
(Foto: pojoksulsel, Ketua PHDI Makassar, I Nyoman Suparta ILO Promote Project Sulsel Rasyidi Bakry dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel, Warida Syafei, serta Forum Pemerhati Masalah Perempuan (FPMP) Sulsel, Rizky Awalita)
Makassar – Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Makassar, I Nyoman Suparta menyampaikan bahwa majikan sebaiknya mendaftarkan Pekerja Rumah Tangga (PRT) mereka dalam kepesertaan BPJS kesehatan. PRT adalah orang yang juga turut berjasa menunjang karir majikan di luar rumah, jadi jangan sampai ketika sakit malah tidak dipedulikan oleh majikan.
Menurutnya dengan mengikutkan PRT dalam kepesertaan BPJS, maka tentu akan meringankan beban majikan sendiri, karena kalau sakit beban biaya akan jadi lebih ringan, karena ditanggung asuransi.
Hal ini disampaikan Suparta saat menerima perwakilan International Labour Organisation (ILO) Promote Project Sulsel Rasyidi Bakry dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulsel, Warida Syafei, serta Forum Pemerhati Masalah Perempuan (FPMP) Sulsel, Rizky Awalita.
Kegaitan audience atau anjangsana ini adalah salah satu upaya ILO dan mitra kerjanya di Makassar untuk terus mempromosikan kerja layak dan bermartabat untuk PRT dan penghapusan PRT Anak. Berlangsung selama lebih kurang 1 jam, kegiatan mengambil tempat di ruang kerja Suparta di Gedung BPR Hasamitra Makassar.
Warida Syafei, dari LPA menyampaikan bahwa “sebagai mitra ILO yang fokus pada upaya penghapusan PRT Anak bekerjasama dengan JARAK (Jaringan Advokasi Penanggulangan Pekerja Anak) Jakarta, pelibatan tokoh agama menjadi sangat penting karena disadari masyarakat Indonesia memiliki keterikatan kuat dengan nilai keagamaan baik Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu, dll.
Tokoh-tokoh agama telah berproses dalam menyebarkan nilai kebaikan dan mengajak ummat ke jalan kebaikan. Sosok panutan bagi ummat, sehingga perlu diperluas perannya untuk menjadi bagian dari pemberi solusi (problem solving) terhadap permasalahan sosial, salah satunya adalah Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
Karakteristik PRT/PRTA diidentifikasi sebagai pekerjaan di sektor domestik yang terisolisasi dan rentan terjadi kekerasan, sehingga membutuhkan kesadaran yang tinggi bagi pengguna yang notabene pemeluk agama, agar mereka memperoleh perlakuan yang baik.
Dengan ketokohan dan kewibawaannya, tokoh agama dapat menyadarkan tentang pentingnya memberikan kerja layak bagi PRT dan Penanggulangan PRTA kepada masyarakat, khususnya pada jamaah yang memiliki PRT/PRTA di rumahnya.
Di akhir kegiatan, Warida Syafei mengundang perwakilan dari PHDI untuk hadir dalam kegiatan Lokakarya Penguatan Peran Tokoh Agama dalam Mempromosikan Kerja Layak Bagi Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan penanggulangan Pekerja Rumah Tangga Anak (PRTA) makassar, yang akan dilaksanakan pada awal bulan Mei 2016.
Atas undangan tersebut, Suparta menyatakan kesediaan untuk mengutus empat orang perwakilan PDHI. Selain itu, Suparta juga menawarkan kepada ILO dan mitra untuk suatu waktu dapat hadir dalam kegiatan keagamaan PDHI, guna mensosialisasikan isu “Kerja Layak untuk PRT dan Penghapusan PRT Anak”.
Source: http://sulsel.pojoksatu.id