Ada tradisi yang patut mendapat perenungan dalam masyarakat, yaitu bahwa tidak boleh mengganggu orang yang tengah tidur, demikian juga ketika orang sedang makan. Bahwa tidur menjadi pembahasan yang mendalam di dalam tradisi Hindu, termasuk tahapan-tahapannya, sampai pada tidur tanpa mimpi. Demikian juga makan sebagai penikmatan atas bhoga menjadi sangat dihargai tinggi, karena di sana terjadi penikmatan rasa. Tradisi tersebut juga menyatakan bahwa tidur maupun makan sesungguhnya adalah proses yoga, oleh karena itu situasi itu harus dijaga dan jangan diganggu. Menikmati bhoga dalam proses yoga adalah makna dari tradisi tersebut.
Bhoga bagi kumbang adalah sari bunga. Maka berdengunganlah kumbang menikmati sari bunga tersebut dengan penuh gairah. Ia kesana-kemari berterbangan bagaikan tak perah lelah untuk menikmati bhoga tersebut. Para pengawi atau pengarang mengandaikan dirinya dengan kumbang, yang anglanglang kalangwan, atau angdon lango, atau menikmati keindahan. Berbagai ungkapan dilontarkan untuk menangkap dan merekam sekaligus menikmati keindahan alam. Pisau tulis para kawi memang sangat runcing, untuk menggoreskan untaian kata di dalam kelopak bunga pandan yang harum.
Beliau melaksanakan proses yoga sastra, mensthanakan Dewi Pujaannya di dalam padma hatinya, bunga tunjung vang suci yang tumbuh di dalam dirinya, disebut sebagai padma hredaya Dalam proses yoga itu Sang Dewi dirayu dengan berbagai ungkapan mesra, dengan harapan Sang Dewi tetap berada dalam dirinya.
Dalam proses yoga tersebut diharapkan terjadi persatuan atau kemanunggalan, dan inilah yang di dalam istilah yoga disebut sebagai adwaitam anandam, atau ketika yang dua telah jadi satu, itulah kebahagiaan yang tertinggi. Di tempat lain misalnya sang pengarang memakai kalimat, ketika yang dua telah jadi satu, bagaimana rasanya di sana?.
Terlebih lagi ketika sasih Kapat tiba, ketika bunga-bunga bermekaran, ketika bau harum terhambur di udara, ketika suara guruh terdengar di kejauhan, ketika hujan gerimis tersiramkan dari langit bagaikan percikan tirtha amreta, ketika suara ombak membentur tebing, ketika suara ayam hutan bersautan, ketika itu sang pengarang menikmati bhoga keindahan. Dan para pengarang ingin "mati" dalam menikmati keindahan tersebut, bagaikan kumbang mati menikmati sari bunga.
Demikianlah proses yoga sastra seorang kawi, yang digambarkan dengan penuh rahasia, sehingga disebut sebagai menikmati rasa rahasia. Di sinilah sang kawi mendapatkan apa yang disebut sebagai rahasia jnana atau sudha jnana. Sang kawi meyakini bahwa Dia adalah Rasa, Rasa wai Sah. Dia disini yang dimaksud adalah Sang Pencipta, disebut juga Paramartha, Dia yang menjadi tujuan terakhir.
Yoga dan bhoga adalah sebuah kesatuan, yang senantiasa menjadi pemikiran dan perenungan para kawi atau para wiku. Inilah peradaban spiritual yang patut mendapat perenungan kita semua, peradaban manusia yang berkualitas tinggi.
Oleh: Ki Nirdon
Source: Warta Hindu Dharma NO. 538 Oktober 2011