
Denpasar - Salah satu Pura Dang Khayangan yang berada di Negara adalah Pura Dang Khayangan Jati, Pura yang berada di wilayah Desa Pengambangan, sekitar empat kilometer arah selatan dari Kota Negara ini kini secara bertahap mengalami renovasi.
Areal pura yang berada di daerah gersang ini memiliki luas sekitar 47 are. Sesuai namanya, pura ini memiliki keistimewaan pada pohon jati yang berada di dalam areal pura.
Pura ini erat kaitannya dengan perjalanan Dang Hyang Niratha di Pulai Bali. Di bagian utama untuk persembahyangan juga terdapat bale banten serta bangunan bale gong, bale piasam serta gedong busana. Empat pohon jati berumur ratusan tahun juga berada diareal pura. Menurut Klian Pengempon, Ketut Astika Jaya, terdapat keistimewaan pada pohon jati tersebut.
Selain tidak bisa dicarri bibit jatinya, ranting-rantiag pohon yang sudah berumur ratusan tahun itu tidak pernah jatuh menimpa Padmasana yang berada di bawahnya.
Selama kurun waktu empat tahun terakhir ini, pura tersebut mengalami perbaikan baik di areal nista, madya mandala, hsdigga utama mandala. Di madya mandala terdapat bale pesandekan, kori agung dan apit lawang bale kulkul dan dapur. Di nista mandala terdapat wantilan serta tempat parkir yang sekarang cukup luas. Pura juga mendapatkan bantuan dari Bupati Jembrana untuk membangun pagar alas mengelilingi areal pura dan candi bentar.
Dalam lima tahun ke depan, pura ini rencananya dipugar di bagian utama mandala khususnya padmasana menggunakan batu hitam. Selain saat piodalan, pura yang di-empon empat desa pakraman di Kecamatan Negara ini juga ramai dengan pamedek saat purnama. Di Bagian utama mandala terdapat tujuh bangunan pura di antaranya Padmasana, Meru Tumpang Tiga, Pepelik, Sri Sedana pengayat Ulun Danu, Taksu, Gedong Pasimpenan dan Pangulurah. Bangunan yang saat ini sedang dikerjakan adalah gedong pasimpenan.
Empat desa pakraman yang mengempon pura adalah Desa Pakraman Tegal Badeng Kauh, Tegal Badeng Kangin, Lelateng dan Puseh Agung (Banjar Tengah). Sementara itu, piodalan di pura in setiap Soma Pon, Wuku Sinta.
Sumber: Koran Bali Post, Minggu Umanis, 21 Juni 2015