Yoga Kemenangan Dharma

Dunia modern sekarang mulai kehilangan horizon spiritual. Manusia modern melihat segala sesuatu hanya dari sudut pinggiran eksistensi, tidak lagi pada "pusat spiritualitas dirinya" sehingga menyebabkan lupa pada dirinya (teralienasi) "terbelenggu derita". Dalam kondisi yang demikian, idealnya sastra suci agama dan moment hari raya galungan hadir sebagai penerang kegelapan untuk memulihkan hubungan yang terputus antara diri dan spiritualitasnya. Momentum galungan bukan sekedar seremonial ritus, oleh karenanya ajaran yoga dalam Yogasutra Patanjali merupakan anugerah luar biasa dari Rsi Patanjali kepada setiap orang untuk melaksanakan hidup kerohanian. Ajaran dalam Yogasutra Patanjali memberikan jalan kepada mereka yang ingin menginsyafi kenyataan mengenai roh sebagai asas yang bebas, tubuh, indriya dan pikiran.

Teks Sundarigama sebagai rujukan agung melaksanakan hari raya Galungan menguraikan sistematika galungan dari tumpek wariga sampai dengan pegatwakan bukan hanya siklus ritual namun di selipkan mutiara suci ajaran yoga dan yang menjadi sentrum adalah pikiran. Sebaran mutiara suci yoga kemenangan dharma itu : 1. Anuwuhaken jnanasandhi pada tumpek wariga; 2 Apasang yoga pada Sugihan Jawa; 3. Apeningan pada sugihan Bali; 4. Ajnana nirmala pada hari penyajaan; 5. Among yoga samadhi pada hari panyekeban; 6. Angregepakna sarwa japa mantra pragolan pada hari penampahan; 7. Wenang yoga ginelar, adyana samadhi pada hari Raya Galungan; 8. Ajnana nirmala suksma, pada hari penampahan kuningan; 9. Ngening-nge-ningakna citta nirmala, tan pegat ing samadhi pada hari Raya Kuningan.

Jadi tiada lain dan tiada bukan yoga kemenangan dharma itu adalah jaya akan indriya (jayen-driya) dan sebagai rajanya adalah pikiran (rajendriya). Ada apa dengan pikiran? mengapa pula penulis teks sundarigama menyelipkan ajaran yoga dama siklus Galungan. Sarasamuscaya menyuratkan yang lebih cepat daripada gerak angin adalah pikiran, yang lebih banyak daripada rumput adalah angan-angan pikiran. Maharsi Patanjali yang dalam sebuah karya Yogasutra Patanjali, mendifinisikan yoga sebagai yogas cittavrtti nirodhah artinya pengendalian gerak-gerak pikiran.

Tentunya yoga kemenangan dharma yang menjadi kata kunci adalah pengendalian gerak pikiran. Bhagawadgita VI. 10 mendifinisikan yoga sebagai pemusatan pikiran.

Yogi yunjita satatam
Atmanam rahasi sthitah
Ekaki yatacittatma
Nirasir aparigrahah

Artinya:

Seorang yogin harus tetap memusatkan pikirannya (kepada atman yang maha besar),
tinggal dalam kesunyian dan tersendiri,
menguasai dirinya sendiri,
bebas dari angan-angan dan keinginan untuk memilikinya.

Sarasamuscaya sloka 80 juga menyebutkan yoga sebagai pengendalian gerak pikiran.

Apan ikang manah ngaranya,
ya ika witning indriya,
maprawertti ta ya ring subhakarma,
matangnyan ikang manah juga prihen kahrtanya sakareng

Artinya:

Sebab yang disebut pikiran itu adalah sumbernya nafsu,
ialah menggerakkan perbuatan baik ataupun buruk,
oleh karena itu pikiranlah yang segera patut diusahakn pengekangannya atau pengendaliannnya

Yoga kemenangan dharma bukan menjadikan diri terasing dengan kemanusiannya, melainkan menjadikan diri semakin manusiawi. Asketisme yang selama ini diidentikkan dengan spiritualitas memang muncul dalam bentuk pengekangan diri, bahkan menjauhi segala bentuk keduniawian. Pandangan ini seolah-olah memosisikan spiritualitas pada ranah yang benar-benar individual dan asosial. Padahal tujuan utama dari spiritualitas adalah menjadikan spirit suci sehingga membangun kesatuan transendental dengan spirit-spirit yang lain. Kesatuan spirit inilah yang menjadi prinsip universal spiritualitas Hindu dalam untaian mutiara tattwam asi "engkau adalah itu". Artinya, dalam kemurnian spirit terdapat kesatuan jiwa antara individu yang satu dengan yang lainnya. Hal ini menegaskan bahwa puncak spiritualitas Hindu, justru berupaya membangun spirit kemanusiaan dengan pinsip jiwa semua mahluk adalah tunggal.

