
Denpasar - Tamiang adalah lambang permohonan kepada Tuhan agar selalu diberi perlindungan dalam menjalankan kehidupan setelah memenangkan dharma melawan adharma pada Galungan. Tamiang bisa diidentikkan sebagai jejahitan yang selalu ada dan dijual tiap menjelang Hari Raya Kuningan. Bentuknya bulat dengan diameter berbeda-beda dan dihias sedemikian rupa.
Seluruh umat Hindu pada saat merayakan hari raya Kuningan menggunakan tamiang. Para umat membuat Tamiang sesuai dengan kreasi yang bisa mereka buat. Tamiang sendiri mengandung makna sebagai lambang permohonan kepada Tuhan agar selalu diberikan perlindungan dalam menjalankan kehidupan.
“Tamiang berasal dari kata tameng, yang artinya perlindungan. Bentuknya yang bulat melambangkan cakra sebagai senjata dari Dewa Wisnu yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelindung dunia,” kata Ketua PHDI Bali, Prof I Gusti Ngurah Sudiana belum lama ini, seperti dikutip dari tribunbali.com, 25 Juli 2015
Guru Besar IHDN Denpasar ini, mengatakan, intinya tamiang berbentuk bundar dan mencerminkan 8 penjuru mata angin, walaupun dikreasikan dengan berbagai warna dan motif ketika dijarit oleh kaum wanita Hindu.
Hal ini agar sesuai dengan intisari dari makna tamiang sebagai Cakra yang melindungi dunia. “Tamiang ini diletakkan di pojok kaja kauh rumah,serta masing-masing pelinggih,” jelasnya.
Selain itu, pada hari raya Kuningan ini, PHDI Bali mengimbau umat Hindu agar tetap melaksanakan sradha bakti yang tulus ikhlas kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Tujuannya agar persembahan yang kita haturkan memiliki kualitas dan nilai satwika, sehingga berkah untuk semuanya,” katanya.
Di era globalisasi, ia berharap ini umat Hindu mampu mengamalkan nilai-nilai hari raya Kuningan dengan baik, khususnya dalam mengendalikan diri dengan hidup rukun dan saling membantu sesama umat Hindu dan umat lain. Juga selalu waspada, mawas diri dan instropeksi diri untuk menjaga perdamaian dalam mewujudkan Bali yang jagadhita.
Sumber: tribunbali.com