
Klungkung - Setelah 70 tahun vakum, tarian Wayang Wong atau Parwa di Desa Pakraman Sangkanbuana, Klungkung, kembali dibangkitkan. Tarian wayang wong ini ditampilkan tidak hanya untuk membangkitkan kreativitas seni dan budaya, namun juga untuk upacara Pemarisudha Bumi. Apalagi pementasan wayang wong di Desa Sangkabuana tidak terlepas dari niskala, karena salah satu pemerannya kesurupan.
Salah seorang prajuru adat,Desa' Sangkanbuana, Wayan Sumarta, ditemui Rabu (5/8) kemarin, mengakui tarian wayang wong baru dibangkitkan lagi setelah cukup lama vakum. Namun, ia tidak mengetahui persis sejak kapan tarian wayang wong ini ada. Yang jelas tarian ini mulai ditampilkan lagi karena ada keinginan dari warga. Muncul kembali dari kreativitas sekaa teruna di desa yang sangat getol dengan seni tari dan lainnya. "Setahu orangtua saya, wayang wong ini sudah ada ketika bapak saya masih kecil. Jadi kira-kira 70 tahun tidak ditampilkan lagi," ujarnya.
Selama ini topeng wayang wong disimpan di dalam rak kaca di Pura Pucak Desa Adat Sangkanbuana. Jumlah topeng wayang yang . dimiliki lebih dari 20 buah dan kondisinya masih bagus. Topengnya hanya perlu diperjelas lagi warnanya karena sudah lama tidak dipakai. Sebaliknya, kondisi pakaian yang dipakai telah rusak, sehingga perlu pengadaan baru. "Kami akan coba minta bantuan lewat proposal agar bisa dibantu," katanya.
Pementasan wayang wong di Desa Sangkabuana juga tidak dilakukan sem-barangan. Hanya dilakukan hari-hari tertentu seperti Galungan dan Kuningan serta Purnama Kapat. Wayang wong di Sangkanbuana mulai ditampilan saat Kuningan lalu di Pura Puseh desa adat setempat melibatkan puluhan warga. Pementasan wayang wong ini dilakukan juga untuk pemarisudha bumi, yakni melebur mala dan leteh yang dipakai mesesangi oleh warga setempat.
Sumarta mengatakan cukup kesulitan untuk membangkitkan tarian wayang wong, karena sampai sekarang masih sulit mencari peran ketokohan yang pas. Apalagi dalam pementasan di Pura Puseh lalu mengambil tema "Kumba-karnaKarebut", sedangkan lokasi pementasan sempit. "Saat pementasan terakhir kami modifikasi dengan dalangnya, sebab untuk mencari peran ketokohan cukup sulit. Apalagi me.ng-gunakan bahasa jawi kuno," ungkapnya.
Sumber: Koran Bali Post, Kamis Paing, 6 Agustus 2015