
Buleleng - Museum Rekor Indonesia (MURI) hampir setahun yang lalu tepatnya Jumat 10 April 2015 telah meresmikan Lingga Siwa Mahadewa tertinggi di dunia (setinggi 6 meter) dan ditetapkan sebagai salah satu situs warisan dunia. Lingga Siwa Mahadewa tersebut berada pada areal Purohita Pura di Desa Unggahan, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng Bali.
Tugu yang menjulang tinggi merupakan lambang laki-laki, elemn maskulin yang bersifat aktif dan positif serta melambangkan pagi hari. Di bagian lain di Purohita Pura terdapat pelataran Goa Hiranya Garbha (rahim emas) sebagai Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin serta melambangkan malam hari. Lingga dan Yoni melambangkan kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi dari masa prasejarah.
Selain itu sepasang alu dan lesung sebagai alat penumbuk padi yang dimiliki hampir setiap petani Indonesia, ditafsirkan sebagai Lingga dan Yoni. Jadi marilah memahami kembali bahwa kita tercipta dari Lingga dan Yoni, atas kesatuan dan kesatua yang akan menimbulkan kesejahteraan, kemakmuran dan keabadian yang universal. Ibaratnya para petani selalu bersatu, gigih, bekerja keras dan hasil padi itu dinikmati oleh banyak orang.
Keberadaan Lingga Siwa Mahadewa di Purohita Pura sebagai tempat pemujaan dan dapat memberikan pengertian, pemahaman dan kesan yang lebih mendalam mengenai Lingga kepada seluruh umat Hindu di dunia. Sehingga dapat mempertebal keyakinan dalam beragama dan berjuang untuk turut serta menjaga dan melestarikan warisan budaya para leluhur.
Tujuan Wisata Spiritual
Sejarah Purohita Pura tak lepas dari konsep puri para pura purana purohita, di mana lokasi Purohita ini merupakan salah satu tempat beryoga para pendeta antara lain Mpu Gni Jaya, Mpu Semeru, Mpu Kuturan, Mpu Gana, Mpu Baradah yang disebut Panca Pandita. Rsi Markandya, Mpu Sidimantra, Mpu Angsoka, Mpu Niratha, Ida Dalem Sidakarya, termasuk para leluhur Majapahit. Oleh karena itu, maka dinamakan Purohita Pura yang merupakan tempat tapa brata yoga semadi orang-orang suci zaman dahulu.
Di areal Pura terdapat sumber air yang berasal dari pertemuan delapan sungai dan dijadikan tempat malukat yang membawa tuah masing-masing sesuai dengan delapan arah dalam Astha Kosala-Kosali. Panglukatan ini dikenal dengan nama Astha Gangga. Untuk itu mari kita bersama-sama turut serta menjaga dan melestarikan Purohita Pura sebagai salah satu tujuan wisata spiritual dan wisata budaya nusantara.
Sumber: Koran Bali Post, Senin Paing 18 Januari 2016