
(Foto: phdi.or.id, Tokoh lintas agama dalam kuliah umum yang diselenggarakan HWPL (Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light) bekerjasama dengan STAH DN-Jakarta dan Parisada Hindu Dharma Indonesia)
Jakarta - Dalam rangka mengadakan Kuliah Umum, Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Nusantara Jakarta (DNJ), mengundang HWPL (Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light) dengan tujuan membentuk Mahasiswa yang cinta terhadap perdamaian dunia. Acara yang digelar di Kampus STAH DNJ pada Sabtu, 27 Februari 2016 ini mengundang lima narasumber yang mewakili lima agama yang ada di Nusantara.
Menanggapi hal itu Ketua STAH DN-Jakarta, Prof. Dr. Ir. I Made Kartika D., Dipl.-Ing memberikan sambutan hangat dengan diadakannya acara tersebut. Dia mengatakan, interaksi perdamaian dunia memang harus disosialisasikan dalam masyarakat. Oleh karena itu, HWPL diadakan untuk mengenalkan kepada Mahasiswa bahwa di dunia ini terdiri dari berbagai macam agama (plurarisme) dimana semuanya hidup diharuskan saling berdampingan secara damai.
“Disini bukan tempat membahas dan menonjolkan agama masing-masing, tetapi membentuk perdamaian yang timbul dalam hati kita masing-masing”, kata Prof. Kartika di Gedung Griya Sabha, Kampus STAH DNJ, Sabtu (27/02/2015).
Tujuan acara ini, lanjut Prof. Kartika agar Mahasiswa STAH DN-Jakarta dapat memahami bahwa mereka adalah pemimpin bangsa Indonesia yang tidak hanya mempetak-petakkan agama, namun memiliki pandangan yang universal untuk menciptakan perdamaian dunia. Oleh karena itu, kehadiran kelima narasumber yang berasal dari perwakilan lima agama ini bukan sebagai tokoh agama secara mutlak, melainkan diskusi secara sainstik agar tidak terjadi kesalah pahaman antar agama demi terciptanya perdamaian dunia.
Prof. Kartika berharap, semua Mahasiswa STAH DN-Jakarta aktif dalam HWPL ini, dan bisa mengunjungi negara-negara lain sebagai perwakilan agama Hindu dalam mewujudkan perdamaian dunia. Selain itu, ia juga berharap Mahasiswa STAH DNJ tidak buta hukum sehingga mampu melaksanakan berbagai kegiatan sesuai dengan aturan yang ada.
Adapun beberapa narasumber yang di undang dalam acara HWPL tersebut antara lain;
o Ketut Suratha Arsana, S.Psi sebagai perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI)
o Prof. Kautsar Azhari Noer sebagai perwakilan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
o Mulyadi Liang sebagai perwakilan dari agama Kong Hu Cu
o Cornelis Wowor sebagai perwakilan agama Budha dari Universitas Tarumanegara
o Ela Surya Sunarsih sebagai perwakilan dari agama Kristen
o Paulus Lim sebagai perwakilan dari HWPL
Dalam diskusi, tema yang diangkat adalah “Sejarah dan Bangsa yang disebut dalam Kitab Suci”, dan menyiapkan 3 pertanyaan untuk narasumber. Pertanyaan pertama yang diajukan yakni “Apakah agama anda mengajarkan sejarah yang berkaitan dengan bangsa?”. Keempat narasumber perwakilan agama menjawab iya, sedangkan hanya perwakilan dari Budha saja yang menjawab tidak ada.
Pertanyaan berikutnya yang diajukan yakni “Manfaat apa yang bisa didapat setelah mempelajari sejarah tersebut?”. Semua narasumber menjelaskan dengan menggunakan referensi dari kitab suci masing-masing yang disertai dengan contoh untuk mempermudah mahasiswa dalam memahami ajaran masing-masing agama.
Pertanyaan terakhir yang diajukan yakni “Apakah ada data bukti sejarah agama tersebut, atau hanya dogeng saja?”. Semua narasumber menjawab ada, serta memberikan penjelasan bukti-bukti secara singkat bahwa ajaran agama yang mereka anut bukanlah sebuah dongeng belaka, melainkan ada data real yang mendukung kebenaran ajaran tersebut.
Acara tersebut berlangsung lancar yang diakhiri dengan penyerahan piagam kepada kelima narasumber dan moderator. Setelah itu, dilanjutkan dengan foto bersama sebagai dokumentasi acara.
Source: Wayan Sinte Wagiman, Mahasiswa STAH DN-Jakarta, Jurusun Pendidikan