Kaum Muda Berperan Sentral Merawat Situasi Makin Harmonis

Bogor - Pertemuan kelompok pemuda dapat menembus sekat-sekat agama jika memiliki tujuan yang sama. Untuk merawat situasi yang semakin harmonis, perwujudan sikap toleransi antarumat beragama menjadi peran sentral kaum muda. Wacana tersebut menjadi pokok bahasan Temu Kebangsaan Orang Muda yang diikuti sejumlah organisasi lintas agama, Jumat hingga Minggu (8-10/4), di Bogor, Jawa Barat.

Sekitar 80 peserta mendapatkan pendampingan dari Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan Konferensi Wali Gereja Antonius Haryanto dan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid. Saat berbicara kepada kaum muda di tempat itu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menuturkan, keragaman agama hadir untuk saling melengkapi satu sama lain.

"Pahamilah, manusia punya keterbatasan dalam memahami kebenaran mutlak. Kehadiran negara dan agama yang saling melengkapi menjadi dasar untuk berbangsa dan bernegara," ujar Lukman.

Adapun dalam konteks sejarah, Direktur The Wahid Institute Yenny Zannuba Wahid menilai, keberagaman harus disyukuri sebagai kekayaan budaya. Kini, ia mencontohkan, masih terdapat peninggalan masa lalu yang berasal dari proses toleransi.

"Misalnya soto kerbau di Kudus, Jawa Tengah, muncul karena Sunan Kudus melarang sapi disantap karena menghormati pemeluk agama Hindu," katanya.

Menghargai keragaman
Selain mendapat materi dalam kelas, kaum muda tersebut juga ikut berdiskusi dalam kelompok untuk merumuskan permasalahan bangsa ini. Kelompok disusun berdasarkan topik, antara lain lingkungan, korupsi, media, dan keragaman. Mereka menaruh minat terhadap sebuah isu tanpa melihat mayoritas anggota di kelompok masing-masing.

Hieronimus Kopong Bali (20), peserta kegiatan tersebut, menyatakan bersyukur karena menjalani pertemanan dengan siswa beragama lain sejak menempuh pendidikan di sekolah Katolik dari SD hingga SMA.

Pemikiran toleran pun membawa salah seorang pengurus Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta unit selatan ini mudah bergaul saat menjadi minoritas di tempat lain.

Nur Kotimah (23), Sekretaris Dewan Pengurus Daerah DIY Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah), menuturkan, saat berkuliah di sebuah universitas negeri, dirinya menjadi satu-satunya mahasiswa beragama Hindu di angkatannya. Namun, dia merasakan toleransi terbangun berkat kesepahaman untuk berbuat baik terhadap sesama.

Source: print.kompas.com