"Padudusan Agung" di Pura Goa Lawah

Semarapura - Bertepatan dengan rahina Anggarakasih Medangsia, Pura Goa Lawah kembali melaksanakan karya padudusan agung. Prosesi puncak karya di salah satu pura kahyangan jagat itu, bakal dilaksanakan Selasa (4/8) besok dan nyejer selama tujuh hari. Bendesa Pura Goa Lawah dr. Bagus Darmayasa, Minggu (2/8) kemarin, mengatakan, serangkaian karya padudusan agung dilaksanakan upacara melasti di segara setempat. Melasti dimaksudkan untuk menyucikan pralingga Ida" Batara, di Pura Goa Lawah, diiringi ratusan umat Hindu di Desa Pesinggahan. Mereka khusyuk melaksanakan persembahyangan, di-puput Ida Pedanda Gede Keniten dari Gria Dawan Klod. Setelah melasti, dilaksanakan ritual mapepada guna menyucikan sejumlah hewan (wewalungan) yang akan digunakan sebagai sarana upakara, di antaranya kerbau, bebek, angsa, kambing hitam, dan penyu.

Puncak karya rencananya di-puput Ida Pedanda Gede Keniten dan Ida Pedanda Istri Keniten dari Gria Dawan Klod, serta Ida Pedanda Budha dari Gria Wanasari. Oleh karena itu, karya padudusan agung ini diharapkan disambut umat dengan bersama-sama melaksanakan persembahyangan selama Ida Batara nyejer di Pura Goa Lawah.

Meski pelaksanaan melasti dan warga yang melaksanakan upacara nyegara gunung berlangsung bersamaan, keduanya dapat berjalan dengan lancar. "Sudah kami antisipasi, termasuk menyiapkan dua bale pawedaah," terang Darmayasa. Karya padudusan agung dilaksanakan setiap tahun sekali. Di Pura Goa Lawah juga dilaksanakan upacara padudusan alit enam bulan setelah pelaksanaan karya padudusan agung.

Parkir yang selalu menjadi kendala pada piodalan dapat diatasi. "Kami sudah sediakan tiga tempat parkir luas, biar tidak ada parkir di pinggir jalan, sehingga lalu lintas di sekitar pura tidak terganggu," katanya. Selain itu, pihaknya juga aktif berkomunikasi dengan kepolisian. Tiga hari sebelum puncak piodalan, pihak kepolisian sudah melakukan pengamanan di sekitar lokasi.

Sumber: Koran Bali Post, Senin Wage, 3 Agustus 2015