
(Foto: zahirulalwan.wordpress.com, Tawur Agung di Candi Prambanan)
Sleman — Perayaan Nyepi hendaknya tidak sekadar momen bagi umat Hindu untuk menyucikan diri sendiri dari berbagai tingkah laku tidak baik atau adharma. Namun, perayaan itu juga diharapkan menjadi sarana memperkokoh persatuan dan kemajuan bangsa di tengah keberagaman.
Hidup rukun, damai, serta penuh toleransi hendaknya senantiasa dilakukan untuk memperkokoh persatuan. Hal itu disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menghadiri upacara Tawur Agung Kesanga di pelataran Candi Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (8/3).
Upacara untuk menyambut hari raya Nyepi yang tahun ini mengambil tema ”Keberagaman Perekat Persatuan” itu diikuti ribuan umat Hindu dari Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Tema itu sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia yang majemuk dan kaya akan suku, agama, dan budaya. ”Saya percaya umat Hindu dapat berkontribusi aktif dalam menciptakan keharmonisan, memelihara kerukunan, dan membangun persaudaraan dalam kehidupan masyarakat yang beragam,” kata Lukman.
Menurut Gubernur Jawa Tengah GanjarPranowo, keberagaman merupakan salah satu bentuk keindonesiaan yang telah teruji dalam perjalanan sejarah bangsa dan harus terus dirawat. ”Kita dipersatukan dalam keberagaman sebagai satu bangsa karena kebinekaan itu sebenarnya adalah rahmat,” ujarnya.
Perayaan Nyepi kali ini, ujar Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sang Nyoman Suwisma, mengingatkan kembali pada sesanti Bhinneka Tunggal Ika, yang mengajarkan kepada bangsa Indonesia bahwa seluruh perbedaan yang ada tidak membuat kita terpecah-belah.
”Tahun-tahun terakhir ini kita dihadapkan pada berbagai masalah terkait keberagaman karena belum adanya penerimaan secara tulus pada keberagaman tersebut,” ujarnya.
Kuatnya toleransi
Di Pulau Bali, pelaksanaan Nyepi, Rabu (9/3), berjalan lancar dan diwarnai sikap toleran masyarakat. Bahkan, tahun ini istimewa karena bersamaan dengan peristiwa gerhana matahari total.
Warga di beberapa banjar atau desa, yang lokasinya berdekatan dengan masjid, mengizinkan warga Muslim menggelar shalat gerhana. Seperti di Desa Wanasari, Denpasar, sejumlah umat Muslim melaksanakan shalat sekitar pukul 07.30 Wita.
”Kami shalat berjamaah di masjid, tetapi tanpa pengeras suara dan berjalan kaki ke masjid. Kami menghargai umat Hindu yang tengah melaksanakan Nyepi,” kata Badrus Syamsi, tokoh agama di Wanasari.
Ketua PHDI Bali IGN Sudiana bersyukur atas Nyepi damai dan dukungan masyarakat dari agama lain, termasuk komunitas Muslim di Bali. ”PHDI menyampaikan terima kasih atas toleransi dari semua umat beragama di Bali, yang menjaga persaudaraan dan kerukunan yang ada untuk waktu yang lama,” kata Sudiana.
Nyepi adalah hari suci Hindu Bali yang menandai awal Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender lunar Saka. Umat Hindu Bali melakukan amati geni (berpantang dari api), amati karya (tidak melakukan pekerjaan), amati lelungan (tidak melakukan perjalanan), dan lelanguan amati (berpantang menikmati hiburan).
Pulau Bali berubah menjadi hening. Semua gerbang masuk, seperti Bandara Internasional Ngurah Rai dan tiga pelabuhan feri utama, ditutup. Setidaknya 387 penerbangan domestik dan internasional telah dibatalkan.
Arak-arakan ogoh-ogoh, obor, serta kentungan pada malam menjelang Nyepi berjalan lancar tanpa keributan. Selanjutnya, suasana Bali sepi dan aman.
Sumber: kompas.com