Spiritualisme perkotaan yang sekarang ini kian marak berkembang di masyarakat, seperti paguyuban-paguyuban yoga, meditasi dan sebagainya, menjadi bentuk baru yang ingin menghadirkan spiritualitas dalam kehidupan modern. Tujuannya tidak lagi ditekankan pada pengasingan diri seperti tindakan asketis lainnya, tetapi lebih pada upaya peluhuran budi dan humanisme. Di sinilah, pengembangan wiweka jnana menjadi trend spiritualitas baru yang lebih diarahkan pada pembentukan pola hidup kerohanian dalam hubungan antarmanusia.

Sura (1991) menyatakan bahwa yang amat penting dalam pelaksanaan yoga adalah sebagai jalan memperoleh wiwekajnana yaitu pengetahuan  untuk membeda-bedakan antara yang salah dan yang benar sebagai kondisi kelepasan. Ini berarti manusia secara hakikat dalam mengambil tindakan senantiasa dilakukan secara sadar atas dua pilihan (salah dan benar) agar bisa lepas dan sampai pada tujuan. Dengan demikian yoga bukan hanya berkaitan dengan pikiran tapi tindakan menegakkan dharma. Dharma yaitu segala sesuatu yang mendukung manusia untuk mendapat kerahayuan. Untuk itulah yogajuga marga menegakkan dharma dijadikan dasar menuju keharmonisan, Sarasamuscaya 18 :

Mwang kottaman ikang dharma,
Prasiddha sangkning hitawasana,
Wikang mulahaken ya,
Mwang pinakasraya Sang Pandita, sangksepanya,
Dharma mantasakenikang tri loka

Artinya:

Keutamaan dharma itu sesungguhnya merupakan sumber datangnya kebahagian bagi yang melaksankannya
lagi pula dharma itu merupakan perlindungan orang berilmu,
tegasnya hanya dharma yang dapat melebur dosa tri loka atau jagad tiga itu

Dua hakekat selalu berdampingan antara dharma dan adharma, kemenangan dharma bukan musnahnya adharma tetapi lebih ke internalisi diri bahwa hidup selalu di posisikan pada pilihan yang dua antara dharma-adharma, satya-astya, subha-asubhakarma dengan konsekuensi akibat atas pilihan tersebut. Dalam hal ini yoga dharma yaitu berjalan di jalan dharma dengan menegakkan dharma dalam segala aktivitas, akan dilindungi, dituntun cahaya suci Hyang Widhi. Yoga secara praktis menuntun pikiran ini agar terarah dijalan dharma.

Yada yada hi dharmasya
glanir bhavati bharata
abhyutthanam adharmasya
taddtmanam srjamy aham

paritranaya sadhunam
vinasaya ca duskrtam
dharma samsthapanarthaya
sambavami yuge yuge
(Bhagavadgita, 4.7-8)

Artinya:
Manakala kebenaran merosot
dan kejahatan merajalela, pada
saat itulah Aku akan turun menjelma ke dunia,
wahai keturunan Bharata.

Untuk menyelamatkan orang-orang saleh
dan membinasakan orang jahat dan
menegakkan kembali kebenaran,
Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman

Dengan demikian yoga bukan hanya masalah duduk bersimpuh, bersila memejamkan mata, tapi action dalam tindakan berlandaskan dharma, tentunya dengan mengenali diri, menerima diri dan untuk mengarahkan diri berpayungkan wiweka jnana, pikiran boleh jnanin tapi laku tetap karma dan bhakti, sehingga tidak menjadi manusia yang terasing, hidup damai dan tenang.

Hidup dalam batin yang suci karena yang suci hanya dapat didekati, dijumpai dan menampakkan diri pada yang suci dalam Kekawin Arjuna Wiwaha "Sasi wimba haneng ghata mesi banyu, ndan asing suci nirmala mesi wulan, iwa mangkana rakwa kiteng kadadin, ring angembeki yoga kiteng sakala" (Bagai bayangan bulan di tempayan berair, hanya yang suci murni akan menampakkan bulan, seperti itulah kau, pada yang tekun mengamalkan yoga Engkau nyata).

Source: I Nyoman Dayuh l Wartam Edisi 12 - Pebruari 2016