Yoga untuk Pendidikan Spiritual

Tujuan hidup menurut agama Hindu sebagaimana diu-raikan dalam Brahmana Purana adalah: tubuh adalah suatu alat untuk mencapai Dharma, Artha, Kama, dan Moksa atau disebut Catur Purusa Artha yang berarti empat tujuan hidup umat manusia tersebut di atas yang terjalin satu dengan yang lain yang mewujudkan suatu yang utuh. Untuk mencapai tujuan hidup tersebut di atas selanjutnya antara lain diajarkan jalan yang sepatutnya ditempuh, yaitu Catur Marga yaitu Bakti Marga, Jnana Marga, Karma Marga dan Raja marga. Jalan ini yang sepatutnya ditempuh umat secara seimbang, harmonis dan terpadu untuk mencapai tujuan hidup tersebut di atas. Untuk bisa mencapai catur marga tersebut sepatutnya melalui pendidikan, latihan (sadhana).

Berbicara soal pendidikan dan latihan untuk mencapai tujuan hidup atau Catur Purusa Artha diperlukan Guru (Sad Guru). Dalam agama Hindu dikenal dengan Catur Guru yang tugasnya sangat berat dan terhormat, membimbing, membina, menyelamatkan umat, supaya umat manusia mendapatkan kesejahteraan lahir dan batin. Adapun Catur Guru dimaksud adalah guru rupaka, guru pengajian, guru wesesa, dan guru swadyaya. Adanya guru tersebut bukan berarti pendidikan hanya di sekolah saja, tetapi ditempuh juga dalam keluarga dan di masyarakat. Apabila hal-hal tersebut sudah berjalan di atas relnya yang tepat dan benar, umat akan mencapai kesejahteraan lahir dan batin.

Namun kenyataannya saat ini telah timbul gejala-gejala kelakuan oknum anggota masyarakat yang menyimpang dari ajaran agama, bukan hanya menggejala pada generasi muda tetapi juga pada angkatan sebelumnya pun sudah demikian pula adanya dan sehingga terjadi krisis dalam kehidupan masyarakat. Adanya hal-hal tersebut di atas bukan berarti tidak diajarkanya pendidikan budi pekerti, ajaran agama maupun ceramah tentang kebenaran lainnya tetapi kiranya di samping belum pasnya sistem pendidikan yang dilaksanakan juga karena lunturnya disiplin dalam berbagai kehidupan di masyarakat. Gejala kehidupan tersebut di atas secara psikologis akan semakin mempengaruhi kearah kehidupan yang semakin negatif.

Dalam menilai hal-hal tersebut di atas penulis memberanikan diri urun pendapat, walaupun penulis tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang memadai untuk membicarakan pendidikan dan agama serta masih baru apara bhakti dalam agama Hindu, di samping tidak pemah mengikuti pendidikan agama secara formal, sebagai berikut:

Bahwa agama Hindu di Bali dalam melaksanakan agama Hindu masih belum pas. Hal mana sesuai pula dengan tulisan Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi dalam harian Bali Post tanggal 7-11-2001 dengan judul Tatwa dan Ritual Khusus Hindu di Bali, dimana menguraikan rakyat menghayati Hyang Widhi hanya melalui dua jalur, yaitu Karma Marga dan Bhakti Marga. Hal ini sedikit banyak membawa pengaruh kurang pas dalam budi pekerti, susila dan moral terlebih dalam spiritual.

Kegiatan dalam agama lebih banyak ditujukan pada ritual dibanding ajaran Catur Marga lainnya, seperti Jnana Marga, Raja Marga. Sedangkan menyangkut budi pekerti, susila, moral dan spiritual kuncinya ada pada Raja Marga dan yang penting Catur Marga keempatnya sepatutnya dilaksanakan secara seimbang, harmonis dan terpadu sebagaimana diuraikan di atas.

Sedangkan pendidikan yang dilaksanakan termasuk bidang agama jauh lebih banyak bertumpu pada pendidikan formal dan verbal. Pendidikan diarahkan untuk mencerdaskan kehidupan umat/bangsa, untuk mendapatkan nilai tinggi, supaya kelak berhasil menjadikan anak berkedudukan tinggi, orang berpangkat, sukses di bidang ekonomi.

Tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah untuk menjadikan seseorang menjadi seorang anak yang benar. Untuk bisa menjadi seseorang yang benar harus menempuh jalan yang benar, yaitu jalan menuju Tuhan. Tuhan itulah kebenaran sejati. Dalam Sutra Dewata dijelaskan kebenaran adalah setiap langkah menuju jalan Tuhan. Jalan Tuhan bukan hanya percaya dan bhakti kepada Tuhan, mengabdi juga jalan Tuhan, membangun suatu kehidupan yang dinamis menuju keharmonisan individu dan sosial juga jalan Tuhan dan untuk mencapai hal tersebut seseorang di samping mendapatkan pendidikan, untuk mencerdaskan kehidupan harus pula mendapatkan pendidikan latihan (Sadhana) Raja Marga Yoga.

