
Semarapura - Meningkatnya umat non-Hindu melaksanakan upacara Sudhiwadani mendapat perhatian PHDI Klungkung. Buktinya, PHDI Klungkung mulai menyusun buku penuntun bagi umat Hindu pemula. Sebelum buku tersebut diluncurkan, PHDI menggelar lokakarya di ruang Praja Mandala Kantor Bupati Klungkung, Jumat (31/7) kemarin.
Lokakarya diikuti 75 peserta yang terdiri dari unsur PHDI kabupaten, kecamatan, tokoh masyarakat dari tiga kecamatan, yakni Dawan, Klungkung dan Banjarangkan yang masing-masing menghadirkan delapan orang.
Lokakarya dibuka Wakil Bupati Klungkung I Made Kasta diawali pemukulan gong. Materi diberikan Sekretaris PHDI Klungkung I Ketut Ardana, sedangkan sebagai pembahas atau pembanding hadir Ida Pedanda Gede Wayahan Keniten (Wakil Dharma Upapathi Paruman Pandita PHDI Klungkung), Ida Sire Mpu Dharma Kumala (anggota Paruman Pandita PHDI Klungkung), dan Ketut Wiana dari unsur PHDI Pusat. Tidak ketinggalan Ketua PHDI Klungkung I Ketut Suartana, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), Kabag Kesra Wayan Winata, dan tokoh masyarakat.
Ketua Panitia Wayan Su-kandia mengatakan, lokakarya dilaksanakan untuk memformulasikan struktur, sistematika, dan materi buku penuntun bagi umat Hindu pemula. Melalui lokakarya ini diharapkan seluruh peserta dapat mengkritisi isi buku sehingga dihasilkan buku yang baik dan benar.
Apalagi, buku yang dibahas memberikan manfaat bagi umat Hindu pemula termasuk dapat digunakan sebagai pedoman dalam melaksanakan ajaran Hindu sehari-hari bagi pengurus PHDI dan pemuka Hindu lainnya. "Buku penuntun ini juga dapat digunakan sebagai acuan dalam memberikan dharma wacana pada saat berlangsungnya upacara Sudhiwadani, menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang ajaran agama yang dipedomani oleh umat Hindu," ujarnya.
Wabup Kasta mengatakan, pelaksanaan lokakarya Buku Pedoman Bagi Umat Hindu Pemula yang digagas oleh PHDI Klungkung merupakan salah satu bentuk media dan sarana dalam upaya memvi-sualkan ajaran dan nilai-nilai sastra agama Hindu. Ia sangat mengapresiasi acara ini sebagai salah satu upaya menjawab tantangan umat Hindu di masa mendatang khususnya dalam era globalisasi. Panitia pembuat buku diminta menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami dan dimengerti.
Sumber: Koran Bali Post, Sabtu Paing, 1 Agustus 2015