Upacara Kematian dalam Naskah Yama Purwwa Tattwa

Salah satu naskah tradisional Bali yang memuat tentang upacara yajna agama Hindu adalah naskah Yama Purwwa Tattwa. Naskah ini telah didokumentasikan di Kantor Dokumentasi Budaya Bali. Naskah aslinya memakai aksara Bali dan telah dilakukan alih aksara serta alih bahasa ke dalam huruf latin. Telah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh tim penterjemah, yang tujuannya adalah guna memudahkan memahami isi yang terkandung di dalam naskah tersebut. Keseluruhan naskah ini (lazimnya dikenal oleh masyarakat Hindu di Bali adalah lontar) terdiri atas 16 lembar.

Bagaimana isi yang terkandung dalam naskah Yama Purwwa Tattwa tersebut ? Berikut ini dicoba dipaparkan secara sederhana, yang harapannya adalah dapat disimak maknanya, baik secara filosofis, teologis, maupun ritual. Secara filosofis, bahwa ada beberapa sarana utama yang dipakai dalam, upacara kematian sesuai naskah Yama Purwwa Tattwa, di antaranya: pisang jati sebagai warna, asep sebagai mata, nasi angkeb sebagai mulut, bubur pirata sebagai suara, dukut lepas sebagai dubur, cawan sebagai dahi, daun kayu sugih sebagai hidung, kusa sebagai bulu mata, jawa sebagai alis, pili-pili sebagai ulu hati, panjang Uang sebagai lidah, ending sebagai bibir, don rotan sebagai punggung, asep sebagai gusi, pengawak sebagai tulang belakang, tebu sebagai lengan, cendana sebagai tulang kelingking, rempah-rempah sebagai inti atau sebagai atma. Panyugjug sebagai jalan, panyugjug mameri sebagai penuntun yang paling depan, baju (wastra) sebagai kulit, kain wangsul sebagai telapak kaki, topi sebagai lutut ganjang/ganjaran berisi uang sebagai tulang lutut, sangku sebagai kantung kemih, kipas sebagai nafas, kotak sebagai daging, tiga sampir sebagai urat, dan gagadhing, emba-embanan sebagai kepala.

Kemudian secara teologis dinyatakan dalam naskah Yama Purwwa Tattwa, bahwa upacara kematian yang lazim disebut sebagai upacara ngaben (baik nyawa wedana, swasta, dan yang sejenis dalam upacara kematian) sesungguhnya ditujukan kehadapan Sang Hyang Siva (sebagai asal dari semua ciptaan di dunia ini). Sesuai sumber naskah Yama Purwwa Tattwa bahwa orang yang meninggal, dikubur di pertiwi, dan dibuatkan upacara pengabenan mendapatkan anugerah dari Sang Hyang Yama guna menghilangkan segala kekotoran (leteh) sehingga roh orang yang meninggal kembali ke alam Siva. Adapun nyasa atau simbul dari orang yang meninggal secara teologis digambarkan dengan huruf Triaksara, Omkara Mula, Rwa Bhineda yang dilengkapi dengan sesajen yang diperlukan.

Selanjutnya jika roh orang yang meninggal masih dalam keadaan sengsara, kotor (cukil daki) belum layak diupacarai ngentas, oleh karena hal demikian secara teologis mendapatkan kutukan dari Sang Hyang Haricandana (sebutan lain dari Deva Siva) untuk tinggal di dasar kawah naraka dan bukan tinggal di alam Siva. Kutukan Sang Hyang Haricandana dilanjutkan dengan penyerahan kehadapan Deva Brahma, yang pada akhirnya diserahkan kehadapan kepada Sang Hyang Yamadipati untuk ditem-patkan di kawah naraka. Kelak pada saat kelahirannya dinyatakan akan menjelma menjadi berkaki satu, berkaki tiga, dempet, dimpil, darih (mandul), deyog, pirut (kerdil), picek, dingkil, buta, tuli, gudug (jari dan tangan terlepas karena penyakit lepra), basul (perut dan pusar nonjol), beseh (berkali-kali kencing tanpa dirasakan), agong (abong), bulai, gondong, punuk (ponok), segala cacat tubuh dideritanya, demikian keburu-kannya, dunia kacau, bercampur baur, dunia salah perhitungan, hujan tidak j sesuai dengan musimnya, ular banyak dan tikus galak merajalela.

