Jadikan Perayaan Tumpek Wariga Sebagai Momen Peduli Terhadap Alam

Denpasar - Umat Hindu di Bali setiap enam bulan sekali, atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan melaksanakan ritual tumpek wariga. Ritual yang ditujukan untuk tumbuh-tumbuhan ini merupakan bagian dari rasa kasih sayang kepada alam.

"Nini-nini, buin selae dina Galungan. Mebuah apang nged, nged, nged (Nenek nenek, 25 hari lagi Galungan. Berbuahlah agar lebat, lebat, lebat)," begitu sesontengan yang diucapkan Ni Kadek Suriani (37) saat perayaan tumpek wariga di kebun coklatnya, Banjar Suwat Kelod, Desa Suwat, Gianyar, Sabtu 20 Juni 2015.

Setelah "mantram" itu diucapkan, pohon-pohon yang dihaturkan sesajen berupa bubuh (bubur), taluh (telor), dan tipat (ketupat) ditepuk sebanyak tiga kali beriringan dengan kata "nged". Sarwa tanam tuwuh atau pepohonan yang berumur panjang, diharapkan bisa menghasilkan buah yang banyak untuk menyambut datangnya Hari Raya Galungan.

Tumpek wariga, juga disebut tumpek bubuh, tumpek uduh, tumpek pengatag, dirayakan umat Hindu setiap 210 hari sekali, atau 25 hari sebelum Hari Raya Galungan. Pelaksanaan ritual tumpek wariga juga dilakukan pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan, Tabanan. Ritual yang dipusatkan di bawah pohon Beringin yang disucikan berada di jaba Pura Ulun Danu Beratan.

Dari sesajen yang dihaturkan adalah peras, tulung sesayut tumpeng, bubuh gendar, tumpeng agung, penyeneng, tetebus, dan serba harum-haruman. "Untuk lauknya menggunakan babi guling," ujar Ketua  Manajemen DTW Ulun Danu Beratan, I Wayan Mustika.

Pengelola obyek wisata Kebun Raya Bedugul juga secara rutin menggelar ritual tumpek wariga. Mereka menghaturkan tipat kelanan, canang ajengan, dan bubuh kepada Ida Shang Hyang Widi Wasa. "Dengan itu kami harapkan terciptanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan tumbuhan," kata pengelola Kebun Raya Bedugul Nyoman Lugrayasa.

Menurut Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana, tumpek wariga adalah tahapan pertama dalam rangkaian menjelang Galungan. "Jadi umat Hindu berharap agar pohon-pohon yang ditanam berbuah banyak. Nanti buahnya itu akan digunakan saat perayaan Galungan semisal untuk banten atau untuk keperluan dapur," kata Sudiana. Manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Ida Bhatara Sangkara merupakan dewa yang dipuja saat perayaan tumpek wariga. Ida Bhatara Sangkara diyakini adalah dewa yang berstana dalam tumbuh-tumbuhan atau dengan kata lain adalah dewa penguasa tumbuh-tumbuhan.

"Umat menghaturkan bakti kepada Ida Bhatara Sangkara dalam manifestasi Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan," jelasnya.

Ada tiga sarana yang paling menonjol dalam ritual tumpek wariga, yaitu bubuh, taluh, dan tipat. Tentu tiga sarana tersebut memiliki makna. Kata Sudiana, bubuh adalah perlambang kesuburan, sementara taluh dan tipat menjadi simbol pohon yang berbuah banyak. "Sarana yang digunakan ditaruh di pohon. Tujuannya memohon kesuburan dan hasil yang melimpah," ucapnya. Sudiana juga memaparkan makna tumpek wariga ini lebih luas. Menurutnya, pepohonan dalam sekala besar bisa disebut rimba atau hutan merupakan penopang kehidupan manusia. Hutan menghasilkan udara bersih yang dihirup manusia. Hutan juga menyerap air di kala musim hujan. Di dalam hutan, satwa-satwa liar berlindung dari pemburu. Hutan juga disebut jantung bumi.

"Kalau dilihat dari sisi keseimbangan alam, tumbuhan atau pohon perlu kasih sayang. Kita yang menjaganya. Maka makna yang lebih luas adalah, manusia harus melestarikan hutan sebagai wujud harmonisasi dengan lingkungan," tutur Sudiana.

Ia berharap, perayaan tumpek wariga tidak hanya menjadi ritual semata. Spirit yang ada di dalamnya hendaknya direalisasikan. Ini menjadi penting mengingat begitu banyaknya pembabatan hutan yang membabi buta tanpa memperhitungkan berbagai dampak. "Nilai yang bisa dipetik adalah agar masyarakat peduli dengan alam. Sayangilah tumbuh-tumbuhan," tuturnya. Selain sebagai penanda 25 hari menjelang Galungan, simbol harmonisasi, Tumpek Wariga juga menjadi dewasa ayu atau hari yang baik untuk menanam pohon.

Sumber: tribunbali.com