Karya di Pura Penataran Agung Bangli Dipuput Tujuh Sulinggih

Bangli - Ribuan umat mengikuti prosesi pelaksanaan puncak karya di Pura Penataran Agung Bangli secara khusuk dan hikmat. Pelaksanaan puncak karya mamungkah, ngenteg linggih, labuh gentuh lan nubung pedagingan itu, dipuput tujuh sulinggih.

Manggala Karya  Anak Agung Gede Raka didampingi Kelian Adat Puri Agung Bangli Anak Agung Alit Ardenatha menjelaskan, pelaksanaan karya ini baru bisa dilakukan setelah 37 tahun karya serupa dilakukan tahun 1978 silam. “Untuk pelaksanaan karya kali ini, selain melibatkan pasemetonan Puri Agung Bangli, juga banyak melibatkan krama dari sejumlah wilayah di Bangli,” ungkapnya, Kamis (11/06) seperti dikutip dari fajarbali.com.  Seperti warga desa Nyalian, Peninjoan, Demulih, Sulahan, Penida, Palaktiying, Bebalang dan sejumlah warga desa lainnya di Bangli.

Disebutkan, pelaksanaan puncak karya telah diawali dengan berbagai rangkain ritual, mulai dari mepepada alit, labuh gentuh, nyepi karya, melasti, ngadegang bagia pulekerti dan mepepada agung.

Sebelumnya saat upacara pecaruan itu, kata dia, tidak hanya dilakukan untuk penyucian dan pembersihan areal pura saja, melainkan jauh lebih luas untuk penyucian dan pembersihan alam semesta beserta isinya.  Sebab, lanjut dia, tujuan karya untuk memohon keselamatan dan kemakmuran alam semesta beserta isinya.

Dalam pelaksanaan karya ini, setidaknya tiga kerbau dijadikan kurban suci. Setelah prosesi mepepada, kerbau-kerbau tersebut dituek dengan menggunakan senjata pusaka kerajaan Bangli. Dagingnya diolah untuk sarana sesajen dan kulitnya dipergunakan sebagai lantaran saat Ida Betara tedun. Saat puncak karya berlangsung, berbagai tarian sakral turut dipentaskan, mulai dari tari rejang, pendet, baris, topeng sidekarya hingga pementasan wayang kulit.

Serangkaian Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh dan Nubung Pedagingan di Pura Penataran Agung Bangli, berbagai ritual menarik dan sakral dilaksanakan. Salah satunya, saat pelaksanaan melasti yang dilaksanakan ke pantai Watuklotok, Klungkung. Pada saat itu, rangkaian melasti  disertai prosesi umat nunas tirta kamandalu. Menariknya, tirta kamandalu yang diyakini sebagai air suci kehidupan ini, ditunas dari tengah lautan.

Prosesi nunas tirta kamandalu ini, dilakukan sejumlah krama pasemetonan Puri Agung Bangli  setelah melaksanakan berbagai ritual termasuk pakelem berupa kambing hitam dan berbagai hewan kurban ke tengah laut.

Sumber: http://www.fajarbali.com