Panca Wali Krama di Pura Agung Sri Wijaya Palembang

Palembang - Prosesi Tawur Panca Wali Krama  digelar di Pura Agung Sri Wijaya, Kota Pelembang, Sumatera Selatan, Minggu (9/4/2017) kemarin. Prosesi 10 tahunan ini baru pertama kali digelar di Indonesia. Prosesi ini dilanjutkan dengan prosesi Pujawali Purnama Kedasa, Selasa (11/4/2017) besok. Pada puncak Pujawali juga digelar pwaintenan massal dan juga metatah massal akan dilaksanakan (14/42017).

Sebanyak 11 sulinggih akan muput upacara yang dipersiapkan sejak Januari lalu dengan alokasi biaya Rp.2 miliar. Adapun sebaga yajamana Ida Pedanda Gede Putra Tembau dari Geria Aan Klungkung dan tapini Ida Pedanda Gayatri Patni. Sebelumnya pada 6 dan 7 April dilakukan melasti ke segara, mapepada dan memben banten tawur. Diperkirakan 70 ribu jiwa umat Hindu dari 10 Kabupaten dan 3 Kota di Sumatera Selatan ini terlibat pada prosesi yadnya suci ini.

Sepuluh tahun yang lalu tepatnya pada 2007 dilangsungkan upaca ngenteg linggih pada Pura Agung Sri Wijaya yang dibangun pada tahun 1982. Pada prosesi tawur Minggu kemarin dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Selatan Ir. Ishak Mekki, MM., Walikota Palembang H. Harnojoyo, Ketua Bidang Keagamaan dan Spiritualitas Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Ir. Dewa Putu Sukardi, S.Ag., MBA, Dirjen Biman Hindu Prof. Drs. Ketut Widnya, MA., Ph.D.

Wakil Gubernur Ishak Mekki memberikan apresiasi dan mendukung penuh umat Hindu di Kota Palembang melakukan prosesi Panca Wali Krama. "Pemprov Sumsel sangat menjaga kerukunan. Ini tercermin dengan dukungan dan support kami. Kami bangga karena bukan saja umat dari Sumsel, juga dari Jawa, Bali, bahkan NTB ikut ambil bagian. Apalagi yadnya ini yang pertama kali di luar Bali. Sumsel selalu memang yang pertama sepeti Asean Games, SEA Games," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Keagamaan dan Spiritualitas Pengurus Harian PHDI Pusat Ir. Dewa Putu Sukardi, S.Ag., MBA mengatakan, pada intinya prosesi upaca keagamaan umat Hindu ini menjaga hubungan yang ada di dunia. Baik itu hubungan manusia dengan tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam yang harus tetap terjaga dengan baik.

"Upacara Panca Wali Krama ini adalah upacara kegiatan mensucikan bumi dan alam. Kegiatan ini adalah kegiatan agama Hindu terbesar yang digelar di Pulau Bali. Kalau di Bali sudah biasa sering digelar, baik itu lima tahun sekali, 10 tahun sekali, bahkan seratus tahun sekali. Jadi kegiatan umat Hindu di Palembang ini terbesar di Pulau Bali yang umat Hindu datang sekitar 30 ribu orang secara bergelombang," ujarnya

Dalam dharma wacananya, Dirjen Bimas Hindu Prof. Drs. Ketut Widnya, MA., Ph.D menyatakan, rasa bangganya karena umat Hindu di Sumsel bisa melaksanakan prosesi Panca Wali Krama yang pertama di luar Bali. Ini merupakan upacara besar setiap 10 tahun sekali, kemudian 10 kali upacara ini digelar Eka Dasa Rudra setia 100 tahun sekali.

Kata Dirjen, dalam siklus waktu muncul disharmoni alam semesta, penyucian kembali pada harmoni itu dilangsungkan upacara ini. Prosesi ini bukan saja mengaplikasikan yantra dan mantra tetapi berisi ajaran tantra. Disadari, prosesi ini adalah formulasi upakara yang pelaksanaannya sangat rumit. Karena itu perlu umat mendedikasikan semangatnya secara total, tidak saja rasa bhakti-yoga juga karma-yoga serta jnana-yoga. "Jadi semuanya terintegrasi dalam cipta, rasa, karya yang indah menjadi formulasi yadnya sangat suci," ujar Prof. Widnya.

Sebelumnya Ketua Panitia I Gusti Bagus Surya Negara melaporkan, upacara Panca Wali Krama bertujuan menyucikan alam semesta dan menyucikan diri, dan diharapkan vibrasi kesuciannya menyebar ke seluruh umat Hindu, warga, dan alam Sumatera Selatan bahkan nusantara.

Source: Koran Bali Pots, Senin Kliwon, 10 April 2017