
(Ilustrasi)
Buleleng - Penampilan 20 sekaa gong kebyar massal dalam pembukaan Buleleng Festifal (Bulfest) III, Selasa (4/8) sore kemarin, mampu menyedot perhatian ribuan warga Buleleng. Penampilan sepuluh sekaa ngoncang juga tak kalah menariknya. Ribuan penonton termasuk wisatawan mancanegara berdesakan menyaksikan penampilan tradisi ngoncang yang dibawakan oleh ibu-ibu. Ketungan atau luwu yang mereka gunakan pun rata-rata sudah berusia ratusan tahun, warisan para leluhur.
Tercatat 20 sekaa gang kebyar ini mampu tampil maksimal. Penabuh dan penari ini pun tampak fokus. Tak pelak, suasana sepanjang Jalan Ngurah Rai mulai dari depan Tugu Singa Ambara Raja menjadi gemuruh oleh suara tabuh gong kebyar yang terlahir di Buleleng. Bahkan, sekaa gong kebyar ini sebagian besar menggunakah gong pacek yang memang menjadi nama besar dan ciri khas gong kebyar dari Den Bukit.
Made Trip, pembina Sekaa Gong Kebyar Tripitaka Desa Munduk Kecamatan Banjar, mengaku penampilan sekaa gong kebyar dengan massal seperti ini memang baru pertama kali diikutinya. Meski agak kesulitan karena serbuan penonton, namun momen pentas dengan massal ini setidaknya menjadi kesempatan yang sangat baik dalam membangkitkan dan mengenalkan kesenian gong kebyar asli dari Buleleng. Yang paling penting dalam momen ini, Trip mengaku menjadi kesempatan mengenalkan kepada masyarakat luas terkait keberadaan gong yang asli Buleleng adalah yang gong pacek. Gong model ini merupakan warisan dari leluhur dan sudah dikenal oleh masyarakat luas. Hanya, karena pergeseran zaman, seolah-olah gong pacek Buleleng ini mulai ditinggalkan dan beralih menggunakan gong gantung.
Senada diungkapkan Pembina Sanggar Dwi Mekar Sin-garaja I Gede Pande Olid. Dia mengatakan, gong pacek ini patut dijaga kelestariannya jangan sampai hilang karena sekaa banyak menggunakan gong gantung yang notabene berasal dari luar Buleleng. Untuk itu, dirinya belakangan terus memberikan ruang kepada anak-anak untuk belajar menabuh meriggu-nakan gong pacek. Apalagi, dengan penampilan dalam arena Bulfest ini pihaknya mendapat ruang yang cukup1 untuk mengenalkan tabuh gong kebyar kepada masyarakat luas,, sehingga ancaman kesenian punah karena pengaruh gong dari luar Buleleng akan bisa dicegah sejak dini.
Sumber: Koran Bali Post, Rabu Umanis, 5 Agustus 2015