Pura Mandara Giri Semeru Agung

Lumajang - Pura Mandara Giri Semeru Agung, kahyangan jagat yang berdiri di Desa Senduro Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Meski pura di lambung sebelah timur Gunung Semeru tersebut kini sudah berdiri megah, namun belum banyak yang tahu kerasnya perjuangan sejumlah tokoh Hindu di Bali dalam mengupayakan pembangunan pura itu dari 1963. Hingga akhirnya bisa berdiri dan baru diresmikan pada 1992.

Tjokorda Artha Ardana Sukawati, tokoh Bali yang turut serta memperjuangkan berdirinya pura tersebut menuturkan, bahwa pembangunan pura di Gunung Semeru berawal dari penyelenggaraan nuur tirta dari Bali langsung ke Patirtan Watu Kelosot yang berada di kaki Gunung Semeru. Mendak tirta itu dilaksanakan saat upacara agung Karya Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih pada Maret 1963. Kegiatan nuur tirta ke Watu Klosot itu kembali dilakukan pada 1979 berkaitan dengan digelarnya upacara Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih.

Sejak itu dimulailah tradisi rutin nuur tirta ke Watu Klosot dari pura kahyangan jagat lain di Bali saat penyelenggaraan upacara berskala besar. Kawasan Gunung Semeru dengan mata air suci Watu Klosot pun makin dikenal, khususnya saat dilakukan upacara besar para pandita atau sulinggih selalu ngaskara ke Gunung Semeru, memohon ke hadapan Hyang Siwa Pasupati yang diyakini berstana di puncak Gunung Semeru.

Sudah Muncul

"Ide pembangunan pura ini sebenarnya sudah muncul dari para panglingsir di Bali sejak 1963 itu. Jadi awal pemikirannya adalah kita sudah memiliki banyak pura di Bali. Nah saat bersembahyang, kita selalu matur piuning kepada Hyang Siwa Pasupati yang malinggih di Gunung Semeru. Tapi saat para panglingsir kita ke sana, justru belum ada pura ataupun palinggih Ida Batara di Gunung Semeru," jelasnya.

Atas kondisi itu, para tokoh di Bali pada era 1970-an mulai bergerak untuk memperjuangkan pendirian pura. Mereka di antaranya Tjokorda Gede Agung Sukawati, sejumlah panglingsir dari Puri Pamecutan dan puluhan tokoh lainnya. Perjuangan pembangunan pura ini juga didasarkan pada rujukan susastra Hindu seperti Negarakertagama maupun rujukan historis yang menyebut Gunung Semeru sebagai kawasan suci pada masa Jawa Kuno.

"Awalnya izin lokasi yang diajukan sempat ditolak pemerintah daerah di sana. Akhirnya almarhum Jero Mangku Sarja mengarahkan pendirian satu Padma ke lahan miliknya di Gunung Semeru seluas delapan are, dan lokasi itu menjadi tempat berdirinya pura sekarang ini," katanya.

Pria yang akrab disapa Cok Ace ini menuturkan, dalam proses pendiriannya pembangunan pura pun lama tersendat-sendat, salah satu penyebabnya adalah terkendala masalah perizinan dan kesulitan mengirim material bahan baku pura. "Karena terkendala perizinan, truk yang mengangkut bahan baku harus lama didiamkan dulu sebelum bisa dikirim," katanya.

Hingga 1989 pembangunan pura bisa terus berlanjut. Sampai saat ini bangunan fisik Pura Mandara Giri Semeru Agung sudah berdiri di atas lahan seluas dua hektar, lengkap dengan candi bentar di jaba sisi, dan candi kurung di jaba tengah. Di sisi timur, dibangun pasraman sulinggih, bale simpen peralatan dan dua bale pagibungan selain dapur. Sedangkan di sisi selatan berdiri wantilan megah dan luas.

Dipimpin delapan pendeta, pada 8 Maret 1992 digelarlah untuk pertama kalinya upacara Pamelaspas Alit dan Mapulang Dasar Sarwa Sekar. Dilanjutkan pada Juni-Juli 1992 dengan upacara besar berupa Pamungkah Agung, Ngenteg Linggih dan Pujawali.

Selanjutnya lewat Surat Keputusan Nomor: 07/Kep/V/PHDI/1992, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menetapkan nama Pura Mandara Giri Semeru Agung dengan status Pura Kahyangan Jagat, tempat memuja Hyang Widhi Wasa, sebagai panyungsung adalah seluruh umat Hindu di Indonesia. "Saat peresmian pada 1992 itu dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri," tambah mantan Bupati Gianyar yang kini masih menjabat sebagai Ketua PHRI Bali ini.

Sumber: Koran Bali Post, Jumat Paing, 4 Desember 2015