
Bangli - Upacara Ngusabha Posa yang dilaksanan oleh masyarakat Desa Kayubihi, Bangli tidak hanya dipercantik dengan pagelaran tradisi Perang Taluh. Namun, dalam upacara keagamaan yang sempat fakum selama 22 tahun ini juga hadir tradisi unik yakni Perang Lidi yang dilakukan, Rabu (29/7) malam. Sebelum acara perang dimulai sekitar pukul 19.00 Wita, seluruh peserta yakni Jero Truna, Desa Pamuit dan Desa Uduhan terlebih dahulu melakukan persembahyangan.
Pada prosesi ini seluruh peserta tetap memakai pakaian adat. Berbeda dengan Perang Taluh yang hanya memakai kamen dan udeng saja. Setelah persembahyangan selesai, seluruh peserta diizinkan mengambil lidi yang berasal dari daun enau yang telah dikumpulkan sebelumnya. Untuk peserta umum menggunakan tiga batang lidi. Sementara untuk para panglingsir jumlah lidi yang dipergunakan sebanyak lima batang dengan beralaskan daun dapdap.
Setelah seluruhnya mendapatkan lidi, peserta ini dibagi menjadi dua kubu dan perang pun langsung dimulai. Lidi yang digenggam itu langsung dihentakkan. Posisi peserta perang tidak selamanya berhadap-hadapan. Namun, berjalan beberapa detik, seluruh peserta langsung membentuk lingkaran dan semakin merapat. Saat itu suasana gembira sangat terasa. Meskipun merasakan sakit, perang lidi ini tetap diwarnai dengan tawa dan sorak dari peserta dan penonton. Dalam perang yang berlangsung beberapa menit ini tidak sedikit pula warga yang pontang-panting dan terpaksa menghindar agar tidak terkena pecutan lidi lawan.
Salah seorang peserta, Merta Suteja, mengatakan tradisi ini merupakan warisan leluhur yang sudah lama tak pernah digelar. Ia pun mengaku merasakan sedikit sakit saat terkena pecutan lidi. Namun, karena semangat dan rasa persaudaraan yang tinggi, rasa sakit itu tidak terasa. Yang muncul justru rasa ingin kembali mencoba. Tradisi ini sempat diikuti saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dan itu pun merupakan pengalaman yang pertama kalinya. "Rasanya sedikit sakit saat kena pecutan lidi. Tetapi karena sambil bersorak dan tertawa, rasa sakit itu tidak terasa. Justru ingin mencoba lagi," ujarnya.
Sementara itu, Bendesa Adat Kayubihi I Wayan Sadia menuturkan, dalam tradisi perang Udi ini, kesabaran dan rasa persaudaraan masyarakat dapat dilihat. Masyarakat tidak ada yang menunjukkan rasa marah. Semua masuk dalam suasana keakraban. "Rasa kegembiraan diluapkan di sini. Begitu juga dengan rasa persaudaraan sangat terlihat. Meski kena lidi, tidak ada yang marah," pungkasnya.
Sumber: Koran Bali Post, Jumat Umanis, 31 Juli 2015