Wanita dalam Ithiasa Masa Kini

Pernyataan Ahok (Gubernur DKI Jakarta) tentang sikap-nya terhadap wanita sempat menarik perhatian banyak nitizen. Pada suatu kesempatan ia berkata, "Saya termasuk laki-laki pengecut, jika menyangkut urusan wanita, saya tidak berani mencari istri lebih dari satu. Bagi saya istri itu bagaikan kitab suci, jika dibuang bisa kualat".

Ahok ada benarnya karena kata "wanita" digunakan untuk merujuk jenis kelamin. Secara antologis kata "wanita" berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu Swanitta. Dari suku kata "Swa" berarti sendiri dan "Nitta" berarti suci. Jadi, wanita berarti ia yang mensucikan dirinya sendiri.

Kemudian, muncul pemahaman bahwa wanita sebagai pengamal Dharma. Pemahaman ini berasal dari kalimat "Sukla Swanitta". Fakta bahwa dari wanitalah lahir keturunan suatu keluarga. Hampir seluruh kualitas keturunan itu tentukan oleh kualitas wanita yang melahirkannya. Ini sebabnya, memilih wanita menjadi istri sungguh bukan upaya mudah.

Walaupun begitu, proses perkawinan yang sarat dengan doa dan harapan tidak dapat dipandang remeh. Sejak seorang pemuda memiliki niat melangsungkan perkawinan, melakukan peminangan, hingga upacara masakapan selesai seluruhnya berlangsung melalui upacara agama. Artinya, menghadirkan wanita dalam suatu keluarga baru membutuhkan prosesi dengan beragam upacara yadnya. Dengan begitu, wanita dan perkawinan merupakan momen yang sarat dengan nilai sakral.

Dalam perkawinan itulah wanita memperoleh status baru sebagai istri. Kepadanya bergantung harapan keberlangsungan generasi suatu keluarga. Seperti melahirkan putra dan putri yang suputra demi masa depan keluarga yang baru dibangun. Dalam rangka membangun masa depan keluarga inilah memberikan kewajiban spesial kepada wanita, sebagaimana dirumuskan dalam Panca Dharma Wanita.

Begitulah asal mula ceritanya sehingga wanita disebut pengemban dharma. Kenyataannya wanita tidak dapat menghindari kewajibannya kepada suaminya. Kewajiban kepada anak pun tidak dapat diingkarinya. Sekurang-kurangnya dari dua jenis kewajiban inilah melahirkan kewajiban sosial dan budaya yang lebih luas. Malah dalam kitab suci disebut: tanggung jawab wanita dalam dunia sosialnya, seperti kewajiban bumi terhadap makhluk.

Tetapi hati-hati dengan kemarahannya bisa merusak bahkan tiada ampun lantas ia bisa dipadankan dengan Dewi Durga, begitu juga Bumi. Bumi menjadi berkah atas kesuburan dan mineral yang dikandungnya bagi umat manusia dan makhluk lainnya. Akan tetapi jika diekploitasi dengan membabi buta akan menjadi celaka. Lihatlah bagaimana tsunami menghantam tiada ampun, letusan gunung dengan abu panasnya melahap insan tanpa kasih, gempa bumi meluluh lantakan tanpa peduli itu tempat yang disucikan umat manusia. Begitulah mungkin ibu menyeimbangkan dirinya. Dari melaksanakan swadharmanya itu, akhirnya memunculkan "guna" atau bisa dipadankan dengan pengertian menjadi wanita yang berkualitas.

Wanita yang berkualitas memang layak dikagumi. Bayangkan, setiap bulan ia mendapat kotor kain (menstruasi), mengandung, menyusui anaknya, mengurus suaminya bagi yang sudah menikah. Dan yang paling hebat ia makhluk religius. Setiap saat ia memikirkan Tuhannya, dari baru selesai masak menghaturkan banten saiban, setiap kliwon menghaturkan canang dan segehan, purnama-tilem dan segudang ritual dalam penanggalan Bali, wanitalah yang paling dominan mengerjakannya. Dari hal tersebut, anggapan Wanita Bali miskin religiusitas terbantahkan.

Dari religiusitas dan kesetiaan Wanita itulah, lantas ia layak dipadankan seperti kisah Dewi Sinta, dalam cerita Ramayana tentang ketabahan, kesetiaan Dewi Sinta mengenai keteguhan hatinya sebagai seorang putri raja untuk mengikuti suami yang harus pergi ke hutan belantara, ia perlu mendapatkan pujian. Sebagai seorang istri dia tidak mau kembali ke kerajaan ayahan-danya, bahkan ia dengan setia mendampingi Sri Rama menyelesaikan pengasingannya di hutan selama 14 tahun.

Dewi Sinta juga tidak mempengaruhi Sri Rama untuk membangkang kehendak ayahandanya yang 'kalah janji' dengan Dewi Kekayi, ibu tiri suaminya yang meminta putera ibu tirinya yang akan menjadi Raja di Ayodya. Artinya diperlukan keteguhan hati bagi seorang wanita/ isteri yang sadar akan menghadapi banyak kesulitan dalam kehidupan rumah tangga kedepan.

Pada saat ini sudah jarang wanita yang mau hidup menderita, sedang-kan pilihan untuk hidup lebih nyaman terbuka. Kesediaan hidup menderita bersama suami, merupakan modal dasar wanita pilihan yang luar biasa bagi mereka yang sadar akan spiritualitasnya.

Dari kesadaran akan spiritualitasnya, layaklah ia mendapat predikat wanita utama. Sebab dari sisi pengertian, wanita lain katanya adalah perempuan. Berdasarkan asal kata "perempuan", mengandung arti orang yang dihormati. Kata dasarnya adalah empu (perempuan), Empu adalah gelar kehormatan, seorang ahli, seorang yang mampu memimpin. Untuk menyebut seorang perempuan sering digunakan kata wanita. Perempuan berarti mereka yang utama, dimuliakan atau dihormati.

Dari asal kata perempuan tersebut adalah keliru jika mengatakan wanita sebagai manusia yang hina atau tidak dihargai. Lebih jauh didalam kitab suci Menawa Dharma Sastra disebutkan, "Dimana perempuan dihormati disana para dewa merasa senang, akan tetapi dimana perempuan tidak dihormati disana tidak ada upacara suci yang berpahala". "Dimana perempuan hidup sedih, keluarga itu akan cepat mengalami kehancuran, sebaliknya, dimana perempuan tidak hidup men-derita, keluarga itu akan hidup bahagia".

Dalam zaman kekinian, kebahagiaan wanita sering dikaitkan dengan kebendaan (materi). Jika merujuk garis keturunan ibu disebut Matrilenial, sering juga disebut sebagai bersifat kebendaan. Maka dari itu, wanita sering mendapatkan kehormatan untuk mengelola keuangan karena sifat ahlinya (empu) mengelola uang, karena wanita secara umum lebih teliti dari laki-laki. Dengan kedekatan secara materi tersebut, tidak sedikit wanita akhirnya tergelincir, seperti yang diceritakan dalam epos Ramayana. Dewi Sinta kepincut Kijang Kencana, buatan Rahwana. Inilah awal pemicu-pemicu keresahan di luar dirinya, yaitu dunia benda. Dan tak pelak akhirnya ia kehilangan kewibawaannya.

Oleh: Putu Wawan
Source: Wartam, Edisi - 14 April 2016