Menurut Raja Marga Yoga, pikiran harus dilatih supaya lurus, bersih dan jernih. Panca Budiindra dan Panca Karmendria akan dapat bekerja, dengan bijaksana dan bekerja untuk hidup bila indera-indera tersebut di atas ada di bawah kendali pikiran yang kuat, tangguh dan jernih, sehingga sifat-sifat Sadripu, Trimala, Sapta Timira dan lain-lainnya bisa ditaklukkan setidak-tidaknya dikendalikan. Hal ini bisa terwujud bila pikiran tersebut selalu dilatih secara kontinyu dalam Sadhana.

Sri Ananda Murti, seorang tokoh spiritual menguraikan bahwa pendidikan tersebut pada hakekatnya adalah latihan (sadhana) pisik, mental dan spiritual yang tepat dan benar semenjak sebelum TK. Latihan spiritual tidak mengajarkan penolakan terhadap dunia, tetapi hanya mengajarkan pendayagunaan secara tepat potensi baik yang kasar maupun yang halus. Sebagaimana diperlukan kepatuhan terhadap suatu sistem yang cocok dalam bidang sosial dan ekonomi, sama halnya dengan perilaku yang sama diperlukan untuk maju secara ilmiah disiplin yang tepat dibidang pisik dan mental. Jalan spiritual ini memberikan dorongan kemajuan komplit kepada manusia agar tercapai martabat tertinggi yang mungkin dapat dicapainya.

Menurut Patanjali Sutra, meditasi, Yoga semadhi baru bisa mantap apabila telah memahami atau menghayati serta melatih sadhana secara tekun, kontinyu, disiplin penuh konsentrasi tahapan Astangga Yoga (Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratahara, Dharana, Dyana dan Samadhi). Dalam setiap hari minimal satu jam sepatutnya mengikuti pendidikan dan latihan yoga meditasi secara kontinyu dan tekun. Dalam meningkatkan pendidikan yang bernuansa Hindu, UNHI: untuk meningkatkan SDM sehat jasmani dan rohani mewajibkan seluruh mahasiswa UNHI untuk mengikuti Yoga untuk segala jurusan sebagai kegiatan ekstra kurikuler yang merupakan salah satu syarat untuk bisa mengikuti ujian skripsi. Karenanya dalam pendidikan, sadhana yoga meditasi tersebut sangat diperlukan untuk mensukseskan pendidikan yang bernuansa Hindu di bawah bimbingan guru yang sudah menghayati Astangga Yoga tersebut di atas, syukur kalau sudah waskita.

Pemerintah daerah menyadari waktu di sekolah secara formal sangat sedikit disediakan pendidikan agama, sehingga oleh karenanya Pemda memberikan bantuan dan untuk pendirian asrama-asrama di desa-desa pakraman di Bali untuk menambah kegiatan di bidang pendidikan latihan agama. Bantuan tersebut akan sangat tepat bila pula dilengkapi dengan bantuan guru-guru yoga (para acarya), bila perlu pemerintah bisa minta bantuan pada pemerintah India untuk menyediakan guru-guru yoga tersebut. Penulis yakin bila para master spiritual bisa didatangkan dari India mereka tidak akan banyak tuntutan seperti mobil mewah, hotel berbintang dan lain-lain, sebab mereka umumnya hidup sederhana dan sering puasa lagi vegetarian. Yoga semadhi, meditasi, vegetarian, puasa adalah upaya latihan pengendalian diri untuk sehat jasmani dan rohani. Pendidikan dan latihan yoga meditasi tidak bisa dipisahkan dengan vegetarian dan puasa.

Vegetarian dan puasa adalah pendidikan dan latihan pengendalian diri yang sangat penting dalam kaitannya dengan yoga dan meditasi. Vegetarian akan memberi pengaruh yang penting dalam kehidupan masyarakat untuk hidup sederhana sesuai saran pemerintah di samping akan meningkatkan eksport binatang keluar Bali. Yoga meditasi sangat mendukung wisata asing ke desa-desa pekraman yang bukan hanya menjadi wisatawan bukan hanya sebagai penonton saja atas keindahan, kesenian, budaya Bali, nantinya mereka akan ikut aktif mengikuti pendidikan, latihan yoga meditasi sebagai mana wisatawan ke India, Muangtai dan sebagainya. Sampai di Eropa, USA, Mesiko, Australia sebagaimana asal wisatawan berkembang pula pasraman-pasraman untuk pendidikan dan latihan yoga. Di samping setiap pura yang ada di desa di Bali sebaiknya dibangun pula tempat-tempat untuk yoga semadi yang juga disesuaikan penempatannya di pura berupa balai peyogan.

Oleh: I Made Sudana
Source: Majalah Raditya, Edisi 229