
Denpasar - Mengharukan, itulah kalimat awal tulisan ini. Seperti sejarah yang berulang. Lima dekade lalu saat para tokoh dan cendekiawan Hindu memulai meletakkan dasar-dasar menata bangunan kehidupan keagamaan di pulau Bali. Merekapun memulai dari keinginan filsafat, kaedah Tattwa dan aturan aturan Upakara yang penuh kebhinekaan, dan mesti ditata menuju aturan yang lebih 'damai' sejalan dengan adat, masyarakat dan hukum positif Negara. Bali (Hindu Bali, red) saat itu seperti membawa aturan sendiri-sendiri. Yang mengikat satu sama lain hanyalah konsep trimatra yang tak tertulis dan menjadi adagium yang diyakini hingga kini. Desa, Kala, Patra. Sekali lagi sejarah kini berulang, Banyu Pinaruh 29 Nopember 2015 mencatat tiga tiang pancang gerakan moral keagamaan mulai ditata kembali.
Pavillium Wartam, di'centre peace' Gedong Tiga telah diprayascita atawa diresmikan oleh para tokoh Hindu yang mewakili Birokrasi, tokoh masyarakat, kalangan intelektual kampus dan praktisi keagamaan. Jalur-jalur diharapkan mampu memberi ruang lebih luas para pemerhati Hindu, kalangan cendekiawan akademisi dan para penglingsir untuk selalu berperan dalam mengasah konsep, gagasan (Gedong cita) mengapresiasi karya sastra (Gedong Sastra) serta tak jemu-jemu melakukan riset-riset dalam mendorong kemajuan dan perkembangan Hindu Dharma (Gedong Pustaka).
Menjadi genap ritual peresmian Gedong tiga ini karena Ida Pedanda Putra Yoga diiringi Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Pusat, S.N. Suwisma, Dirjen Bimas Hindu, Prof. Kt. Widnya dan DR. I B. Dharmika, Rektor UNHI Denpasar menandatangani Testimoni Pilar Gedongtiga, sebagai simbolis dimulainya tonggak baru pemikiran, perkataan dan perbuatan dharma, yang dikemas dalam visi dan misi Gedong Tiga.
Para awak team Wartam kini boleh berbangga karena kini Majalah pembawa motto 'jurnalisme Tattwa' ini telah menempati Pavilium baru. Karenanya diperlukan bara lebih semangat dan kerja keras team yang luar biasa, agar tujuan utama untuk mewujudkan konsep dan cita-cita pelestarian budaya dan agama Hindu secara berkelanjutan bisa terealisasi. Seterusnya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk membuka mata dan mengungkap makna dalam kecintaannya terhadap budaya dan agama Hindu sesuai dengan semboyan Majalah Wartam, mengajak masyarakat luas turut berkontribusi minimal ikut menyuarakan Dharma, itulah salah satu tujuan Majalah Wartam di bangun.
Peresmian Pavilium Wartam di komplek Gedong Tiga Jin. Nangka 23 Denpasar terlaksana dengan sukses, dihadiri pula oleh Ida Pedanda Putrayoga, S.N. Suwisma (Ketua PHDI Pusat), Prof. Ketut Widnya (Dirjen Hindu), Dr. IB Dharmika (Rektor UNHI). Selanjutnya rangkaian acara dilanjutkan dengan acara workshop Jurnalistik selama 3 hari berturut-turut dengan harapan membuka wawasan dan berbagi sekelumit ilmu jurnalisme bagi peserta.
Kantor baru Wartam di konsep sedemikian rupa, dan diberi nama yang unik dan tidak asing ditelinga orang Bali, yaitu Gedong Tiga. Dalam literature masyarakat Bali, Gedong Tiga identik dengan Rong Telu dimana Roh Suci para leluhur orang Bali distanakan, dan juga disebut Kawitan yaitu asal muasal yang tidak boleh dilupakan, dan juga diartikan Kahyangan Tiga yang berada dalam lingkungan keluarga atau dilingkungan masyarakat terkecil.
Maksudnya adalah agar kita selalu ingat akan kebesaran Tuhan dalam kaitannya dengan hutang kita yang disebut Tri Rnam, yaitu kepada Sanghyang Widhi Wasa, sebagai pencipta yang telah memberikan kesehatan dan keselamatan dengan segala kebutuhan hidup, hutang kepada leluhur, terutama kepada orang tua yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan kita, hutang kepada Rsi, yang telah berjasa mengajarkan kepada kita mengenai Agama, Kebudayaan dan lain sebagainya.
Dengan adanya pelinggih Rong Tiga, baik secara langsung maupun tidak langsung, kita telah diajarkan agar selalu melakukan Yadnya yang paling kecil, tujuan Yadnya adalah untuk menanamkan kesucian dan keimanan. Begitulah misi Wartam yaitu untuk berpikir berkata dan berbuat dharma (beryadnya).
Dengan adanya kantor baru Majalah Wartam secara tidak langsung membawa semangat baru dan harapan baru. Dimana tempat juga mengesankan prestise dan setidaknya membawa identitas dimana informasi itu diproduksi, dikemas dan disajikan sehingga menarik untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas yang haus akan informasi budaya dan agama Hindu khususnya. Disamping itu pula, kantor baru Majalah Wartam yang nyaman akan berpengaruh pada kualitas kerja team dalam hal ini redaktur dalam menyajikan informasi kehadapan publik.
Kreatifitas team dalam mengkonsep tata ruang yang unik dan kreatif, dimana disedia-kan tempat ngobrol atau berdis-kusi sambil ngopi bareng, berha-rap setiap obrolan mendatangkan atau memunculkan ide-ide krea-tif, gagasan-gagasan yang bersi-fat membangun dalam pelestarian Budaya dan agama Hindu. Hal yang menarik lainnya dari kantor Majalah Wartam adalah adanya Gedong Sastra yaitu disediakannya perpustakaan kecil dan penjualan buku yang berkaitan dengan budaya, artinya dengan adanya gedong sastra setidaknya redaktur bisa menggali informasi seputar informasi budaya dan agama. Kedepan semoga bisa diperluas dan dilengkapi referensi buku bacaannya seiring tuntutan informasi dalam melengkapi bahan dalam keperluan j urnalis-tik.
Dengan terwujudnya kantor baru berharap dapat membangun komunitas yang luas bagi pemerhati, pencinta budaya dan agama Hindu, dimana pada saat ini pemahaman budaya yang baik menjadi suatu urgensi, karena secara garis besar paradigma budaya memiliki makna kerangka berpikir tentang budaya, cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Sehingga apa yang menjadi slogan Majalah Wartam yaitu berpikir, berkata, dan berbuat dharma dapat terwujud, selain itu secara tidak langsung mengajak masyarakat luas untuk memahami Budaya dan Agama Hindu untuk membuka mata menangkap makna, membuka mata mengungkap rasa, membuka mata menuntun jiwa.
Source: Putu Wawan l Wartam Edisi 10 l Desember 2015