Sedangkan secara ritual bahwa jenaskah Yama Purwwa Tattwa juga memaparkan bagaimana upacara kematian, khususnya upacara Nyawa Wedana yang upakaranya terdiri atas guling bebangkit selengkapnya, sebagai penebusan, sesajen beralaskan nyiru sebanyak tiga nyiru, tetingkeban satu nyiru, untuk sedahan kawah saru nyiru, nasi garuda satu nyiru, dan ditambah pangalang-alang satu nyiru, dan lagi nasi sri kakili, angel-anggel 22 tanding, tambilung upih 108, cunguh kawu 40, berisi nasi setengah matang, yang tiga berisi lauk kulit siput air, dan lagi yang tiga berisi lauk darah, darah bercampur Rabu, dan lagi taksisir, tambling upih besar sebuah, berisi nasi lauk kulit siput air, alang-alang segenggam, darah satu limas berisi ati, bertongkat kayu ha, berisi panca kosika, yang merupakan gabungan dari daksina sebuah, pras lima, nasi putih, nasi merah, nasi kuning, nasi hitam, saji sebuah berisi lauk itik, pelengkap pahumahan lekesan 40 sebesar seperti cane dan lagi ditambah sajen pambuket, tumpeng berpucuk manik, seperti sate panyegjeg sebagai panebasan, berisi nasi setengah matang diolesi cendana, dipancangi orti, pulakerti, dan lagi karas berisi balung, jatu kling, warna, alat-alat kaki patuk, karas berisi alat-alat tukang bangunan.

Sebagai dasar kawah, kaping berwarna sesuai dengan neptu dan sajen pelengkap berupa galahan (beras 10 catu, telur 10 butir), uang 10 ribu, kelapa 10 butir) ditambah lagi sajen panjang Uang, cacar samah, bubur pirata serta babi seharga 555 yan?; dipotong dibentuk seperti hidup (wingangun urip), daging potongan mentah, urutan angina, pala kiwa, darah 1 piring besar, benang berwarna, bokbokan garuda, benang hitam, benang merah, benang putih, dan lagi gula sakerek, kelapa setengah berisi gula kelapa sebutir, lagi kelapa setengah berisi gabah, botol 2, pelengkap wak-wakan, telor 9, nasi pulupuhan 1, nasi pujungan 1, nasi sokan 1, tuak 1 klukuh, arak 1 beruk, air 1 brerong, sujang rentet 5 buah, dan uang tatingkeb 225, uang bebangkit 225, uang pulagembal 225, uang sedahan kawah 225, uang garuda 225, uang kaki patuk 225, uang pagu 225, uang pangalang-alang 225, uang sega dewa 2, berisi kwangen dan kwangen tersebut berisi permata mulia, masing-masing berisi uang 225, benang 1 gulung, pras penyarikan 5, masing-masing berisi uang 25. Sesantun membuat sajen panca sanak, nasi dadong patuk 1 kukusan, lauknya ayam gemerot, angkeb 1, caratan trisula, pane padma, payuk cakra. Sesantun nanding panyapa, bila yang utama 1700, yang sedang-sedang 700, yang kecil 500.

Demikian sekilas paparan mengenai kandungan isi dari naskah Yama Purwwa Tattwa, yang sesungguhnya sebagai pedoman bagi umat Hindu dalam melaksanakan upacara kematian atau upacara pengabenan. Inti dari naskah Yama Purwwa Tattwa sebagaimana telah dijelaskan di atas, yaitu sebagai pedoman untuk melakukan upacara kematian, agar roh yang meninggal dapat menuju ke alam Siva, tidak sebaliknya ke alam naraka. Secara teologis, bahwa naskah ini mengajarkan kepada umat Hindu untuk menghormati dan berbhakti kepada Deva Siva beserta dengan manifestasi Beliau. Secara ritual, bahwa naskah ini telah memaparkan beberapa peralatan, sadhana, upakara, yang digunakan untuk kelangsungan upacara kematian atau upacara ngaben bagi umat Hindu. Tentu sumber lainnya masih juga ada keterkaitan dengan naskah Yama Purwwa Tattwa yang sama-sama memaparkan tentang upacara kematian.

Source: I Ketut Subagiasta l Warta Hindu Dharma NO. 478 Nopember 2006