Tamtam yang mempertanyakan isin puyung.
Selama pikiran terselubung maya, kita tak mampu menjadi seorang Tamtam yang dengan sangat hati-hati meminta daging telas. Pertanyaan inilah yang mengantarkan Tamtam mencapai kejayaan. Setelah saya pikir, awal dari semua ini karena Tamtam telah memahami Samyajnana atau Stithaprajna. Kedua makna kata ini dapat terangkum di mana seseorang telah mencapai pengetahuan sejati. Sebagai tokoh lokal dalam khasanah sastra Bali, Tamtam adalah manusia multidimensi, ia adalah "peran" di mana dunia menjejali dirinya lewat segudang permasalahan hidup. Dan akhirnya menjadi pemenang yang diunggulkan.
Mengapa Tamtam ditampilkan dalam renungan Tumpek Landep? Pertama-tama jawabannya ialah karena ia seorang dusun, seorang anak petani yang nantinya menumbangkan raja Mesir. Bagi saya, Tamtam adalah manusia masa depan, yang dalam dirinya tertanam kuat obsesi untuk memahami dunia. Relung-relung pikiran Tamtam yang indah memukau merupakan ketajaman rasio dari olah pikir manusia multidimensional sekaligus seorang dusun. Kecemerlangan dan kebernasan pikiran bagi seorang Tamtam lebih tajam dari senjata apapun.
Tamtam tak hanya seorang filosuf dusun yang pertanyaan-pertanyaannya menggegerkan pemahaman seorang raja, namun ia adalah seorang petani tulen yang memahami dengan mendalam ruang kosmologi secara holistik. Seorang pemikir yang cemerlang yang mampu meretas tabir kekacauan dialektika dunia. Dunia bagi seorang Tamtam lebih dimaknai sebagai teater global dan ia adalah salah satu pemain dari drama semesta ini. Hidup harus dimainkan dengan manis pada titik-titik keindahan yang memukau, sumber dari semua kekuatan ini manusia harus memiliki kedalaman nurani, kepekaan rasa dan ketajaman pikiran. Setiap manusia harus menjadi pemain yang baik.
Tamtam mengantarkan kita pada kontemplasi manusia pinggiran yang mengalahkan kemunafikan, hipokratisasi dan argansi kekuasaan dengan kecermelangan pikiran. Tamtam adalah produk manusia Bali yang tak pernah kenyang dengan pengetahuan dan pemerenungan. Baginya pengetahuan adalah senjata paling ampuh untuk merengut dunia ke dalam pangkuan.
Namun persoalannya kini tak semua orang menghendaki Tamtam menjadi seorang petani plus filosuf, namun telah menentukan pilihan baginya untuk mengulang pengembangan pada di mana dapat berkontemplasi dengan nyaman. Menjadi petani dan filosof di tengah-tengah dunia modern sama artinya dengan memilih gila atau mencoba bunuh diri.
Dalam pengamatan saya, inilah psikologi keragu-raguan manusia Bali di tengah-tengah kancah pergolakan segudang permasalahan hidup. Dalam badai kemakmuran, bergelimpangan harta mewah libido kita menjadi tak lebih dari manusia purba. Masyarakat kita menjadi rentan dengan impuls-impuls kemanusiaan, rasa kemanusiaannya kini berbalik ditumpulkan oleh benda-benda yang mengitari dirinya setiap hari, pada hal sesungguhnya ia adalah alat untuk menguasai dunia. Dalam masyarakat yang rentan impuls kemanusiaan peradaban tidak akan melahirkan karya-karya monumental.
Jika pada Saniscara Kliwon Wuku Landep kita kembali menyucikan semua peralatan-peralatan perang untuk kita mohonkan kehadapan Sang Hyang Pasupati supaya tetap terjaga keharmonisannya, ini lebih kita maknai pada pemanusiaan imaji di mana supaya ketajaman pikiran tetap terkontrol di mana prana sebagai kekuatan alam pikiran bisa memercikan api suci.
Source: I Wayan Westa l Warta Hindu Dharma NO. 413 Juli 2001