Petapa Hindu Wariskan Koleksi Merapi Merbabu

Jakarta - Sebanyak 400 naskah lontar yang ditemukan tahun 1822 di Desa Kedakan, Kedu, Jateng, diduga kuat karya petapa Hindu yang tinggal di sekitar lereng Merapi Merbabu. Dalam kumpulan naskah itu, terdapat satu parwa kakawin Mahabharata yang tak ditemukan dalam naskah-naskah Mahabharata lainnya.

Willem van der Molen, ahli naskah Jawa kuno, mengatakan, satu-satunya (buku) parwa yang, hanya ada di koleksi Merapi Merbabu adalah sabhaparwa "Di India ada 18 parwa, tetapi yang sampai ke Jawa hanya 8 parwa Ternyata, ada satu lagi, yaitu sabhaparwa, yang berada dalam koleksi Merapi Merbabu sehingga total ada 9 parwa," kata Willem dalam Seminar Naskah Nusantara: Epos Kepahlawanan Sepanjang Zaman di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (16/9).

Isi koleksi Merapi Merbabu berupa saduran dari beberapa kisah, seperti Arjuna Wiwaha, Serat Mintaraga, Bharatayuda, dan Ramayana. Yang menarik, isi saduran itu tidak sama persis dengan aslinya Menurut Willem, orang Jawa memiliki kreativitas untuk menyadur. Umur naskah itu relatif tua karena dibuat sebelum tahun 1800 dan diperkirakan ditulis selama beratus-ratus tahun.

Kisah berbeda
Contoh cerita unik dalam naskah Ramayana, khususnya kisah Shinta yang menulis surat untuk Rama, suaminya, melalui Hanoman ketika ia ditahan Rahwana. Dalam Ramayana versi India, cerita seperti itu tidak ada karena perempuan di sana pada zaman itu tidak pernah belajar menulis atau tidak diizinkan belajar. Di Jawa, muncul cerita menarik seorang perempuan ada yang bisa menulis.

Selain kakawin, koleksi Merapi Merbabu berupa kidung, mantra, dan primbon. Naskah ditulis para petapa di lereng sepi Gunung Merapi dan Merbabu. Bentuk tulisan koleksi itu juga berbeda dengan tulisan Jawa umumnya. Penulis menggunakan tulisan buda yaitu versi tulisan Jawa tersendiri yang biasa digunakan di daerah pegunungan.

Ahli sastra Melayu klasik dan Jawa Universitas Kebangsaan Malaysia Noriah Mohamed mengatakan, dalam Mahabharata ada seruan kepada pembaca agar jangan yakin atau terpengaruh cerita-cerita Jawa yang dianggap sesat. Secara umum, kisah Mahabharata di Melayu tidak sepopuler kisah Ramayana.

Sumber: Koran Kompas, 17 September 2015