Keluarga dan YKP Haturkan Sesangi dan Plaspas Patung I Gusti Ngurah Rai

 


(Foto: Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Kustanto Widiatmoko menandatangani prasasti Monumen Pahlawan Nasional Brigjen Anumertha I Gusti Ngurah Rai di Monumen Carangsari, Petang)

Badung - Dalam rangka menyambut satu abad (100 tahun) kelahiran pahlawan nasional I Gusti Ngurah Eai yang jatuh pada Senin (30/1) mendatang, pihak keluarga bersama Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) melaksanakan piodalan Buda Cemeng Kelawu di Puri Ngurah Rai, Rabu (4/1) kemarin.

Piodalan ini digelar sekaligus menghaturkan sesangi/kaul yang belum sempat dihaturkan oleh I Gusti Ngurah Rai pada saat perang revolusi fisik di Bali dan pamlaspasan patung pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai yang juga pendiri dan pernah menjadi Panglima pertama Kodam IX/Udayana.

Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, Wali Kota Denpasar I.B. Rai Dharmawijaya Mantra, Pangdam IX/Udayana Mayor Jenderal TNI Kustanto Widiatmoko, Danrem 163/ Wirasatya Kol (Inf) I Nyoman Cantiasa, S.E., Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, anggota DPR-RI, masyarakat dan keluarga pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai.

Pangdam IX/Udayana Mayor Jenderal TNI Kustanto Widiatmoko mengatakan, Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai dalam perjuangannya melawan penjajah sangat heroik. Bahkan, tidak pernah mundur sejengkal pun untuk mengurungkan niat mundur bersama pasukan yang dipimpinnya (Pasukan Ciung Wanara-red) dan selalu menggelorakan semangat Merdeka.

"Bagi kami, beliau (I Gusti Ngurah Rai) tidak semata pahlawan nasional, tetapi beliau juga seorang resimen pertama yang memimpin Kepulauan Sunda Kecil. Beliau juga cikal bakal berdirinya Kodam IX/Udayana," ujar Pangdam IX/Udayana Mayor Jenderal TNI Kustanto Widiatmoko, seusai peresmian patung pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai di Monumen Carangsari, Kecamatan Petang, Badung, kemarin.

Pangdam berharap, dengan semangat luhur yang diwariskan dan diresmikannya patung I Gusti Ngurah Rai ini bisa dijadikan momentum untuk kebangkitan nilai-nilai luhur kepahlawanan I Gusti Ngurah Rai kepada generasi muda. Salah satunya adalah dikembangkannya pariwisata sejarah dan edukasi kepahlawanan di Monumen Carangsari. Sehingga, generasi muda bisa mempelajari dan membangkitkan kembali semangat dan nilai-nilai luhur I Gusti Ngurah Rai dalam meng-hadapi perkembangan zaman seperti saat ini.

Keinginan tersebut disambut baik oleh Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta. Bahkan, pihaknya dengan anggaran yang ada akan segera membangun pariwisata sejarah dan edukasi bagi anak-anak generasi muda Badung dan Bali. Sebab, kata dia, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.

"Ke depan, kami bertekad akan menguatkan Monumen I Gusti Ngurah Rai menjadi salah satu wisata sejarah untuk edukasi anak-anak Badung dan Bali secara umum. Sebab, perjuangan beliau sangat besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan Bali. Kami akan tetap meneruskan gagasan dan cita-cita serta nilai-nilai luhur beliau untuk berjuang," tegas Giri Prasta.

Sementara itu, I Gusti Ngurah Gede Yudana (anak pertama I Gusti Ngurah Rai) didampingi I Gusti Ngurah Alit Yudha (anak ketiga) mengatakan, Buda Cemeng Kelawu ini terbilang sangat istimewa. Sebab, selain memperingati 100 tahun kelahiran I Gusti Ngurah Rai (kalender Bali) juga untuk membayar sesangi yang belum sempat dibayar terdahulu, sekaligus peresmian Patung I Gusti Ngurah Rai. Sebagai putra pejuang, ia berharap kepada generasi muda untuk bisa meneladani nilai-nilai luhur perjuangan I Gusti Ngurah Rai dalam mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah.

"Nilai-nilai luhur inilah yang harus dijaga dengan suatu perbuatan nyata dalam mengabdi kepada bangsa dan negara oleh para generasi muda dan pemimpin," tegas I Gusti Ngurah Gede Yudana.

Source: Koran Bali Post, Kamis Kliwon, 5 Januari 2017