Pura Ratu Sakti Pacering Jagat Trunyan


(Pura Ratu Sakti Pacering Jagat Trunyan)

Denpasar - PURA Ratu Sakti Pancering Jagat merupakan salah satu pura tua di Bali. Pura yang berlokasi di Desa Trunyan Kintamani sangat dipercaya masyarakat sebagai pusatnya gumi Bali atau yang disebut juga dengan istilah kancing gumi.

Di Pura Ratu Sakti Pancering Jagat terdapat sejumlah palinggih. Salah satunya yakni meru tumpang pitu (tujuh) yang di dalamnya tersimpan sebuah arca yang sangat disucikan, yakni arca Datonta. Ada hal unik yang dipercaya warga terkait keberadaan arca tersebut. Konon, arca yang terbentuk dari batu megalitik tersebut terus tumbuh membesar secara alami hingga tingginya kini mencapai kurang lebih empat meter.

Tokoh masyarakat setempat, Ketut Jaksa, mengatakan, tidak sembarang orang boleh melihat secara langsung keberadaan arca tersebut. Ini dikarenakan aura yang dipancarkan arca itu sangat keras. "Tidak ada yang berani memandang langsung arca tersebut," ujarnya saat ditemui Bali Post beberapa waktu lalu.

Sementara itu, mengenai kisah di balik arca Datonta tersebut, dijelaskan Jaksa bahwa Datonta atau Ida Ratu Sakti Pancering Jagat awalnya merupakan seorang pengembara yang berasal dari Dalem Solo. Kedatangan beliau ke Trunyan, pada mulanya adalah untuk mencari tahu sumber wangi yang tercium sampai ke Solo. Setibanya di Trunyan, beliau menemukan sumber bau harum tersebut yang ternyata muncul dari tubuh seorang dewi. Paras sang dewi yang cantik membuat beliau terpikat dan ingin menikahinya. Oleh sang dewi, permintaan tersebut diamininya dengan syarat sang pengembara itu bersedia menjadi raja di Trunyan. Permintaan tersebut pun akhirnya disanggupi sang pengembara.

Semasa kepemimpinannya, beliau menjadi raja yang sangat bijaksana. Dalam perjalanannya, beliau yang ingin pergi tanpa meninggalkan jejak kemudian moksa. Hingga kemudian menjadi batu yang akhirnya muncul dari dalam tanah. Sementara sang dewi saat ini dasungsung sebagai Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar. Sang dewi bersemayam di palinggih sapta petala. Beliau mengemban tugas untuk memelihara keberadaan Danau Batur.

Jaksa   mengatakan, masyarakat Trunyan juga percaya bahwa desanya menjadi satu-satunya desa di dunia yang antigempa. Hal itu dikarenakan kepercayaan mereka terhadap kekuatan Ida Ratu Sakti Pancering Jagat sebagai kancing gumi. Dia menuturkan, pada saat terjadi gempa hebat sekitar tahun 1976 silam, hampir seluruh wilayah di Bali ikut merasakannya. Bahkan wilayah Seririt, Singa-raja sampai luluh lantak. Akan tetapi gempa tersebut tidak terlalu dirasakan masyarakat di Trunyan.

Saat dirasakan terjadi gempa, semua peduluan akan membawa lu (alat untuk menumbuk) yang terbuat dari kayu dadap ke Pura Pancering Jagat. Lu tersebut akan ditumbukkan ke tanah di sekitar tempat berdirinya arca Datonta. Itu dilakukan untuk memadatkan tanah di sekitar beliau berdiri. "Lu itu masih ada sampai sekarang. Itu kami temukan pada tahun 2007 lalu saat kami melakukan pembersihan di sekitar palinggih arca Datonta, setelah sempat tertimpa pohon," paparnya. Ajaibnya lagi, ketika musibah tumbangnya pohon beringin itu, arca Datonta tetap berdiri kokoh di tempatnya. Pada¬hal, sejumlah palinggih yang berada di sekitarnya hancur tertimpa batang pohon.

Hingga sejauh ini tak satu pun warga setempat yang mengetahui secara pasti kapan Pura Ratu Sakti Pancering Jagat didirikan. Diperkirakan, pura ini sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Upacara wah Pura Ratu Sakti Pancering Jagat biasanya diselenggarakan setiap rahinan Purnamaning Kapat.

Source: Minggu Pon, 3 April 2016