Dewi Subadra tersenyum riang, karena dalam dalam waktu singkat Arjuna dan Subadra bisa bercengkeraman dalam kasih sayang. Mereka berada dalam kerinduan yang dalam. Subadra berucap lirih, "Aku berharap sikapmu seperti lautan, segemuruh apa pun tetap jadi muara hatiku. Aku tatap matamu, ingin rasanya aku berteduh di situ. Hatiku merasa damai saat bersamamu, kau sangat aku sayangi tiada yang bisa menghentikan aku untuk mendapatkamu. Oh kakak Arjuna."
Arjuna terbayang ketika mereka berdua berada di bibir pantai, yang indah itu. Puisi-puisi cinta terus bergemuruh dalam damai. Arjuna teringat pertemuannya dengan Subadra di pinggir pantai. Gelombang laut itu, seakan menyapa, selamat datang cinta, dawai hati ini kembali berderu, berjingkrak dalam bulir-bulir pasir putih, buih gelombang mencium tepi pantai.
"Fenomena alam indah itu, tak pernah sepi ku maknai. Engkau lahir dalam bayang sepi, dalam keheningan semburat sinar mentari di celah awan, bayangmu terasa hadir untuk mengikuti sketsa nasib. Kita hanya bertemu, seumur kilatan petir di bawah pohon padan yang rindang itu, menjadi saksi bisu, sebuah janji engkau ucapkan, bahwa jangan minta beban yang ringan, namun mintalah bahu yang kokoh. Itulah permintaanku pada Tuhan. Kata-kata itu ibarat mantra dan selalu ku kekenang. Kenangan itu membuat aku selalu menatap laut, menatap dengan penuh takzim, bahwa engkau selalu ada di sana. Lamunan sang dewi keindahan terdengar merdu kembali dalam ruang yang selalu menggambarkan keindahan. Desah rindu cinta itu beriring dalam renungan yang singkat ini."
***
Subadra bertanya kepada Arjuna, "Kakak, aku sangat mencintaimu, apakah ini namanya bhkati terhadap suamiku tersayang?"
Arjuna menjawab, "Dalam jalan bhakti telah diajarkan bahwa cinta kasih adalah dasar segala-galanya; cinta kasih adalah satu-satunya sifat terpenting yang harus dikembangkan. Seluruh pikiranmu harus diresapi oleh sifat ini, sehingga kebenaran akan menetap dengan sendirinya dalam hatimu. Seluruh tingkah lakumu hendaknya dijiwai cinta kasih. Kemudian dharma dengan sendirinya akan terlihat dalam segala usaha atau perbuatanmu. Seluruh perasaanmu hendaknya diresapi cinta kasih. Maka engkau akan mendapatkan kedamaian yang mendalam. Dan seluruh pengertianmu hendaknya diliputi oleh cinta kasih, sehingga engkau tidak dapat membenci atau menyakiti apa pun. Karena itu, cinta kasih adalah dasar kedamaian batin. Cinta kasih adalah asal muasal kebenaran. Cinta kasih adalah dasar dharma dan ahimsa. Kasih adalah Tuhan, Tuhan adalah Kasih," papar Arjuna.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan suamiku tersayang, untuk mendapatkan cintamu yang agung itu?" Arjuna berkata, "Jika engkau berada di jalan bakti, maka nama dan ketenaran duniawi, harta benda dan keluarga, semuanya bersifat sementara. Semua itu bisa hilang bahkan pada waktu engkau masih hidup; bencana dan kemalangan dapat mengakibatkan musnahnya nama dan kemasyhuran, harta dan keluarga. Apalagi, tidak ada satu pun dari semua ini yang akan mempunyai hubungan dengan engkau setelah engkau meninggal. Tetapi sifat yang baik, tingkah laku yang baik, pengetahuan atma, dan semua sifat-sifat yang mulia akan membantu engkau menuju Tuhan dan manunggal dengan Dia."
"Apakah kemasyuran di jalan bakti juga penting suamiku," potong Subadra. Arjuna menambahkan, "Kemasyhuran yang sejati tidak tergantung pada keindahan badan atau daya tarikmu. Bukan pula karena kekayaan atau kemampuan fisikmu, me-lainkan sifat-sifatmu yang baik. Dalam kitab suci engkau akan menemukan cerita tentang Wishwamitra yang mengandalkan kemampuan fisiknya lalu ingin membalas dendam kepada resi Washishta. Washishta hanya mengandalkan kemampuan Tuhan; ia seorang Brahma Rishi, jiwa agung yang selalu berada dalam kesadaran Tuhan, dan ia menggunakan Brahma tattwa sebagai pehndung gaib, perlindungan yang timbul karena kesadarannya selalu berada dalam prinsip Tuhan."
Lantas, apakah arti dari semua kehidupan ini, suamiku?" Arjuna menjawab, "Jika engkau yang ingin mencapai kebena¬ran Brahman , yaitu tujuan tertinggi, harus memulai perjalanan mereka dari tahap daasoham, seperti yang telah drjelaskan se-belum ini. Pada tahap pertama ini seorang bhakta menganggap dirinya sebagai abdi atau utusan Tuhan. Ini adalah tahap dwaita atau dualisme. Lambat laun kata daa dibuang sama sekali dan tinggal soham 'aku adalah Dia'. Dalam proses itu ia masuk ke tahap wishishta-adwaita, tahap utama yang kedua dalam jalan spiritual."
"Artinya apa?" tanya Subadra. Arjuna menambahkan, "Bila kita terus melakukan soham, setelah beberapa lama suku kedua pada kata daasoham yaitu so, juga akan hilang dan hanya aham yang akan tinggal. Aham artinya 'aku', diri yang murni tanpa perubahan atau keterbatasan. Proses dari daasoham ke aham hampir menyerupai proses penyembuhan pada luka; kulit keras yang menutupi luka akhirnya lepas dengan sendirinya pada saat luka telah sembuh. Bila daa dan so yang menutupi "aku" yang murni telah lepas, maka engkau akan sampai pada tahap tera-khir, adwaita atau nondualisme. Maka engkau menyatu dengan kebenaran yang esa." Subadra tersenyum, dia mendapatkan kebahagiaan abadi, kesadaran akan keagungan Tuhan. Om Gam Ganapataye Namaha.
Oleh: Luh Made Sutarmi
Source: Majalah Raditya Edisi 179, Tahun 2012